Kisah Hidup Masyitoh: Pelayan Istana Firaun, Wanginya terdengar Saat Rosulullah Isra Miraj
Di antara gemerlap istana Firaun
yang megah, hiduplah seorang wanita bernama Masyitoh. Ia bukan seorang putri
atau bangsawan, melainkan seorang pelayan yang bertugas menata rambut putri
sang raja yang mengaku dirinya tuhan. Namun, di balik kesederhanaannya,
Masyitoh menyimpan sebuah harta yang tak ternilai harganya: keimanan yang teguh
kepada Awloh Yang Maha Esa. Kisahnya bagai aroma harum yang semerbak, tercium
hingga kini, menginspirasi generasi demi generasi tentang keteguhan hati dan
pengorbanan demi keyakinan.
Masyitoh, seorang wanita biasa
dengan pekerjaan sederhana, menjalani hari-harinya di bawah bayang-bayang
kekuasaan Firaun yang zalim. Istana itu penuh dengan kemewahan, namun juga
dipenuhi dengan ketakutan dan kepatuhan buta pada sang raja yang mengaku
dirinya sebagai tuhan. Di tengah lingkungan yang serba menekan ini, Masyitoh
tumbuh menjadi seorang wanita yang taat dan beriman. Keluarganya telah lama
mengabdi di istana, sebuah tradisi yang mungkin memberinya kedekatan dengan
keluarga kerajaan. Namun, kedekatan ini justru menjadi ujian berat ketika
keyakinan Masyitoh bertentangan dengan kepercayaan yang dianut keluarga
penguasa.
Hati Masyitoh telah terpaut pada
ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa, ajaran tentang keesaan Awloh. Bersama
suaminya, Hazaqil, ia diam-diam memeluk Islam, menyembah Awloh semata dan
menolak klaim ketuhanan Firaun. Keimanan mereka adalah sebuah rahasia yang
dijaga rapat-rapat, sebuah nyala kecil yang harus dilindungi dari angin
kekejaman istana. Namun, badai tirani Firaun tak mengenal ampun. Hazaqil, suami
tercinta Masyitoh, diketahui sebagai pengikut Nabi Musa dan harus meregang
nyawa di tangan Firaun. Peristiwa tragis ini tentu saja mengguncang jiwa
Masyitoh. Kehilangan orang yang dicintai karena iman yang sama bisa saja
membuatnya gentar dan menyembunyikan keyakinannya. Namun, yang terjadi justru
sebaliknya. Kesyahidan suaminya mungkin semakin memantapkan hatinya, membuatnya
semakin teguh untuk berpegang pada kebenaran yang diyakininya.
Dalam kesendirian dan
kesedihannya, Masyitoh menemukan teman senasib dan seperjuangan, yaitu Asiyah,
istri Firaun sendiri. Diam-diam, Asiyah juga telah beriman kepada Awloh dan
ajaran Nabi Musa. Mereka berdua berbagi rahasia, menguatkan satu sama lain
dalam menghadapi lingkungan istana yang penuh tekanan. Keberadaan orang-orang
beriman di jantung istana Firaun menunjukkan bahwa seruan tauhid telah
menyentuh hati beberapa jiwa, bahkan di tengah kekuasaan yang absolut. Ini
menjadi bukti bahwa kebenaran akan selalu mencari jalannya, meskipun
tersembunyi.
Suatu hari, ketika Masyitoh
sedang menyisir rambut putri Firaun, sebuah kejadian kecil namun penting
terjadi. Sisir yang dipegangnya terlepas dan jatuh. Secara spontan, Masyitoh
mengucapkan "Bismillah," sebuah ungkapan yang memuliakan nama Awloh.
Putri Firaun yang terbiasa dengan sanjungan dan pengakuan ketuhanan ayahnya,
terkejut mendengar ucapan itu. Ia bertanya dengan heran, apakah Masyitoh
menyebut nama ayahnya. Dengan tenang namun tegas, Masyitoh menjawab bahwa ia
tidak merujuk kepada Firaun, melainkan kepada Awloh, Tuhan yang sebenarnya,
Tuhannya, dan juga Tuhan Firaun. Ucapan ini bagai petir di siang bolong, sebuah
tantangan langsung terhadap kekuasaan dan keangkuhan Firaun.
Putri Firaun yang terkejut dan
marah segera melaporkan kejadian itu kepada ayahnya. Firaun murka mendengar
berita tentang keberanian seorang pelayan yang menolak menyembahnya. Ia segera
memanggil Masyitoh dan menuntut penjelasan. Di hadapan raja yang berkuasa dan
bengis, Masyitoh berdiri teguh, tidak sedikit pun gentar. Dengan suara lantang,
ia kembali menyatakan keimanannya kepada Awloh, satu-satunya Tuhan yang patut
disembah. Keteguhan Masyitoh membuat Firaun semakin murka. Ia tidak menyangka
akan ada orang yang berani menentangnya di dalam istananya sendiri.
Amarah Firaun mencapai puncaknya.
