Legenda Putri Ular: Cerita Sedih dari Telaga di Simalungun, Cerita Rakyat Sumatera Utara

 




Dahulu kala, di daerah perbukitan yang hijau dekat Danau Toba di Sumatera Utara, ada sebuah kerajaan kuno yang kaya bernama Simalungun. Kerajaan ini sangat damai dan teratur. Adat istiadat Simalungun dijaga dengan baik, ada musik dan tarian, juga kain tenun khas yang disebut ulos. Rajanya sangat baik hati dan bijaksana. Ia memimpin dengan adil dan selalu mendengarkan rakyatnya. Karena itu, rakyat hidup sejahtera dan bahagia.

Raja ini punya harta yang paling ia sayangi, yaitu putri satu-satunya. Tidak semua cerita menyebut namanya, tapi semua setuju kalau dia sangat cantik luar biasa. Kulitnya halus, rambutnya hitam panjang dan berkilau, matanya indah seperti bintang. Senyumnya bisa membuat orang senang. Kecantikannya terkenal sampai ke mana-mana, bahkan sampai ke kerajaan lain. Putri ini tumbuh disayang, kadang sedikit manja, tapi ia anak yang baik dan hormat pada orang tua. Dia tahu dirinya cantik, kadang sedikit bangga, tapi belum sadar kalau kecantikan itu bisa jadi beban. Ibunya, sang Ratu yang bijak, sering menasihatinya dengan lembut, "Wajah cantik itu hadiah, Anakku, tapi hati yang baik itu lebih penting dan bertahan lama. Jaga keduanya baik-baik."

Kabar tentang putri cantik dari Simalungun ini terdengar sampai ke kerajaan seberang lautan yang kuat. Raja muda di sana, yang terkenal tampan, berani, dan punya banyak keinginan, langsung tertarik. Dia membayangkan sang putri jadi istrinya yang sempurna, yang akan membuat kerajaannya makin hebat. Cepat-cepat, dia mengirim kapal-kapal besar membawa utusan dan banyak hadiah mahal untuk melamar sang putri. Utusan itu disambut dengan meriah di istana Simalungun. Raja Simalungun berpikir baik-baik. Lamaran ini bagus bukan hanya karena raja muda itu hebat, tapi juga karena bisa membuat kedua kerajaan bersahabat dan hidup damai lebih lama. Setelah bicara dengan penasihat dan Ratu, Raja setuju menerima lamaran itu. Dia merasa ini adalah nasib baik untuk putrinya dan kerajaannya.

Waktu putri mendengar kabar ini, hatinya senang bukan main. Dia membayangkan betapa hebatnya nanti jadi ratu di kerajaan seberang, menikah dengan raja muda yang gagah. Wajahnya sampai merah karena malu dan bahagia, senyumnya tidak hilang-hilang. Dia mulai membayangkan pesta pernikahan yang paling besar, memakai baju paling bagus, dan hidup baru yang enak. Malamnya, Raja memanggil putrinya. Dengan tatapan sayang tapi juga serius, Raja berkata lembut, "Anakku sayang, Ayah ikut senang dengan nasib baikmu ini. Kamu akan memulai hidup baru di negeri orang. Tapi ingat pesan Ayah. Pernikahan ini penting buat dua kerajaan. Sebentar lagi hari pernikahanmu, jadi jaga dirimu baik-baik, luar dalam. Jangan sampai ada masalah sekecil apa pun. Jangan sampai ada hal yang merusak kebahagiaan kita semua. Janji ya sama Ayah." Sang putri, yang masih sangat gembira, mengangguk. "Putri janji, Ayah. Putri akan jaga diri baik-baik demi Ayah, Ibu, dan kerajaan kita." Tapi diam-diam dia merasa ayahnya agak berlebihan. 'Memangnya ada bahaya apa di istana yang aman ini?' pikirnya.

