Kisah Legenda Asal Usul Pohon Kelapa, Cerita Rakyat Papua
Pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung yang terletak di hilir Sungai Fait, Papua, hiduplah sepasang suami istri yang dikenal sebagai pasangan paling berbahagia di daerah itu. Sang suami bernama Biwiripit, seorang petani yang pekerja keras dan dikenal akan kebijaksanaannya. Istrinya, Teweraut, adalah seorang wanita cantik yang penuh kasih sayang dan kelembutan. Kehidupan mereka diliputi kebahagiaan, terutama karena mereka dikaruniai seorang anak tunggal yang sangat mereka cintai, bernama Cipriw.
Cipriw adalah seorang anak yang ceria dan penuh kasih. Orangtuanya sangat menyayanginya dan memanjakannya dengan penuh perhatian. Namun, di balik kasih sayang yang melimpah itu, Cipriw tumbuh menjadi anak yang penakut. Ia selalu merasa cemas dan takut pada banyak hal yang sebenarnya tidak berbahaya. Biwiripit dan Teweraut, meskipun merasa prihatin, tetap berusaha memahami dan mendukung anak mereka dengan segala cara yang mereka bisa.
Pada suatu hari yang cerah, ketika matahari bersinar dengan ramah, Biwiripit dan keluarganya duduk di dekat tungku api. Asap tipis beraroma harum mengepul dari sagu yang dipanggang bersama daging kasuari hasil buruan Biwiripit. Aroma masakan yang menggugah selera memenuhi udara, membaur dengan suara gemercik api yang membakar kayu kering.
Di tengah kehangatan suasana, Biwiripit memandang anaknya yang sedang berbaring di pangkuan Teweraut, istrinya. Dengan suara yang tegas namun penuh kasih, Biwiripit mulai berbicara, “Cipriw, kau anak laki-lakiku satu-satunya, kau tidak boleh jadi seorang penakut. Kau sudah besar, kau harus ganti bapak menjaga mama, menjaga kampung, dan kau juga harus menjadi pemburu yang tangguh di kampung ini.”
Cipriw, yang mendengar nasihat ayahnya, hanya terdiam sambil menatap api yang berkobar. Teweraut, dengan lembut membelai rambut anaknya, merasa tidak tega melihat tekanan yang dirasakan oleh anak mereka. “Cipriw kan masih kecil, jadi masih penakut tidak apa-apa,” ujarnya dengan suara yang lembut namun penuh keyakinan.
Namun, Biwiripit tetap teguh dengan pendiriannya. “Cipriw sudah besar, dulu aku juga sebesar itu sudah belajar berburu, membuat panah sendiri, belajar mengukir patung, dan aku disuruh tidur di rumah jew dengan laki-laki lain oleh kakekmu, Cipriw. Nah, kamu mulai besok tidurlah di rumah jew dengan bapak. Jangan kau bermanja-manja terus di ibumu,” lanjutnya, mencoba memberikan motivasi kepada anaknya.
Teweraut tidak tinggal diam. “Biarlah untuk beberapa hari lagi, Cipriw belum cukup besar untuk tidur di rumah jew,” katanya dengan nada lembut namun tegas, berharap suaminya bisa memberi lebih banyak waktu bagi Cipriw.
Biwiripit menghela napas panjang, matanya memandang jauh ke arah hutan yang mulai gelap. “Itulah, kau selalu membelanya terus, makanya Cipriw penakut terus,” katanya dengan nada marah yang tertahan. Merasa situasi mulai memanas, Biwiripit bangkit berdiri dan meninggalkan istri serta anaknya untuk tidur di rumah jew – rumah panjang tempat berkumpul dan tidur para lelaki dewasa, juga dikenal sebagai rumah bujang.
Malam itu, Cipriw merenung di pangkuan ibunya. Ia menyadari bahwa harapan ayahnya adalah untuk melihatnya tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat dan berani. Walau hatinya masih dipenuhi ketakutan, namun kata-kata ayahnya mulai menyentuh hati kecilnya, menanamkan benih keberanian yang suatu hari nanti akan tumbuh dan membuatnya siap menghadapi dunia dengan penuh keyakinan.
