Kisah Dialog Batiniyah Syekh Abdul Qadir Jaelani dengan Allah

 

Syekh Abdul Qadir Jaelani, seorang ulama besar yang sangat dihormati, dikenal karena kedekatannya dengan Allah. Dalam perjalanan spiritualnya, beliau mengalami serangkaian dialog batiniah dengan Allah, yang diterima melalui ilham qalbi dan penyingkapan ruhani.

Berikut adalah beberapa dialog tersebut, yang pada dasarnya semua karya ditulis dari, oleh dan untuk Allah. Pemahaman terhadap dialog ini tentunya akan berbeda tergantung perjalanan spiritual masing-masing, namun semoga dapat menjadi pedoman dalam meniti perjalanan spiritual makrifatullah.  


Dengan menyebut nama Allah yang Maha Satu.

Allah Berkata : “Wahai penolong agung! (nama panggilan kepada Syekh Abdul Qadir Al Jaelani). 

Syekh Qadir menjawab : “Aku mendengar panggilanmu, Wahai Tuhannya si penolong.

Allah Berfirman : “Setiap tahapan antara alam Naasut dan alam Malakut adalah syariat; setiap tahapan antara alam Malakut dan Jabarut adalah tarekat; dan setiap tahapan antara alam Jabarut dan alam Lahut adalah hakikat. 

 “Wahai penolong agung ! Aku tidak pernah mewujudkan Diriku dalam sesuatu sebagaimana perwujudanKu dalam diri manusia.


Lalu Syekh Qadir bertanya : “Wahai Tuhanku, apakah Engkau memiliki tempat ?”, Maka Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, Akulah Pencipta tempat, dan Aku tidak memiliki tempat.


Lalu Syekh Qadir bertanya : “Wahai Tuhanku, apakah Engkau makan dan minum ?”, Maka Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, makanan dan minuman kaum fakir adalah makanan dan minumanku.


Lalu Syekh Qadir berkata : “Wahai Tuhanku, dari apa Engkau ciptakan malaikat ?”. 

Allah Berfirman : “Aku Ciptakan malaikat dari cahaya manusia, dan Aku Ciptakan manusia dari cahayaku.

 “Wahai penolong agung, Aku Jadikan manusia sebagai kendaraanku, dan Aku jadikan seluruh isi alam sebagai kendaraan baginya.

 “Wahai penolong agung, betapa indahnya Aku sebagai Pencari ! Betapa indahnya manusia sebagai yang dicari ! Betapa indahnya manusia sebagai pengendara, dan betapa indahnya alam sebagai kendaraan baginya.


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, manusia adalah rahasiaku dan Aku adalah Rahasianya. Jika manusia menyadari kedudukannya di sisiku, maka ia akan berucap pada setiap hembusan nafasnya, ‘milik siapakah kekuasaan pada hari ini ?’.

 “Wahai penolong agung, tidaklah manusia makan sesuatu, atau minum sesuatu, dan tidaklah ia berdiri atau duduk, berbicara atau diam, tidak pula ia melakukan suatu perbuatan, menuju sesuatu atau menjauhi sesuatu, kecuali Aku Ada Berperan di situ, Bersemayam dalam dirinya dan Menggerakkannya.


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, tubuh manusia, jiwanya, hatinya, ruhnya, pendengarannya, penglihatannya, tangannya, kakinya, dan lidahnya, semua itu Aku Persembahkan kepadanya oleh Diriku, untuk Diriku. Dia tak lain adalah Aku, dan Aku Bukanlah selain dia.

 “Wahai penolong agung, jika engkau melihat seseorang terbakai oleh api kefakiran dan hancur karena banyaknya kebutuhan, maka dekatilah ia, karena tidak ada penghalang antara Diriku dan dirinya.


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, janganlah engkau makan sesuatu atau minum sesuatu dan janganlah engkau tidur, kecuali dengan kehadiran hati yang sadar dan mata yang awas.

 “Wahai penolong agung, barangsiapa terhalang dari perjalananku di dalam batin, maka ia akan diuji dengan perjalanan lahir, dan ia tidak akan semakin dekat dariku melainkan justru semakin menjauh dalam perjalanan batin.


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, kemanunggalan ruhani merupakan keadaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Siapa yang percaya dengannya sebelum mengalaminya sendiri, maka ia telah kafir. Dan barang siapa menginginkan ibadah setelah mencapai keadaan wushul, maka ia telah menyekutukan Allah.

 “Wahai penolong agung, barangsiapa memperoleh kebahagiaan azali, maka selamat atasnya, dia tidak akan terhina selamanya. Dan barang siapa memperoleh kesengsaraan azali, maka celaka baginya, dia tidak akan diterima sama sekali setelah itu.