 

Persiapan pernikahan pun dimulai dengan sangat ramai. Penenun terbaik membuat kain ulos paling bagus. Tukang emas membuat perhiasan yang berkilau. Dapur istana sibuk menyiapkan makanan enak untuk pesta berhari-hari. Kabar baik ini menyebar ke seluruh negeri, membuat rakyat ikut senang. Mereka berharap pernikahan ini membawa keberuntungan. Sang putri sendiri makin sibuk dengan urusannya. Dia memilih kain, mencoba perhiasan, dan terus membayangkan hari pernikahannya.

Di tengah kesibukan itu, sang putri tetap melakukan kebiasaan paginya: mandi dan berdandan di telaga yang tenang di belakang taman istana. Telaga itu tempatnya menyendiri, airnya jernih sekali seperti kaca, dikelilingi pohon-pohon rindang. Suasananya damai, ada suara burung, bau bunga, sangat menenangkan. Ditemani beberapa pelayan dekatnya, dia biasa berendam, lalu duduk di batu besar kesukaannya sambil menyisir rambut atau sekadar melamun.

Pada suatu pagi yang sial, beberapa minggu sebelum hari pernikahannya, putri datang lagi ke telaga itu. Cuaca cerah, suasana tenang. Sambil menyisir rambut basahnya, pikirannya terbang membayangkan masa depan. Dia membayangkan berjalan ke pelaminan, disambut senyum raja muda. Membayangkan istana barunya, anak-anaknya nanti, kebahagiaan selamanya. Dia terlalu asyik melamun sampai tidak sadar ada perubahan. Angin yang tadinya pelan tiba-tiba bertiup kencang, menggoyang pohon-pohon dengan keras. Di atasnya, ada ranting pohon yang sudah tua dan kering. Ranting itu patah dan jatuh ke bawah. Sialnya, ujung ranting yang tajam jatuh pas mengenai hidung sang putri.

Rasa sakit membuatnya kaget dan tersadar dari lamunan. Dia menjerit pelan, tangannya langsung memegang hidung. Waktu dia lihat tangannya, ada darah segar. Rasa sakit langsung hilang, diganti rasa panik yang luar biasa. Dia cepat-cepat melihat bayangan wajahnya di air telaga. Lukanya memang kecil, hanya goresan, tapi di matanya, luka itu terlihat besar dan merusak wajah cantiknya. Darah terus keluar sedikit.

Tiba-tiba, dia ingat pesan ayahnya: "Jangan sampai ada hal sekecil apa pun..." Dunianya serasa hancur. Semua mimpi indahnya hilang begitu saja. Bagaimana dia bisa menikah sekarang? Bagaimana dia bisa bertemu raja muda dengan wajah 'cacat' begini? Dia pasti akan ditertawakan, membuat malu keluarga, dan menyebabkan rencana penting batal. Rasa malu, kecewa pada diri sendiri karena ceroboh, dan takut masa depannya jadi suram bercampur aduk di hatinya. Dia merasa dirinya jelek, rusak, tidak berharga lagi. Kecantikan yang dulu membuatnya bangga sekarang terasa seperti kutukan. Para pelayan mencoba menenangkannya, tapi putri tidak mendengar. Dia terjebak dalam kesedihannya sendiri.

Karena merasa hancur sekali, sambil menangis sedih di tepi telaga, dia melihat ke langit yang mulai mendung. Wajahnya basah oleh air mata dan darah. Dia merasa tidak ada jalan keluar, tidak ada harapan. Beban harapan orang dan rasa bersalah terasa sangat berat. Dengan suara sedih dan putus asa, dia berteriak kepada Tuhan, "Oh Tuhan! Kenapa nasibku begini? Aku sudah gagal! Aku tidak pantas jadi putri lagi, tidak pantas menikah dengan raja! Hukum saja aku! Hilangkan saja aku! Atau... ubah saja aku jadi makhluk lain yang tidak peduli dengan wajah! Ya! Aku berharap jadi ular saja, yang kulitnya tebal dan bersisik, biar luka kecil ini tidak ada artinya!"

