Kisah Asal Usul Kabupaten Sumennep

 


 


Alkisah, di ujung timur Pulau Garam, Madura Dwipa, terhampar sebuah negeri kuno yang subur dan menyimpan banyak cerita. Negeri ini kelak dikenal dengan nama Sumenep, sebuah nama yang menyimpan makna tentang ketenangan dan kedalaman. Riwayatnya terjalin erat dengan lika-liku sejarah kerajaan-kerajaan besar di Jawa Dwipa, bermula dari kesetiaan dan kecerdasan seorang tokoh bernama Arya Wiraraja.

Pada masa senja Kerajaan Singhasari, tersebutlah seorang punggawa cerdas nan bijaksana bernama Banyak Wide, yang kemudian lebih dikenal dengan gelar Arya Wiraraja. Ia adalah penasihat kepercayaan Prabu Kertanagara, raja terakhir Singhasari. Atas jasa dan kesetiaannya, konon sekitar tahun 1269 Masehi, Sang Prabu menganugerahkan wilayah Madura bagian Timur sebagai daerah kekuasaannya. Pemberian ini menjadi tonggak awal berdirinya sebuah entitas politik yang menjadi cikal bakal Kadipaten dan kini Kabupaten Sumenep. Arya Wiraraja membangun pusat pemerintahannya, menata wilayah barunya, dan meletakkan dasar-dasar kekuasaan di tanah harapan itu.

Peran Arya Wiraraja tak berhenti di situ. Ketika Singhasari runtuh dan Raden Wijaya berjuang mendirikan kerajaan baru, Arya Wiraraja dengan siasatnya yang ulung turut membantu perjuangan tersebut. Konon, bantuannya sangat krusial dalam mengalahkan pasukan Jayakatwang (Kediri) maupun mengusir tentara Mongol utusan Kubilai Khan. Atas jasanya yang besar dalam pendirian Majapahit, Raden Wijaya yang kemudian bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardhana, semakin mengukuhkan kedudukan Arya Wiraraja sebagai penguasa Madura Timur, memberinya otonomi yang cukup luas. Dari sinilah benih Sumenep sebagai sebuah negeri yang berdaulat mulai tumbuh dan bersemi.

Nama "Sumenep" sendiri, menurut para tetua dan ahli bahasa kuno, bukanlah sekadar sebutan tanpa makna. Ia berasal dari dua kata dalam bahasa Kawi atau Jawa Kuno: “Sung” yang berarti sebuah relung, lembah, atau cekungan tanah yang dalam, dan “Ennep” yang berarti tenang, sunyi, atau mengendap. Jika digabungkan, "Songennep" atau "Sumenep" dapat diartikan sebagai "lembah yang tenang" atau "cekungan yang mengendap." Nama ini seakan melukiskan kondisi geografis wilayahnya yang cenderung datar di bagian pesisir, tempat air tenang mengendap, berbeda dengan wilayah Madura lainnya yang lebih berbukit.

Makna filosofis pun terkandung di dalamnya. Ketenangan yang mengendap bisa jadi melambangkan karakter masyarakatnya yang tampak tenang di permukaan namun menyimpan kedalaman budi dan kekuatan tersembunyi. Nama ini seolah menjadi doa dan harapan para pendahulu agar negeri ini senantiasa damai, tenteram, dan subur, tempat kehidupan dapat tumbuh dan mengendap dengan baik, jauh dari gejolak yang merusak. Nama Sumenep melekat erat pada identitas tanah dan masyarakatnya, menjadi pengingat akan asal-usul dan karakter khas negeri di ujung timur Pulau Madura ini.

 

Setelah era Arya Wiraraja, roda sejarah terus berputar. Sumenep mengalami pasang surut di bawah kepemimpinan para penerusnya. Silsilah kekuasaan terus berlanjut, meskipun catatan sejarah pada periode pertengahan terkadang samar. Wilayah ini, seperti halnya wilayah lain di Nusantara, tak luput dari pengaruh hegemoni kerajaan-kerajaan besar yang silih berganti. Setelah Majapahit mulai meredup, pengaruh Kesultanan Demak di pesisir utara Jawa terasa hingga ke Madura, membawa serta penyebaran agama Islam yang semakin kuat.

Kemudian, ketika Mataram Islam bangkit menjadi kekuatan dominan di Jawa, Sumenep pun mengakui kedaulatannya, meski tetap mempertahankan otonomi internalnya sebagai sebuah kadipaten. Para Adipati Sumenep silih berganti memimpin negeri, menjaga tradisi, dan beradaptasi dengan perubahan zaman dan konstelasi politik yang dinamis. Mereka harus pandai memainkan peran, menjaga hubungan baik dengan pusat kekuasaan di Jawa, sekaligus mempertahankan kedaulatan dan kesejahteraan rakyat Sumenep. Periode ini menempa ketahanan dan kelihaian politik para pemimpin Sumenep.

Di tengah lika-liku sejarah itu, muncullah sosok legendaris yang namanya harum hingga kini, yakni Pangeran Jokotole. Konon, ia adalah putra Adipati Sumenep yang memiliki kesaktian luar biasa sejak lahir. Cerita rakyat mengisahkan berbagai keajaiban dan kekuatan Jokotole, termasuk kemampuannya mencabut pohon besar atau kemenangannya dalam sayembara adu kekuatan di Majapahit yang membuatnya diakui sebagai penguasa Sumenep dengan gelar Pangeran Secodiningrat III, sekitar abad ke-15.

