Cerita Horor : Kuntilanak Merah di ITB

 




Langit Bandung tahun 1998 telah sepenuhnya menghitam pekat ketika Ardi (nama samaran), mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung, masih berkutat dengan tumpukan kertas kalkir dan layar monitor komputer jadul di sudut ruang Laboratorium Teknik V, atau yang akrab disebut Labtek V. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam lewat. Kampus Ganesha yang biasanya riuh rendah dengan aktivitas mahasiswa kini lengang dan sunyi senyap. Hanya suara dengung samar dari beberapa peralatan elektronik dan ketukan jari Ardi di papan ketik yang memecah keheningan malam itu.

Ardi bukanlah satu satunya pejuang malam itu, setidaknya beberapa jam sebelumnya. Ada beberapa teman seangkatannya yang juga mengejar tenggat waktu tugas akhir. Namun satu per satu dari mereka telah menyerah pada kantuk dan lelah, memilih pulang ke kos atau asrama. Kini, Ardi merasa benar benar sendirian di lantai tiga gedung yang terkenal kokoh namun menyimpan banyak cerita di kalangan mahasiswa itu. Tekadnya untuk menyelesaikan bab analisis struktur jembatan malam ini begitu kuat mengalahkan rasa kantuk dan sedikit perasaan gamang.

Gedung Labtek V sendiri memiliki aura yang khas jika malam tiba. Koridornya yang panjang dan lebar terasa semakin luas dalam remang cahaya lampu neon yang beberapa diantaranya mulai redup. Gema langkah kaki terdengar begitu jelas, memantul di dinding dinding beton yang dingin. Angin malam sesekali berdesir melalui celah jendela, membawa hawa dingin khas dataran tinggi Bandung yang menusuk tulang meskipun Ardi sudah mengenakan jaket himpunan kebanggaannya.

Fokus Ardi mulai terpecah saat ia menyadari betapa sunyinya lingkungan sekitar. Tidak ada lagi suara motor atau mobil yang lalu lalang di jalanan kampus. Hanya kesunyian absolut yang kadang terasa lebih menakutkan daripada keramaian. Ia mencoba mengabaikan perasaan tidak nyaman yang mulai merayapinya, kembali memusatkan perhatian pada rumus rumus rumit di hadapannya. Tugas akhir adalah gerbang kelulusan, dan ia tidak mau menundanya lagi.

Malam semakin larut, Ardi sesekali menguap dan meregangkan otot lehernya yang kaku. Ia melirik ke luar jendela, hanya kegelapan yang terlihat diselingi beberapa titik lampu taman kampus yang tampak jauh. Entah mengapa, malam ini terasa berbeda. Ada semacam energi berat yang menyelimuti gedung Labtek V, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika teknik sipil yang selama ini dipelajarinya. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran pikiran aneh. Mungkin hanya sugesti karena kelelahan.

 

Saat Ardi kembali mencoba berkonsentrasi pada layar monitor, hidungnya menangkap sebuah aroma yang aneh. Samar, namun cukup jelas untuk dikenali. Aroma bunga melati. Awalnya ia berpikir mungkin ada tanaman melati di luar jendela yang tertiup angin. Namun aroma itu terasa semakin kuat, memenuhi ruangan laboratorium tempat ia berada. Aroma melati yang pekat dan sedikit manis, namun entah kenapa terasa menusuk dan membuatnya merinding.

Ia mencoba mencari sumber aroma itu, menoleh ke sekeliling ruangan. Tidak ada vas bunga, tidak ada pengharum ruangan beraroma melati. Hanya bau khas kertas tua, debu, dan sedikit bau ozon dari peralatan elektronik. Aroma melati itu datang dan pergi, kadang kuat kadang samar, seolah ada seseorang yang membawa seikat bunga melati berjalan mondar mandir di dekatnya, namun tak kasat mata. Perasaan tidak nyaman Ardi semakin menjadi.

Tidak lama setelah aroma melati itu mulai mengganggunya, Ardi mendengar suara lain. Suara lirih seperti isak tangis wanita. Sangat pelan, hampir seperti bisikan angin. Suara itu terdengar datang dari arah koridor luar. Ardi menghentikan ketukannya di papan ketik, menajamkan pendengaran. Sunyi. Ia berpikir mungkin salah dengar. Mungkin hanya suara kucing liar yang sering berkeliaran di sekitar kampus, atau mungkin suara pipa air di dalam dinding.