Hari mulai malam, dan cahaya matahari perlahan-lahan memudar di balik cakrawala. Suara jangkrik mulai terdengar, mengiringi malam yang merambat pelan. Di kampung kecil di hilir Sungai Fait, kehidupan malam pun dimulai. Para lelaki dewasa berkumpul di rumah jew, tempat mereka berbagi cerita dan pengalaman, sementara istri-istri mereka, anak-anak wanita, dan anak laki-laki yang masih kecil tidur di rumah masing-masing. Cipriw, si penakut, selalu tidur dekat ibunya, membungkus diri dengan tapin – tikar yang terbuat dari daun pandan – merasa nyaman dan aman dalam dekapan ibu tercinta.
Rumah tinggal mereka terletak agak jauh dari rumah jew – rumah khusus para bujang. Di antara jew dan rumah tinggal mereka, berdiri kokoh sebatang pohon beringin yang besar dan tua. Masyarakat kampung sangat mempercayai bahwa di dalam pohon tersebut bersemayam sepasang roh baik. Roh-roh ini tidak pernah mengganggu mereka, bahkan seringkali memberikan pertolongan.
Setiap kali hendak masuk ke dalam rumah jew, Cipriw selalu merasa cemas dan takut. Ia akan berlari cepat dari rumahnya menuju rumah jew, kemudian segera masuk ke dalam tapin-nya. Hal ini terjadi baik di pagi hari, siang hari, maupun malam hari. Ketakutannya pada pohon beringin dan rumah jew membuatnya tidak berani berjalan sendirian melewati pohon besar itu.
Suatu malam, ketika mereka sedang berkumpul di rumah, Biwiripit berbicara dengan suara tegas, “Tewe, mulai besok anak kita harus tidur di rumah jew. Kamu tidak boleh melarangnya. Kalau kamu menahannya terus, artinya kamu melanggar adat. Kamu tahu kan akibatnya kalau kita melanggar adat?” katanya dengan nada serius.
Teweraut, yang selalu khawatir akan ketakutan anaknya, menjawab dengan lembut, “Aku tahu, tapi anak kita ini sangat penakut. Apalagi jika harus melewati pohon beringin di depan rumah jew itu.”
“Justru karena dia penakut, dia harus belajar menjadi pemberani. Di rumah jew, anak kita akan mendapat pelajaran dari tua-tua adat supaya menjadi pemuda yang gagah berani. Saya malu jika punya anak penakut,” Biwiripit menambahkan dengan nada frustrasi.
Teweraut akhirnya mengalah, “Yah, terserah kamu lah. Tapi, pastikan dia aman.”
“Nanti malam saya akan ajak Cipriw tidur di rumah jew, dan kamu tidak boleh menghalanginya lagi! Paham, Tewe?” kata Biwiripit dengan nada menegaskan.
Teweraut hanya mengangguk, tidak mampu membantah lagi. Ia tahu bahwa hukum adat di kampung mereka sangat ketat. Jika ia melanggar, maka bukan hanya dia yang akan dihukum, tapi juga anaknya. Dengan berat hati, Teweraut pergi ke dapur untuk menyalakan tungku. Ia mulai menyiapkan sagu dan daging bakar sebagai bekal untuk Cipriw di rumah jew, berharap bahwa anaknya akan menemukan keberanian yang tersembunyi di dalam dirinya.
Malam itu, di tengah kesibukan dan persiapan, Cipriw merenung. Ia tahu bahwa ini adalah tantangan besar bagi dirinya, untuk mengatasi ketakutan yang selama ini menghantuinya.
Mulai hari itu, Biwiripit dengan tegas melarang Cipriw tidur bersama ibunya. Sebagai anak yang sudah dianggap cukup umur, Cipriw harus belajar tidur di rumah jew bersama para lelaki dewasa lainnya. Namun, meskipun sudah dipaksa, Cipriw tetap selalu tidur lebih awal dari teman-temannya. Ketika gelap mulai turun, Cipriw bergegas berbaring, membungkus dirinya dengan tapin, sebuah tikar yang terbuat dari daun pandan, mencari rasa aman di antara keramaian orang.