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, Aku Jadikan kefakiran dan kebutuhan sebagai kendaraan manusia. Barangsiapa menaikinya, maka ia telah sampai di tempatnya sebelum menyeberangi gurun dan lembah.

 “Wahai penolong agung, bila manusia mengetahui apa yang terjadi setelah kematian, tentu ia tidak menginginkan hidup di dunia ini. Dan ia akan berkata di setiap saat dan kesempatan, ‘Tuhan, matikan aku !’.

 “Wahai penolong agung, semua makhluk pada hari kiamat akan dihadapkan kepadaKu dalam keadaan tuli, bisu dan buta, lalu merasa rugi dan menangis. Demikian pula di dalam kubur.


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, cinta merupakan tirai yang membatasi antara sang pencinta dan yang dicintai. Bila sang pencinta telah padam dari cintanya, berarti ia telah sampai kepada Sang Kekasih.

 “Wahai penolong agung, Aku Melihat Ruh-ruh menunggu di dalam jasad-jasad mereka setelah ucapanya, ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu ?’ sampai hari kiamat.

 “Wahai penolong agung, barangsiapa bertanya kepadaKu tentang melihat setelah mengetahui, berrti ia terhalang dari pengetahuan tentang melihat. Barangsiapa mengira bahwa melihat tidak sama dengan mengetahui, maka berarti ia telah terperdaya oleh melihat Allah.’”


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, orang fakir dalam pandanganku bukanlah orang yang tidak memiliki apa-apa, melainkan orang fakir adalah ia yang memegang kendali atas segala sesuatu. Bila ia berkata kepada sesuatu, ‘jadilah !’ maka terjadilah ia.

 “Tak ada persahabatan dan kenikmatan di dalam surga setelah kemunculanku di sana, dan tak ada kesendirian dan kebakaran di dalam neraka setelah sapaanku kepada para penghuninya.


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, Aku Yang Paling Mulia di antara semua yang mulia, dan Aku Yang Paling Penyayang di antara semua penyayang.

 “Wahai penolong agung, tidurlah di sisiku tidak seperti tidurnya orang-orang awam, maka engkau akan melihatKu. 

Terhadap hal ini Syekh Qadir bertanya : “Wahai Tuhanku, bagaimana aku tidur disisimu ?”. 

Allah Berfirman : “Dengan menjauhkan jasmani dari kesenangan, menjauhkan nafsu dari syahwat, menjauhkan hati dari pikiran dan perasaan buruk, dan menjauhkan ruh dari pandangan yang melalaikan, lalu meleburkan dzatmu di dalam Dzat.

 “Wahai penolong agung, katakan kepada sahabatmu dan pencintamu, siapa di antara kalian yang menginginkan kedekatan denganku, maka hendaklah ia memilih kefakiran, lalu kefakiran dari kefakiran. Bila kefakiran itu telah sempurna, maka tak ada lagi apapun selain Aku.

 “Wahai penolong agung, berbahagialah jika engkau mengasihi makhluk-makhlukku, dan beruntunglah jika engkau memaaafkan makhluk-makhlukku.


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, katakan kepada pencintamu dan sahabatmu, ambillah manfaat dari doa kaum fakir, karena mereka bersamaku dan Aku Bersama mereka.

 “Wahai penolong agung, Aku Bersama segala sesuatu, Tempat Tinggalnya, Pengawasnya, dan kepadaku tempat kembalinya.

 “Wahai penolong agung, jangan peduli pada surga dan apa yang ada di sana, maka engkau akan melihat Aku tanpa perantara. Dan jangan peduli pada neraka serta apa yang ada di sana, maka engkau akan melihat Aku tanpa perantara.

 “Wahai penolong agung, para penghuni surga disibukkan oleh surga, dan para penghuni neraka disibukkan olehku.

 “Wahai penolong agung, sebagian penghuni surga berlindung dari kenikmatan, sebagaimana penghuni neraka berlindung dari jilatan api.


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, barangsiapa disibukkan dengan selain Aku, maka temannya adalah sabuk tanda kekafiran pada hari kiamat.

 “Wahai penolong agung, orang-orang yang dekat mencari pertolongan dari kedekatan, sebagaimana orang-orang yang jauh mencari pertolongan dari kejauhan.

 “Wahai penolong agung, sesungguhnya Aku Memiliki hamba-hamba yang bukan nabi maupun rasul, yang kedudukan mereka tidak diketahui oleh siapapun dari penghuni dunia maupun penghuni akhirat, dari penghuni surga ataupun neraka, tidak juga malaikat Malik ataupun Ridwan, dan Aku Tidak Menjadikan mereka untuk surga maupun untuk neraka, tidak untuk pahala ataupun siksa, tidak untuk bidadari, istana maupun pelayan-pelayan mudanya. Maka beruntunglah orang yang mempercayai mereka meski belum mengenal mereka.