Namun beberapa saat kemudian, suara itu terdengar lagi. Kali ini sedikit lebih jelas. Memang seperti suara tangisan wanita, tertahan dan penuh kesedihan. Bulu kuduk Ardi spontan berdiri. Siapa yang menangis di koridor Labtek V selarut ini? Apakah ada mahasiswi lain yang juga terjebak tugas hingga malam, atau mungkin petugas kebersihan? Tapi rasanya tidak mungkin. Petugas kebersihan biasanya sudah selesai bekerja sore hari.

Ardi memberanikan diri mengintip dari jendela kecil di pintu laboratorium. Koridor tampak kosong dan remang. Hanya lampu neon di ujung lorong yang cahayanya sedikit berkedip. Tidak ada siapa siapa. Suara tangisan itu pun lenyap seketika saat ia membuka pintu sedikit. Perasaan takut mulai menjalar di hatinya, bercampur dengan rasa penasaran. Ia menutup pintu kembali, mencoba meyakinkan diri bahwa itu semua hanya imajinasinya akibat kurang tidur dan stres.

 

Upaya Ardi untuk kembali fokus pada tugas akhirnya sia sia. Konsentrasinya buyar total. Setiap suara kecil kini membuatnya terlonjak. Desir angin, bunyi cicak, bahkan suara dengung komputernya sendiri terdengar lebih keras dari biasanya. Perasaan diawasi semakin kuat menyelimutinya. Ia merasa ada sesuatu di luar sana, di koridor gelap itu, yang memperhatikannya.

Tiba tiba, lampu neon di koridor yang tadi dilihatnya berkedip, kini padam total selama beberapa detik, lalu menyala lagi dengan kedipan yang lebih cepat. Kemudian lampu neon lain di dekat pintu labnya ikut berkedip tak menentu. Ardi menelan ludah. Ini bukan lagi sekadar sugesti. Ada sesuatu yang tidak beres dengan instalasi listrik gedung ini malam ini, atau mungkin... sesuatu yang lain.

Tak lama kemudian, terdengar suara seperti langkah kaki yang diseret perlahan di lantai koridor. Sreeek... sreeek... Sangat pelan namun jelas terdengar di tengah kesunyian malam. Langkah kaki itu terdengar mendekat ke arah pintu laboratorium tempat Ardi berada, lalu berhenti tepat di depan pintu. Jantung Ardi berdegup kencang serasa mau copot. Ia menahan napas, terpaku di kursinya, tidak berani bergerak sedikitpun.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya dalam keheningan yang mencekam, suara langkah kaki itu menjauh perlahan, kembali ke arah ujung koridor. Ardi menghela napas lega, namun tubuhnya masih gemetar. Siapa atau apa itu tadi? Apakah hanya petugas keamanan yang sedang patroli? Tapi mengapa langkah kakinya diseret seperti itu? Dan mengapa tidak ada suara kunci atau sapaan jika itu memang petugas?

Rasa takut kini benar benar menguasai Ardi. Ia ingin segera berkemas dan lari dari tempat itu. Namun sebagian dirinya masih mencoba berpikir rasional. Mungkin ada penjelasan logis untuk semua ini. Mungkin ada hewan yang masuk ke koridor, atau mungkin memang ada masalah teknis dengan lampu. Tapi instingnya mengatakan lain. Ada aura jahat yang terasa kental di udara malam itu.

Ia melirik tumpukan tugasnya yang belum selesai. Rasa tanggung jawabnya sebagai mahasiswa tingkat akhir berbenturan dengan rasa takutnya yang semakin memuncak. Ia harus bagaimana? Bertahan hingga pagi, atau melarikan diri sekarang juga? Pikirannya kacau balau. Keberanian yang tadi dimilikinya seolah menguap begitu saja diterpa rentetan kejadian aneh barusan.

 

Rasa haus yang sejak tadi ditahannya kini tak tertahankan lagi. Tenggorokannya terasa kering kerontang. Ardi juga merasa perlu ke kamar kecil. Dengan berat hati dan penuh kewaspadaan, ia memutuskan untuk memberanikan diri keluar dari ruang laboratorium. Mungkin dengan sedikit bergerak dan melihat situasi di luar, rasa takutnya bisa sedikit berkurang, atau setidaknya ia bisa memastikan apakah ada orang lain di lantai itu.

Perlahan, dengan tangan sedikit gemetar, Ardi membuka pintu laboratorium. Ia menjulurkan kepalanya keluar, melongok ke kanan dan ke kiri. Koridor masih tampak sepi seperti sebelumnya. Lampu neon yang tadi berkedip kini menyala normal, meskipun cahayanya tetap terasa redup dan suram. Udara dingin langsung menerpa wajahnya. Aroma melati yang tadi sempat tercium kini lenyap, digantikan bau apek khas gedung tua.