Karena kebiasaannya tidur lebih awal, Cipriw sering melewatkan pelajaran penting yang diajarkan oleh para tua-tua adat pada malam hari. Saat malam menjelang tidur, mereka biasa duduk melingkari bara api di tengah-tengah jew. Di situlah, ketua adat bercerita tentang kejayaan-kejayaan nenek moyang mereka dalam peperangan, menyampaikan dongeng-dongeng atau legenda-legenda rahasia yang tidak boleh tersebar ke suku lain. Rumah jew juga menjadi tempat di mana orang-orang tua mengajarkan pemuda-pemuda tentang teknik berperang, merencanakan balas dendam pada suku lain, atau pengayauan – tindakan balas dendam dengan membunuh lawan. Mereka juga mengajarkan cara memahat patung, membuat patung embis, membuat panah, dan teknik penggunaannya. Intinya, di dalam jew, anak muda dididik agar tumbuh menjadi pemuda yang tangguh, gagah berani, dan siap melindungi kampungnya jika diserang oleh kampung lain.
Di kampung hilir Sungai Fait, kehidupan penduduk sehari-hari sangat bergantung pada hasil buruan dari hutan Asmat yang lebat. Hewan buruan seperti babi, kasuari, dan berbagai binatang hutan lainnya menjadi sumber utama pangan mereka. Biwiripit, ayah Cipriw, adalah seorang pemburu ulung yang setiap hari menyibukkan diri untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Setiap kali Biwiripit pergi berburu, ia selalu mengajak Cipriw dengan harapan anaknya bisa belajar cara berburu yang baik. Sayangnya, karena Cipriw sangat penakut, ia tidak pernah berani menjauh dari ayahnya. Langkahnya selalu mengikuti jejak Biwiripit, tanpa berani melangkah sendirian.
Suatu hari, saat mereka berada di hutan, Biwiripit melihat seekor babi di sebelah kanan mereka. Dengan suara tegas, ia memerintahkan, "Cipriw, coba kau halau babi yang ada di sebelah kanan."
Namun, Cipriw ketakutan dan menjawab dengan suara gemetar, "Aduh bapak, jangan kah, saya kan takut kalau harus jalan sendirian ke sana. Di hutan ini pasti banyak roh."
Biwiripit mulai merasa kesal dan berkata, "Cipriw, kalau kau terus-terusan penakut begini, bagaimana kau bisa jadi pemuda yang gagah berani."
"Tapi bapak, saya memang takut, saya tidak berani ke sana sendirian," balas Cipriw dengan suara memelas. Rasa takut yang mendalam membuat kakinya mulai kaku, tubuhnya gemetar, dan akhirnya ia jatuh pingsan karena ketakutan.
Melihat anaknya terkulai tak berdaya, Biwiripit pun merasa tidak tega untuk memaksanya lagi. Bagaimanapun, Cipriw adalah anak tunggal yang sangat dicintainya.
Setiap kali pulang berburu, Biwiripit selalu membawa hasil buruan ke rumah jew terlebih dahulu. Cipriw selalu berlari secepat mungkin memasuki jew, menghindari pohon beringin yang diyakini ada penunggunya. Dia akan cepat-cepat berlari dan kemudian bersembunyi di dalam gulungan tapin. Kebiasaan ini terjadi setiap kali mereka pulang berburu.
Di suatu malam yang sunyi, ketika langit gelap tak berbulan dan suara hutan hanya dihiasi oleh nyanyian serangga malam, seperti biasa, Cipriw terlelap dalam balutan tapin, tikar pandan yang selalu menjadi pelindungnya dari ketakutan.