Kata-kata itu terdengar jelas di udara yang tiba-tiba jadi sunyi dan aneh. Sesaat kemudian, langit jadi gelap gulita. Petir menyambar keras diikuti suara guntur yang kencang, sepertinya alam marah mendengar kata-katanya. Para pelayan menjerit ketakutan melihat kejadian paling seram dalam hidup mereka. Kaki putri mulai terasa aneh, kulitnya yang halus jadi keras dan mengkilap. Sisik-sisik dingin berwarna hijau keperakan muncul dan cepat menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia merasa aneh, tubuhnya jadi panjang, tulang-tulangnya seperti ditarik. Dia mencoba teriak, tapi yang keluar hanya suara seperti ular mendesis. Pikirannya mulai kabur saat perubahan itu terjadi sepenuhnya. Bajunya yang bagus robek saat tubuhnya berubah jadi panjang dan meliuk-liuk. Dia bukan lagi manusia, tapi ular raksasa yang seram, tapi matanya masih menunjukkan rasa kaget dan takut seperti seorang putri.

Para pelayan, sangat pucat dan gemetaran, tidak tahan lagi. Mereka lari ketakutan meninggalkan telaga itu, kembali ke istana sambil menangis, melaporkan kejadian aneh yang baru mereka lihat. Berita itu sampai ke Raja dan Ratu seperti petir menyambar. Mereka tidak percaya, tapi merasa ada yang tidak beres. Cepat-cepat mereka pergi ke telaga dikawal prajurit, hati mereka berdebar cemas.

Sampai di sana, pemandangan yang mereka lihat membuat hati mereka hancur. Putri kesayangan mereka tidak ada lagi di batu besar itu. Yang ada hanya seekor ular raksasa dengan kulit seram berkilauan, diam melingkar di tempat putri tadi duduk. Ratu langsung jatuh lemas, menangis sejadi-jadinya. Raja berdiri kaku, pucat sekali, tidak percaya melihat makhluk itu. Ular itu mengangkat kepalanya pelan, melihat kedua orang tuanya dengan mata yang anehnya masih menunjukkan kesedihan yang sangat dalam. Tidak ada kata-kata. Ratu mengulurkan tangan gemetar, memanggil nama putrinya pelan. Ular itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan-pelan, seperti menyesal sekali. Air mata terlihat keluar dari matanya sebelum ia berbalik. Dengan gerakan merayap yang pelan tapi pasti, ular raksasa itu masuk ke air telaga yang sekarang terlihat keruh, lalu menghilang ke dalamnya. Yang tersisa hanya riak air dan suasana yang sangat sunyi dan sedih.

Kesedihan besar meliputi Kerajaan Simalungun. Pesta pernikahan dibatalkan. Kabar sedih disampaikan ke raja muda di seberang lautan. Istana yang tadinya ramai dan gembira sekarang jadi sunyi dan penuh tangisan. Raja dan Ratu tidak pernah sama lagi, hati mereka hancur karena kehilangan putri mereka. Telaga di belakang istana jadi tempat yang dijauhi, karena menyimpan kenangan pahit dan rasa sedih.

Cerita Putri Ular ini terus diceritakan dari generasi ke generasi di Simalungun. Cerita ini jadi pengingat abadi bahwa kecantikan wajah tidak sepenting kebaikan hati. Cerita ini juga mengajarkan bahaya putus asa dan betapa kuatnya pengaruh kata-kata yang diucapkan tanpa pikir panjang. Dan lebih dari itu, ini adalah cerita sedih tentang nasib yang tidak bisa ditebak, tentang bagaimana satu kesalahan kecil atau satu ucapan marah bisa mengubah hidup selamanya, meninggalkan kesedihan yang dalam di hati banyak orang. Kisah tentang putri yang berubah jadi ular ini terus terdengar, menjadi bagian penting dari budaya di tanah Sumatera Utara.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Legenda Putri Gunung Ledang, Cerita Rakyat Malaka

Kisah Gunung Sumbing: Sejarah, Legenda dan Cerita Mistis

Kisah Legenda Puteri Junjung Buih, Cerita Rakyat Kalimantan