Dengan langkah ragu, Ardi berjalan menyusuri koridor menuju toilet yang terletak agak jauh di dekat tangga darurat. Setiap langkahnya terasa berat. Ia terus menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Suasana begitu hening hingga suara langkah sepatunya sendiri terdengar menggema keras, membuatnya semakin gugup.

Saat ia hampir sampai di pertengahan koridor, matanya tanpa sengaja menangkap sesuatu di ujung lorong yang lain, ke arah yang berlawanan dengan toilet, dekat sebuah jendela besar yang menghadap ke taman belakang gedung. Di bawah cahaya remang bulan yang masuk melalui jendela itu, berdiri sesosok bayangan. Bayangan itu tampak seperti siluet seorang wanita berambut panjang. Dan yang membuat jantung Ardi berdegup lebih kencang, bayangan itu tampak mengenakan sesuatu berwarna gelap, namun ada semburat warna merah yang jelas terlihat.

Ardi berhenti melangkah. Ia memicingkan matanya, mencoba melihat lebih jelas. Jaraknya cukup jauh, sekitar dua puluh meter. Sosok itu hanya berdiri diam mematung, menghadap ke arah jendela, membelakanginya. Rambut hitam panjangnya tergerai hingga hampir menyentuh lantai. Dan gaun atau pakaian yang dikenakannya memang berwarna merah. Merah gelap seperti warna darah yang sudah mengering.

Siapa dia? Mahasiswi lainkah yang juga lembur? Tapi mengapa berdiri sendirian di ujung koridor gelap seperti itu? Dan pakaian merah di tengah malam? Ardi merasa ada yang sangat janggal. Sosok itu tampak tidak wajar. Aura dingin dan menekan tiba tiba terasa menyebar dari arah sosok itu berdiri.

 

Ardi terpaku di tempatnya selama beberapa saat, antara takut dan penasaran. Sebagian dirinya ingin segera lari ke toilet dan kembali ke lab, mengunci pintu rapat rapat. Tapi sebagian lagi ingin memastikan apa yang dilihatnya. Apakah itu benar benar manusia, atau sesuatu yang lain? Ia mencoba berpikir rasional. Mungkin itu hanya tumpukan barang atau properti lab yang tertutup kain merah?

Namun keraguannya sirna ketika sosok itu perlahan bergerak. Bukan berjalan, tapi seperti sedikit bergoyang ke kiri dan ke kanan. Dan kemudian, sangat perlahan, sosok itu mulai memutar kepalanya ke arah Ardi. Gerakannya kaku dan tidak wajar, seperti leher yang patah. Ardi bisa melihat rambut hitam panjang itu tersibak sedikit, menampakkan sebagian wajah yang pucat pasi dalam kegelapan.

Meskipun jaraknya masih cukup jauh, Ardi bisa merasakan tatapan kosong dari sosok itu tertuju padanya. Tidak ada ekspresi di wajah pucat itu, hanya kehampaan yang mengerikan. Gaun merah panjangnya tampak lusuh dan kotor di beberapa bagian. Aroma anyir darah yang samar kini mulai tercium menggantikan bau apek koridor, bercampur dengan sisa aroma melati yang tadi sempat hilang.

Ardi mundur selangkah, kakinya terasa lemas. Jantungnya berpacu tak karuan. Tidak salah lagi. Ini bukan manusia. Sosok wanita berpakaian merah darah dengan rambut panjang acak acakan yang menutupi wajah, berdiri sendirian di koridor kampus tengah malam. Semua ciri cirinya mengarah pada satu legenda urban yang sering ia dengar dari senior seniornya: Kuntilanak Merah ITB.

Tiba tiba, dari bibir pucat sosok itu terdengar suara. Bukan tangisan seperti yang didengarnya tadi, tapi suara tawa. Tawa lirih yang melengking tinggi, menggema di sepanjang koridor yang sunyi. Suara tawa itu terdengar penuh kepedihan sekaligus kebencian, membuat bulu kuduk Ardi berdiri semua dan darahnya terasa membeku. Ia tahu ia harus segera pergi dari situ.

Sosok itu, setelah tertawa sebentar, kembali diam. Namun kini ia menghadap lurus ke arah Ardi. Tatapan kosongnya seolah menembus jiwa Ardi. Rasa takut yang luar biasa kini berubah menjadi teror murni. Ia merasa terjebak, tidak bisa bergerak, seolah kakinya terpaku di lantai koridor yang dingin itu.