Namun saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, keanehanpun terjadi, Cipriw terjaga oleh rasa dingin yang menusuk. Angin laut yang sepoi-sepoi membuatnya menggigil. Dengan mata yang masih setengah terpejam, ia membuka matanya dan terkejut bukan kepalang. Di hadapannya terhampar luas pantai Safan, bukan suasana dalam jew yang biasa ia kenali. Ketakutan menyergap hatinya, tubuhnya gemetar. Dengan terburu-buru, ia bangkit dan berlari secepat mungkin kembali ke jew, berusaha membangunkan ayah dan teman-temannya yang masih terlelap dalam mimpi masing-masing.
Namun, usaha Cipriw sia-sia. Biwiripit dan teman-temannya tidak ada yang terjaga. Mereka masih terlelap, terlalu lelah setelah malam panjang mendengarkan cerita nenek moyang tentang pengayauan, aksi balas dendam yang penuh keberanian. Cipriw pun kembali membungkus dirinya dengan tapin, mencari perlindungan dari ketakutannya.
Setelah hari semakin siang, sinar mentari yang terang benderang menyinari perkampungan di hilir Sungai Fait. Kehidupan kembali berdenyut di rumah jew setelah malam panjang yang penuh cerita dan mimpi. Para lelaki dewasa sibuk dengan aktivitas masing-masing: ada yang mengasah panah hingga tajam, ada yang membuat bara api untuk membakar daging babi sisa malam tadi, ada yang mengambil air segar dari sungai, dan ada pula yang memahat, menyelesaikan ukiran patung bis pesanan keluarga yang baru saja kehilangan anggota mereka.
Di antara kesibukan itu, hanya Cipriw yang belum terjaga dari tidurnya. Salah seorang teman yang heran melihat Cipriw masih terlelap, memutuskan untuk membangunkannya tanpa membuka tapin yang membungkusnya. “Cipriaa…!! Cipriaa…!! Buyumbutita….!! Cipriw bangun sudah!” teriaknya keras.
Namun tidak ada jawaban. “Cipriaa…!! Buyumbutita…! Cipriw eee bangun sudah!” Kembali ia berteriak, sambil mengguncang-guncang tubuh Cipriw yang terbalut tapin. Cipriw tetap terbaring tak bergerak, tidak memberi tanda-tanda kehidupan. Sekali lagi, teman tersebut mencoba membangunkannya dengan lebih keras, “Buyumbutita…!! Buyumbutita…!! Cipriaa…!! Bangun sudah!”
Tetapi tetap tidak ada tanda bahwa Cipriw mendengar. Isi tapin tetap membisu dalam kaku yang dingin. Temannya merasa heran dan penasaran; biasanya Cipriw bangun lebih awal dari yang lain karena ia berbaring lebih awal pula. Dengan rasa penasaran yang semakin memuncak, ia membuka tapin yang membungkus Cipriw dengan segera.
Saat itu, jeritan panik membelah udara, “Tua adat…bapak…teman-teman, tolooong…. Cipriw telah meninggal!” teriaknya sekencang-kencangnya, memanggil semua orang yang ada di jew untuk menyaksikan keadaan Cipriw. Sekali lagi, ia berteriak memanggil-manggil, memastikan semua orang terbangun dari mimpi mereka.
Orang tua Cipriw, Biwiripit dan Teweraut, yang berada di rumah, segera dipanggil. Dengan tergesa-gesa mereka berlari menuju jew. Setiba di sana, mereka mendapati anak tunggal mereka sudah terbujur kaku, meninggalkan semua yang dicintainya. Tidak ada yang tahu penyebab pasti kematian Cipriw; apakah karena ketakutan yang terlalu atau karena penyakit mendadak. Namun takdir telah menentukan jatah umur setiap makhluk.
Tangis meledak dari Biwiripit dan Teweraut. Mereka meraung-raung dalam kesedihan yang mendalam, berguling-guling melumuri diri dengan lumpur sebagai tanda duka. Seluruh penduduk kampung larut dalam kesedihan yang teramat dalam. Cipriw, anak tunggal yang penakut namun dicintai, akhirnya diantar ke tempat peristirahatan terakhirnya dan dikuburkan di jewsen – di depan rumah jew, sebagai penghormatan terakhir dari kampung tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Kampung hilir Sungai Fait pun terbungkus dalam kesedihan, meratapi kehilangan seorang anak yang belum sempat menunjukkan keberaniannya.
