Kisah Nabi Idris Menerima Wahyu Pertama dan Menjadi Nabi
Di suatu masa, di tanah
yang subur antara dua sungai, terlahir seorang anak dari keturunan Nabi Adam
yang diberi nama Idris. Ia tumbuh dengan kecerdasan yang luar biasa,
mempelajari kitab-kitab dan mushaf dari Nabi Adam dan Syits. Idris, yang dalam
bahasa Arab berarti 'pembelajaran', menjadi simbol pengetahuan dan hikmah.
Sejak muda, Idris
menunjukkan ketertarikan yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan dan kebenaran
ilahi. Ia menjadi orang pertama yang menggunakan pena dan menjahit pakaian,
membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari manusia. Kecerdasannya
tidak hanya terbatas pada pengetahuan duniawi, tetapi juga dalam memahami wahyu
Allah.
Di tengah kesunyian yang
mendalam, saat bayang-bayang senja mulai memeluk bumi, Nabi Idris, yang telah
menginjak usia 82 tahun, tengah merenung dalam keheningan. Ia berada di tempat
yang terpencil, jauh dari keramaian, tempat di mana langit dan bumi seolah
berbicara dalam bahasa keabadian. Di sana, hati dan pikirannya tenggelam dalam
renungan tentang penciptaan, kehidupan, dan rahasia alam semesta.
Tiba-tiba, suasana hening
itu terpecah oleh kedatangan Malaikat Jibril. Cahaya yang memancar dari sosok
Jibril memenuhi ruang, membawa kedamaian dan ketenangan yang tak tergambarkan.
Pertemuan ini bukanlah kebetulan, melainkan takdir ilahi yang telah ditetapkan.
Malaikat Jibril, pembawa
wahyu, datang dengan pesan dari Allah. Ia menyampaikan kepada Nabi Idris bahwa
ia telah dipilih untuk menjadi nabi, seorang utusan yang akan membawa cahaya
kebenaran kepada umat manusia. Wahyu pertama yang diterima Nabi Idris adalah
tentang konsep Tauhid, keesaan Allah, yang merupakan inti dari ajaran Islam.
Nabi Idris diperintah
untuk menyebarkan ajaran ini kepada keturunan Qabil yang telah tersesat. Qabil,
yang dikenal dalam sejarah sebagai anak Adam yang pertama kali melakukan
pembunuhan, telah meninggalkan keturunan yang jauh dari ajaran kebenaran. Mereka
hidup dalam kegelapan, terpisah dari cahaya ilahi.
Nabi Idris menerima wahyu
ini dengan hati yang penuh keimanan dan ketundukan. Ia menyadari bahwa tugas
yang diembannya bukanlah tugas yang ringan. Namun, dengan keberanian dan
kegagahan yang dimilikinya, yang dijuluki "Asad al-asad" atau "Singa
dari segala singa", ia siap untuk menjalankan amanah ini.
Dengan penuh hikmah dan
kesabaran, Nabi Idris mulai berdakwah. Ia mengajarkan tentang pentingnya
mengenal dan menyembah Allah semata, tanpa mempersekutukan-Nya dengan apapun.
Ia juga mengajarkan tentang pentingnya menjalankan ibadah, seperti salat dan
puasa, serta menjalankan nilai-nilai keadilan dan kebaikan.
Nabi Idris dikenal
sebagai nabi yang cerdas dan bijak, seorang ahli dalam bidang ilmu falak atau
perbintangan. Ia juga merupakan orang pertama yang bisa membaca dan menulis
dengan menggunakan pena, sebuah kemampuan yang ia gunakan untuk menyebarkan
dakwah dan ilmu pengetahuan.
Dengan langkah yang teguh
dan hati yang lapang, Nabi Idris memulai perjalanan dakwahnya yang penuh
dedikasi. Di tengah-tengah masyarakat yang terombang-ambing dalam kebingungan
dan kesesatan, beliau menjadi mercusuar yang menuntun mereka kembali ke pantai
keimanan.
Nabi Idris mengajarkan
pentingnya ketaatan kepada Allah dengan cara yang lembut namun pasti. Ia
menekankan pentingnya salat sebagai tiang agama, puasa sebagai pelindung dari
nafsu, jihad sebagai perjuangan melawan kebatilan, dan zakat sebagai penyucian
harta dan jiwa. Setiap kata yang beliau ucapkan, setiap ajaran yang beliau
sampaikan, adalah mutiara hikmah yang menyejukkan hati dan pikiran.
Pada cincin yang
melingkar di jari beliau, terukir kalimat "Iman kepada Allah menyebabkan
keberhasilan". Kalimat ini bukan sekadar hiasan, melainkan prinsip hidup
yang beliau pegang teguh dan sebarkan di antara manusia. Pesan tersebut menjadi
simbol dari keyakinan beliau bahwa keberhasilan sejati hanya dapat dicapai
melalui iman yang kuat dan tindakan yang saleh.
Meski Nabi Idris dikenal
karena kebijaksanaan dan kebaikan hatinya, perjalanan dakwahnya tidak selalu
mulus. Beliau sering kali mendapat tentangan dan ejekan dari mereka yang
hatinya tertutup oleh keangkuhan. Namun, dengan kesabaran yang tak tergoyahkan,
Nabi Idris terus menyampaikan pesan Allah. Beliau tidak pernah lelah
mengulurkan tangan kasih sayang, membuka pintu dialog, dan menunjukkan teladan
yang baik.
Keteguhan hati Nabi Idris
dalam menghadapi rintangan, serta kelembutan dalam berdakwah, menjadi inspirasi
bagi kita semua. Kisah beliau mengajarkan bahwa dalam menghadapi tantangan,
kesabaran dan kelembutan adalah senjata yang lebih ampuh daripada kekerasan.
Dan bahwa keberhasilan sejati adalah ketika kita mampu menanamkan iman dalam
hati, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata yang
mencerminkan kecintaan kita kepada Allah.
Kisah Nabi Idris
mengajarkan kita tentang pentingnya menuntut ilmu, kesabaran dalam menghadapi
tantangan, dan keberanian dalam menyebarkan kebenaran. Ia menjadi contoh bagi
kita semua, bahwa dengan iman yang kuat dan amal saleh, kita dapat mencapai
keberhasilan di dunia dan akhirat. Demikianlah kisah ini diceritakan, segala
kebenaran detailnya kita kembalikan kepada Allah, tuhan yang maha esa.
Komentar
Posting Komentar