 

Tanpa pikir panjang lagi, Ardi membalikkan badan. Semua pikiran tentang tugas akhir, rasa haus, atau keinginan ke toilet lenyap seketika. Yang ada di benaknya hanyalah lari, lari sejauh mungkin dari sosok mengerikan itu. Naluri bertahan hidupnya mengambil alih. Sambil berlari, mulutnya komat kamit membaca Ayat Kursi sebisanya, meskipun pikirannya kacau balau dan bacaannya terbata bata.

Ia berlari kembali ke arah laboratorium tempat ia tadi bekerja. Namun saat ia menoleh sekilas ke belakang, sosok Kuntilanak Merah itu sudah tidak ada di ujung koridor dekat jendela. Kosong. Tapi Ardi tidak merasa lega. Justru ia semakin panik. Kemana perginya sosok itu? Apakah ia menghilang begitu saja?

Saat Ardi hampir mencapai pintu labnya, tiba tiba sosok merah itu muncul lagi. Kali ini jauh lebih dekat, hanya beberapa meter di depannya, di tengah koridor, menghalangi jalannya menuju pintu lab. Sosok itu seolah melayang, kakinya tidak tampak menyentuh lantai. Wajahnya kini tertutup penuh oleh rambut hitam panjangnya, namun suara tawa melengking itu terdengar lagi, lebih keras dan lebih dekat.

"Allahu Akbar!" teriak Ardi refleks. Ia tidak berani mendekat ke arah lab. Ia berbelok tajam, berlari ke arah tangga darurat yang tadi ia lihat tidak jauh dari toilet. Suara tawa melengking itu seolah mengikutinya dari belakang, menggema di telinganya. Ia tidak berani menoleh lagi. Ia hanya fokus berlari menuruni anak tangga secepat yang ia bisa.

Langkah kakinya beradu cepat dengan lantai tangga beton, menciptakan suara gaduh di tengah malam. Ia merasa seperti dikejar. Entah itu hanya perasaannya saja atau memang sosok itu mengikutinya, ia tidak tahu. Yang jelas, ia harus segera keluar dari gedung Labtek V ini. Setiap lantai yang dilewatinya terasa sama mencekamnya. Lorong lorong gelap, pintu pintu laboratorium yang tertutup rapat, semua tampak menyimpan kengerian tersendiri.

Akhirnya ia mencapai lantai dasar. Dengan napas tersengal sengal dan jantung yang terasa mau meledak, ia mendorong pintu keluar gedung sekuat tenaga. Udara malam yang dingin langsung menerpa wajahnya, sedikit menyadarkannya dari kepanikan. Namun ia tidak berhenti berlari. Ia terus berlari melintasi taman kampus yang gelap menuju gerbang utama, tempat ia tahu ada Pos Satpam yang dijaga 24 jam.

 

Ardi berlari sekuat tenaga melintasi jalanan lengang di dalam area kampus ITB. Lampu lampu taman yang temaram seolah ikut mengawasinya dengan tatapan dingin. Ia tidak peduli lagi dengan tas dan barang barangnya yang tertinggal di Labtek V. Keselamatan jiwanya jauh lebih penting saat ini. Bayangan sosok merah dan tawa melengking itu terus terngiang di kepalanya.

Akhirnya, dari kejauhan ia melihat cahaya terang dari Pos Satpam di dekat Gerbang Utama. Dengan sisa sisa tenaganya, ia berlari menuju pos itu. Seorang petugas keamanan yang tampak sudah berumur, dengan seragam lengkap dan kumis tebal, sedang duduk santai sambil menyeruput kopi. Petugas itu tampak terkejut melihat Ardi berlari tergopoh gopoh ke arahnya dengan wajah pucat pasi dan napas memburu.

"Ada apa, Mas? Kenapa lari lari malam begini?" tanya petugas itu, yang kemudian Ardi ketahui bernama Pak Ujang.

Ardi mencoba mengatur napasnya yang tersengal. "Pak... tadi... di Labtek V... saya lihat..." kata katanya terbata bata, tubuhnya masih sedikit gemetar karena syok dan lelah. Ia menunjuk ke arah gedung Labtek V yang tampak samar samar dalam kegelapan di kejauhan.

Pak Ujang menatap Ardi dengan tatapan serius namun tenang. Ia sepertinya sudah bisa menduga apa yang terjadi. "Lihat si Merah, Mas?" tanyanya pelan, suaranya dalam.

Ardi terkejut Pak Ujang bisa menebak. Ia mengangguk cepat. "Iya Pak... perempuan pakai baju merah... rambut panjang... ketawa..." Ardi menceritakan singkat apa yang dialaminya di koridor lantai tiga Labtek V.