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, engkau adalah salah satu dari mereka. Dan di antara tanda-tanda mereka di dunia adalah tubuh-tubuh mereka terbakar karena sedikitnya makan dan minum; nafsu mereka telah hangus dari syahwat, hati mereka telah hangus dari pikiran dan perasaan buruk, ruh-ruh mereka juga telah hangus dari pandangan yang melalaikan. Mereka adalah pemilik keabadian yang terbakar oleh cahaya perjumpaan dengan Tuhan.

 “Wahai penolong agung, bila seseorang yang haus datang kepadamu di hari yang amat panas, sedangkan engkau memiliki air dingin dan engkau sedang tidak membutuhkan air, jika engkau menahan air itu baginya, maka engkau adalah orang yang paling kikir. Bagaimana Aku Menolak mereka dari rahmatku padahal Aku Telah Menetapkan atas Diriku, bahwa Aku Paling Pengasih di antara yang mengasihi.


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, tak seorang pun dari ahli maksiat yang jauh dariku, dan tak seorangpun dari ahli ketaatan yang dekat dariku.

“Wahai penolong agung, bila seseorang dekat kepadaku, maka ia adalah dari kalangan maksiat, karena ia merasa memiliki kekurangan dan penyesalan.

 “Wahai penolong agung, merasa memiliki kekurangan merupakan sumber cahaya, dan mengagumi cahaya diri sendiri merupakan sumber kegelapan.


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, ahli maksiat akan tertutupi oleh kemaksiatannya, dan ahli taat akan tertutupi oleh ketaatannya. Dan Aku Memiliki hamba-hamba selain mereka, yang tidak ditimpa kesedihan maksiat dan keresahan ketaatan.

 “Wahai penolong agung, sampaikan kabar gembira kepada para pendosa tentang adanya keutamaan dan kemurahan, dan sampaikan berita kepada para pengagum diri sendiri tentang adanya keadilan dan pembalasan.

 “Wahai penolong agung, ahli ketaatan selalu mengingat kenikmatan, dan ahli maksiat selalu mengingat Yang Maha Pengasih.

 “Wahai penolong agung, Aku Dekat dengan pelaku maksiat setelah ia berhenti dari kemaksiatannya, dan Aku Jauh dari orang yang taat setelah ia berhenti dari ketaatannya.


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, Aku Menciptakan orang awam namun mereka tidak mampu memandang cahaya kebesaranku, maka Aku Meletakkan tirai kegelapan di antara Diriku dan mereka. Dan Aku Menciptakan orang-orang khusus namun mereka tidak mampu mendekatiku dan mereka sebagai tirai penghalang.

 “Wahai penolong agung, katakan kepada para sahabatmu, siapa di antara mereka yang ingin sampai kepadaku, maka ia harus keluar dari segala sesuatu selain Aku.

 “Wahai penolong agung, keluarlah dari batas dunia, maka engkau akan sampai ke akhirat. Dan keluarlah dari batas akhirat, maka engkau akan sampai kepadaku.

 “Wahai penolong agung, keluarlah engkau dari raga dan jiwamu, lalu keluarlah dari hati dan ruhmu, lalu keluarlah dari hukum dan perintah, maka engkau akan sampai kepadaku.


Maka Syekh Qadir bertanya : “Wahai Tuhanku, shalat sepert apa yang paling dekat denganmu ?. Allah Berfirman : “Shalat yang di dalamnya tiada apapun kecuali Aku, dan orang yang melakukannya lenyap dari shalatnya dan tenggelam karenanya.

Lalu Syekh Qadir berkata : “Wahai Tuhanku, puasa seperti apa yang paling utama di sisimu ?. Allah Berfirman : “Puasa yang di dalamnya tiada apa pun selain Aku, dan orang yang melakukannya lenyap darinya.

Lalu Syekh Qadir berkata : “Wahai Tuhanku, amal apa yang paling utama di sisimu ?. Allah Berfirman : “Amal yang di dalamnya tiada apa pun selain Aku, baik itu harapan surga ataupun ketakutan neraka, dan pelakunya lenyap darinya.


Lalu Syekh Qadir berkata : “Wahai Tuhanku, tangisan seperti apa yang paling utama di sisimu ?. Allah Berfirman : “Tangisan orang-orang yang tertawa. 

Lalu Syekh Qadir berkata : “Wahai Tuhanku, tertawa seperti apa yang paling utama di sisimu ?. Allah Berfirman : “Tertawanya orang-orang yang menangis karena bertobat. 

Lalu Syekh Qadir berkata : “Wahai Tuhanku, tobat seperti apa yang paling utama di sisimu ?. Allah Berfirman: “Tobatnya orang-orang yang suci. 

Lalu Syekh Qadir bertanya : “Wahai Tuhanku, kesucian seperti apa yang paling utama di sisimu ?. Allah Berfirman: “Kesucian orang-orang yang bertobat.