Ia memerintahkan para algojonya untuk menyiapkan sebuah kuali besar yang diisi
dengan air atau minyak mendidih. Pemandangan mengerikan itu disiapkan di
hadapan Masyitoh dan anak-anaknya yang masih kecil. Firaun berharap, dengan
menyaksikan siksaan yang mengerikan, Masyitoh akan ketakutan dan menarik
kembali perkataannya. Ia ingin menghancurkan iman wanita itu dengan cara yang
paling kejam.
Dimulailah sebuah adegan yang
sangat menyayat hati. Firaun memerintahkan agar anak-anak Masyitoh dilemparkan
satu per satu ke dalam kuali mendidih. Jeritan anak-anak yang kesakitan dan
tangisan Masyitoh yang pilu memecah keheningan istana. Namun, di tengah
penderitaan yang luar biasa, iman Masyitoh tidak goyah. Ia tetap teguh pada
keyakinannya, menolak untuk mengingkari Awloh demi menyelamatkan nyawanya
sendiri. Ia menyaksikan satu per satu buah hatinya menjadi korban kekejaman Firaun,
namun hatinya tetap berpegang pada tali Awloh.
Tibalah giliran anak bungsunya,
seorang bayi yang masih menyusu. Saat melihat bayi mungilnya akan dilemparkan
ke dalam kuali, hati Masyitoh sempat bergetar. Naluri seorang ibu membuatnya
ragu sejenak. Namun, keajaiban terjadi. Atas izin Awloh, bayi itu berbicara
kepada ibunya. "Wahai ibuku, bersabarlah. Sesungguhnya siksaan dunia ini
ringan dibandingkan dengan azab akhirat," kata bayi itu dengan suara kecil
namun jelas. Kata-kata ajaib dari mulut bayinya itu kembali menguatkan hati
Masyitoh. Ia menyadari bahwa penderitaan yang ia alami hanyalah ujian
sementara, dan pahala yang menantinya di surga jauh lebih besar dan abadi.
Dengan hati yang pasrah dan iman
yang membara, Masyitoh kemudian melompat ke dalam kuali mendidih bersama dengan
bayi yang ada di gendongannya. Ia memilih mati syahid demi mempertahankan
imannya kepada Awloh. Pengorbanan Masyitoh dan anak-anaknya mencapai puncaknya.
Saat mereka meregang nyawa, sebuah keajaiban lain terjadi. Dari dalam kuali
yang mendidih itu, tercium aroma yang sangat harum dan wangi, bagaikan minyak
misk yang semerbak. Aroma itu menyebar ke seluruh istana, menjadi saksi bisu
atas kesucian jiwa Masyitoh dan keluarganya.
Sebelum menghembuskan napas
terakhir, Masyitoh sempat meminta kepada Firaun agar tulang-belulangnya dan
tulang-belulang anak-anaknya dikumpulkan dan dikuburkan bersama. Anehnya,
Firaun yang kejam itu mengabulkan permintaan terakhirnya. Mungkin ada sedikit
rasa hormat atau keheranan di hatinya atas keteguhan iman wanita itu.
Kisah Masyitoh tidak berhenti di
situ. Berabad-abad kemudian, Nabi Muhammad menceritakan sebuah pengalaman luar
biasa saat melakukan Isra' Mi'raj, perjalanan malam dari Masjidil Haram ke
Masjidil Aqsa dan kemudian naik ke langit. Dalam perjalanan itu, beliau mencium
aroma yang sangat harum dan wangi. Ketika bertanya kepada Malaikat Jibril
tentang aroma tersebut, Jibril menjawab, "Wahai Rasulullah, itu adalah aroma
Masyitoh dan anak-anaknya."
Kisah Masyitoh yang harum namanya
ini tercatat dalam berbagai kitab Hadis, termasuk Musnad Imam Ahmad. Para ulama
menjadikannya sebagai contoh teladan tentang keteguhan iman, kesabaran dalam
menghadapi cobaan, dan pengorbanan demi keyakinan. Meskipun ada beberapa
perdebatan mengenai keaslian riwayat tentang aroma harum saat Isra' Mi'raj,
kisah inti tentang kesyahidan Masyitoh karena imannya tetap menjadi inspirasi
bagi umat Islam di seluruh dunia.
Kisah hidup Masyitoh adalah
sebuah kisah tentang cahaya iman yang tidak pernah padam, bahkan di tengah
kegelapan tirani. Ia adalah simbol keberanian seorang wanita yang memilih untuk
setia kepada Awloh meskipun harus mengorbankan nyawanya dan nyawa anak-anaknya.
Aroma harum kesyahidannya terus mewangi dalam sejarah Islam, mengingatkan kita
akan kekuatan iman yang sejati dan pahala abadi yang menanti orang-orang yang
sabar dan teguh dalam menghadapi ujian. Masyitoh adalah bukti bahwa kebaikan
dan kebenaran akan selalu menang, meskipun jalan yang harus dilalui penuh
dengan duri dan air mata. Kisahnya akan terus diceritakan, diwariskan dari
generasi ke generasi, sebagai pengingat akan pentingnya memegang teguh iman dan
keyakinan kepada Awloh dalam segala situasi.
Demikianlah kisah ini
diceritakan, semoga dapat menghibur dan menambah wawasan, segala kebenaran
detailnya, kita kembalikan kepada Awloh, tuhan pemilik kisah kehidupan.
Komentar
Posting Komentar