Pak Ujang menghela napas panjang. Ia mempersilakan Ardi duduk di kursi di depan posnya dan memberinya segelas air putih. "Sudah biasa, Mas. Makanya kalau tidak perlu sekali, jangan sendirian di gedung itu kalau sudah lewat tengah malam. Apalagi di lantai lantai atas. Sudah banyak yang cerita lihat sosok itu. Katanya sih penunggu lama di situ," jelas Pak Ujang dengan nada datar.

Mendengar penjelasan Pak Ujang, Ardi bukannya tenang malah semakin merinding. Jadi apa yang dilihatnya bukanlah halusinasi. Sosok Kuntilanak Merah itu memang nyata adanya dan sering menampakkan diri. Malam itu Ardi tidak berani kembali ke Labtek V untuk mengambil barang barangnya. Ia memutuskan untuk pulang ke kosnya dengan perasaan campur aduk antara lega karena selamat dan trauma yang mendalam. Pengalaman itu membekas kuat dalam ingatannya.

 

Kejadian malam itu meninggalkan bekas yang cukup dalam bagi Ardi. Beberapa hari ia merasa gelisah dan sulit tidur. Bayangan sosok merah dan tawa melengking itu kadang masih terlintas di benaknya, terutama saat ia sendirian atau berada di tempat gelap. Ia menjadi lebih religius, tidak pernah lagi meninggalkan sholat dan sering membaca doa doa perlindungan diri. Ia juga kapok untuk mengerjakan tugas di kampus hingga larut malam sendirian.

Ardi merenungkan kembali pengalamannya. Ia teringat pelajaran agama yang pernah diterimanya. Dalam ajaran Islam, keberadaan makhluk gaib seperti Jin adalah sebuah keniscayaan, bagian dari ciptaan Awloh yang menghuni alam berbeda namun kadang bisa berinteraksi dengan alam manusia atas izin Nya. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, jin diciptakan dari api dan di antara mereka ada yang beriman dan ada pula yang kafir atau gemar mengganggu manusia. Penampakan sosok menakutkan seperti yang dialaminya bisa jadi merupakan salah satu bentuk dari gangguan jin jahat tersebut.

Pandangan Islam mengajarkan umatnya untuk meyakini keberadaan alam gaib tanpa perlu merasa takut yang berlebihan hingga melupakan kekuasaan Awloh. Rasa takut adalah fitrah manusia, namun harus disalurkan dengan benar, yaitu dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta memohon perlindungan hanya kepada Awloh. Membaca ayat ayat suci seperti Ayat Kursi, surat Al Falaq, dan An Naas adalah benteng perlindungan yang diajarkan Rasulullah SAW. Ketika Ardi refleks membaca Ayat Kursi saat ketakutan, itu adalah tindakan yang benar sebagai seorang muslim.

Awloh mengizinkan terjadinya interaksi atau penampakan seperti itu bisa jadi sebagai ujian bagi keimanan hambaNya, atau sebagai pengingat akan kebesaranNya dan keterbatasan manusia. Bisa juga sebagai peringatan agar manusia senantiasa menjaga adab, tidak sombong, dan tidak berada di tempat tempat yang dikenal angker atau sepi pada waktu waktu yang tidak wajar tanpa keperluan yang syari, karena tempat seperti itu seringkali menjadi tempat berkumpulnya bangsa jin.

Pelajaran moral yang dapat diambil dari kisah Ardi adalah pentingnya untuk selalu mengingat Awloh dalam setiap keadaan, baik senang maupun susah, terang maupun gelap. Memperkuat iman dan ibadah adalah perisai terbaik dari gangguan makhluk halus. Selain itu, penting juga untuk menjaga etika dan adab dimanapun kita berada, termasuk menghormati tempat tempat yang mungkin memiliki "penunggu" dengan tidak melakukan perbuatan maksiat atau takabur. Kita harus selalu rendah hati dan sadar bahwa ada dimensi lain yang dihuni makhluk ciptaan Awloh selain manusia, dan kita harus selalu memohon perlindungan Nya.

Demikianlah kisah ini diceritakan, semoga dapat menghibur dan menambah wawasan, segala kebenaran detailnya, kita kembalikan kepada Awloh, Tuhan pemilik kisah kehidupan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Legenda Putri Gunung Ledang, Cerita Rakyat Malaka

KISAH ASAL USUL SUKU TOLAKI (SULAWESI)

Kisah Asal-Usul Padi, Legenda Dewi Sri