Keesokan harinya, ketika matahari mulai menyinari kampung hilir Sungai Fait, orang-orang terjaga dari tidur mereka dan sangat terkejut melihat pohon aneh yang tumbuh di atas kuburan Cipriw. Mereka saling bertanya-tanya dengan heran.
"Teweraut, lihatlah keajaiban apa yang terjadi di atas kuburan anak kita," kata Biwiripit sambil menunjuk pohon aneh tersebut.
"Entahlah Biwi, akupun tidak tahu," jawab Teweraut dengan kebingungan yang sama.
Penduduk kampung mulai berkumpul di depan rumah jew, mengelilingi pohon aneh yang berbuah lebat itu. Mereka bertanya-tanya tentang asal-usul dan makna pohon tersebut.
"Kira-kira, apakah nama pohon ini?" tanya salah satu penduduk.
"Entahlah, pohon ini aneh, seumur hidup aku baru melihatnya," jawab seorang tua adat dengan keheranan.
"Apakah orang dapat memakan buahnya?" muncul pertanyaan lain dari kerumunan.
"Tidak tahu juga. Pohonnya saja baru kita lihat," jawab seseorang dari belakang.
Seseorang yang berani memetik buahnya, lalu mengupas kulitnya. Air yang ada dalam buah itu diberikan kepada seekor anjing terlebih dahulu untuk memastikan apakah air buah tersebut dapat diminum atau tidak. Ternyata, anjing yang meminum air buah itu tidak mati. Maka, penduduk kampung bersepakat bahwa air buah itu aman untuk diminum oleh manusia. Mereka juga mencoba daging buahnya kepada anjing. Karena anjing tidak mati, akhirnya semua penduduk kampung memetik buah itu dan memakannya.
Namun, ketika mengupas kulit buah, mereka terkejut melihat bahwa isi buah itu tampak seperti garis mata, mulut, serta bekas hidung Cipriw. Mereka yakin bahwa pohon ini adalah jelmaan dari Cipriw.
Suatu hari, orang tua Cipriw, Biwiripit dan Teweraut, bermimpi. Dalam mimpinya, mereka mendapat pesan untuk menamakan pohon itu "jisin," yang artinya pohon kelapa, dan buahnya bernama "akyamanmak," yang berarti buah yang berasal dari orang mati. Keesokan paginya, Biwiripit dan Teweraut mengabarkan kepada seluruh kampung tentang mimpi mereka.
"Saudara-saudaraku penduduk kampung, tadi malam kami bermimpi yang sama," kata Biwiripit memulai bicara.
"Apa yang ada dalam mimpimu, Biwi?" tanya seorang penduduk kampung dengan tidak sabar.
"Dalam mimpi, kami mendapat pesan bahwa pohon aneh berbuah lebat yang tumbuh di atas kuburan Cipriw harus diberi nama jisin – pohon kelapa – dan buahnya bernama akyamanmak, yang berarti buah yang berasal dari orang mati," jelas Biwiripit.
"Baiklah, mulai sekarang pohon aneh ini kita namakan jisin, dan buahnya akyamanmak, karena memang dia berasal dari jasad Cipriw," tegas ketua adat.
Sejak saat itu, pohon aneh tersebut tumbuh di banyak tempat di Asmat, dan orang-orang Asmat menyebutnya sebagai pohon jisin atau pohon kelapa. Legenda tentang Cipriw dan pohon jisin menjadi bagian dari cerita rakyat mereka, mengingatkan mereka tentang keajaiban dan tanda dari alam yang melambangkan penerimaan dan keberlanjutan hidup.
Demikianlah kisah ini diceritakan, segala kebenaran detailnya kita kembalikan kepada Awloh, tuhan yang maha kuasa, pemilik kisah kehidupan.
Komentar
Posting Komentar