 “Wahai penolong agung, pencari ilmu di mataku tidak mempunyai jalan kecuali setelah ia mengakui kebodohannya, karena jika ia tidak melepaskan ilmu yang ada padanya, ia akan menjadi setan. 


Kemudian Syekh Qadir bertanya : Wahai Tuhan, apa makna kerinduan?, Allah Berfirman : Wahai penolong agung, artinya engkau mesti merindukanku dan mengosongkan hatimu dari selain Aku. “Wahai penolong agung, jika engkau mengerti bentuk kerinduan maka engkau harus lenyap dari kerinduan, karena ia merupakan penghalang antara si perindu dan yang dirindukan.

 “Wahai penolong agung, bila engkau berniat melakukan tobat, maka pertama kali engkau harus bertobat dari nafsu, lalu mengeluarkan pikiran dan perasaan buruk dari hati dengan mengusir kegelisahan dosa, maka engkau akan sampai kepadaku. Dan hendaknya engkau bersabar, karena bila tidak bersabar berarti engkau hanya bermain-main belaka.


Lalu Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, bila engkau ingin memasuki wilayahku, maka hendaknya engkau tidak berpaling kepada alam mulk, alam malakut, maupun alam jabarut. Karena alam mulk adalah setannya orang berilmu, dan malakut adalah setannya ahli makrifat, dan jabarut adalah setannya orang yang sadar. Siapa yang puas dengan salah satu dari ketiganya, maka ia akan terusir dari sisiku.

 “Wahai penolong agung, perjuangan spiritual atau mujahadah adalah salah satu lautan di samudera penyaksian atau musyahadah dan telah dipilih oleh orang-orang yang sadar. Barangsiapa hendak masuk ke samudera musyahadah, maka ia harus memilih mujahadah, karena mujahadah merupakan benih dari musyahadah dan musyahadah tanpa mujahadah adalah mustahil. Barangsiapa telah memilih mujahadah, maka ia akan mengalami musyahadah, dikehendaki atau tidak dikehendaki. 

 “Wahai penolong agung, para pencari jalan spiritual tidak dapat berjalan tanpa mujahadah, sebagaimana mereka tak dapat melakukannya tanpa Aku.


Dan Allah Berfirman : “Wahai penolong agung, sesungguhnya hamba yang paling Ku Cintai adalah hamba yang mempunyai ayah dan anak tetapi hatinya kosong dari keduanya. Jika ayahnya meninggal, ia tidak sedih karenanya, dan jika anaknya pun meninggal, ia pun tidak gundah karenanya. Jika seorang hamba telah mencapai tingkat seperti ini, maka di sisiku tanpa ayah dan tanpa anak, dan tak ada bandingan baginya. 

 “Wahai penolong agung, siapa yang tidak merasakan lenyapnya seorang ayah karena kecintaan kepadaku dan lenyapnya seorang anak karena kecintaan kepadaku, maka ia tak akan merasakan lezatnya Kesendirian dan Ketunggalan.

 “Wahai penolong agung, bila engkau ingin memandangku di setiap tempat, maka engkau harus memilih hati resah yang kosong dari selain Aku. 


Lalu Syekh Qadir bertanya : “Tuhanku, apa ilmunya ilmu itu ?. Allah Berfirman : “Ilmunya ilmu adalah ketidaktahuan akan ilmu.

 “Wahai penolong agung, berbahagialah seorang hamba yang hatinya condong kepada mujahadah, dan celakalah bagi hamba yang hatinya condong kepada syahwat.


Lalu Syekh Qadir bertanya tentang mi’raj. Allah Berfirman : “Mi’raj adalah naik meninggalkan segala sesuatu kecuali Aku, dan kesempurnaan mi’raj adalah pandangan tidak berpaling dan tidak pula melampauinya.

“Wahai penolong agung, tidak ada shalat bagi orang yang tidak melakukan mi’raj kepadaku.  “Wahai penolong agung, orang yang kehilangan shalatnya adalah orang yang tidak mi’raj kepadaku.

Demikianlah dialog batiniyah Syekh Qadir dengan Allah. Fakir dalam pandangan Allah bukanlah orang yang tidak memiliki harta benda, melainkan orang yang merasa butuh kepada Allah, dan tidak memiliki perhatian kepada apapun selain Allah. Orang seperti ini, kehendaknya sama dengan kehendak Allah, sehingga apa yang ia inginkan untuk terwujud akan terwujud. Demikianlah kisah ini diceritakan, segala kebenaran detailnya kita kembalikan kepada Allah, Tuhan yang maha esa, sang pemilik kisah kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Legenda Putri Gunung Ledang, Cerita Rakyat Malaka

KISAH ASAL USUL SUKU TOLAKI (SULAWESI)

Kisah Asal-Usul Padi, Legenda Dewi Sri