 

Era Jokotole seringkali digambarkan sebagai masa ketika Sumenep menunjukkan kekuatannya dan identitas Madura semakin ditegaskan. Ia dikenal sebagai pemimpin yang gagah berani, adil, dan peduli pada rakyatnya. Meski banyak diwarnai legenda, sosok Jokotole menjadi simbol kebanggaan dan harga diri masyarakat Sumenep dan Madura pada umumnya. Kisah kepahlawanannya dituturkan turun-temurun, menginspirasi semangat juang dan kecintaan pada tanah kelahiran. Keberadaannya menandai salah satu babak penting dalam pembentukan karakter dan sejarah Sumenep.

Memasuki abad ke-18, Sumenep memasuki era baru yang ditandai dengan pembangunan fisik dan penataan pemerintahan yang signifikan. Adalah Panembahan Sumolo, yang juga dikenal sebagai Pangeran Natakusuma I atau Raden Asirudin, yang menjadi tokoh sentral pada masa ini. Sekitar tahun 1762, ia naik tahta dan memiliki visi besar untuk membangun pusat pemerintahan yang representatif dan megah, mencerminkan kebesaran Kadipaten Sumenep.

Panembahan Sumolo memindahkan pusat pemerintahan dari lokasi lama ke tempat yang sekarang menjadi jantung kota Sumenep. Di sanalah ia memerintahkan pembangunan kompleks Keraton Sumenep yang indah, dengan arsitektur unik yang memadukan gaya Jawa, Madura, Eropa, dan Tiongkok. Tak hanya keraton sebagai pusat kekuasaan, ia juga membangun Masjid Jamik Agung Sumenep tepat di seberang alun-alun, sebagai pusat kegiatan keagamaan dan simbol persatuan antara ulama dan umara (pemimpin pemerintahan). Kedua bangunan ikonik ini hingga kini menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu dan pusat kebudayaan Sumenep.

Masa keemasan Sumenep berlanjut di bawah kepemimpinan putra sekaligus penerus Panembahan Sumolo, yakni Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, yang memerintah pada awal abad ke-19. Berbeda dari penguasa pada umumnya, Sultan Abdurrahman dikenal sebagai seorang raja intelektual yang memiliki minat besar pada ilmu pengetahuan, sastra, dan bahasa. Konon, ia menguasai berbagai bahasa, termasuk Melayu, Jawa, Arab, Belanda, dan Inggris, serta memiliki perpustakaan pribadi yang kaya.

Pada masanya, Sumenep menjadi pusat studi dan kebudayaan yang cukup disegani. Sultan Abdurrahman menjalin korespondensi dan hubungan baik dengan para sarjana dan pejabat Eropa, termasuk Sir Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Inggris. Hubungan ini memungkinkan pertukaran pengetahuan dan budaya. Sultan Abdurrahman juga dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan visioner, membawa Sumenep pada puncak kemakmuran dan ketenaran intelektual. Ia adalah sosok raja ideal yang memadukan kekuasaan dengan ilmu pengetahuan dan kearifan.

 

Namun, kejayaan itu perlahan mulai meredup seiring menguatnya cengkeraman kolonialisme Belanda di Nusantara. Setelah Inggris menyerahkan kembali Hindia kepada Belanda, pengaruh VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda semakin dalam merasuk ke dalam sendi-sendi pemerintahan Kadipaten Sumenep. Melalui berbagai perjanjian politik dan intervensi, otonomi yang selama berabad-abad dinikmati Sumenep mulai terkikis. Para Adipati atau Sultan penerus Abdurrahman semakin kehilangan kekuasaan riilnya.

Belanda secara bertahap mengambil alih kontrol atas sumber daya alam (terutama garam), perdagangan, dan administrasi pemerintahan. Meskipun para bangsawan Sumenep masih memegang jabatan simbolis, kekuasaan efektif telah beralih ke tangan kontrolir Belanda. Puncaknya adalah ketika sistem pemerintahan swapraja (zelfbestuur) di Sumenep secara resmi dihapuskan oleh pemerintah kolonial pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20, mengakhiri riwayat panjang Sumenep sebagai sebuah entitas politik yang relatif mandiri. Sumenep dilebur ke dalam struktur administrasi Karesidenan Madura di bawah kendali penuh Hindia Belanda.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, babak baru dalam sejarah Sumenep pun dimulai. Seiring dengan penataan ulang wilayah administrasi negara kesatuan, bekas wilayah Kadipaten Sumenep bertransformasi menjadi Kabupaten Sumenep, sebuah daerah tingkat II di bawah Provinsi Jawa Timur. Semangat perjuangan dan identitas lokal yang telah tertempa selama berabad-abad menjadi bagian tak terpisahkan dari semangat kebangsaan Indonesia.

Kini, Kabupaten Sumenep terus berbenah diri menyongsong masa depan, namun tetap berakar kuat pada sejarah dan budayanya yang kaya. Warisan Arya Wiraraja, legenda Jokotole, kemegahan Keraton dan Masjid Jamik peninggalan Panembahan Sumolo, serta semangat intelektual Sultan Abdurrahman tetap hidup dalam denyut nadi masyarakatnya. Sumenep berdiri sebagai bukti perjalanan panjang sebuah negeri di ujung timur Pulau Garam, dari sebuah anugerah raja kuno hingga menjadi kabupaten yang dinamis di era modern, sebuah "lembah tenang" yang menyimpan kedalaman sejarah dan kekayaan budaya.

Demikianlah kisah ini diceritakan, segala kebenaran detailnya kita kembalikan kepada Awloh, tuhan yang maha kuasa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Legenda Putri Gunung Ledang, Cerita Rakyat Malaka

KISAH ASAL USUL SUKU TOLAKI (SULAWESI)

Kisah Asal-Usul Padi, Legenda Dewi Sri