Kisah (Sejarah) Asal Usul Kabupaten Bojonegoro
Jauh sebelum nama Bojonegoro
menggema, di lekuk subur Pulau Jawa bagian timur, terhampar sebuah wilayah yang
dialiri oleh sungai terbesar di pulau ini, Bengawan Solo. Denyut kehidupan
purba telah lama bersemi di sini, dibuktikan dengan temuan-temuan fosil manusia
purba dan artefak prasejarah di lembah sungai ini, termasuk di wilayah yang
kelak menjadi Bojonegoro. Bengawan Solo bukan sekadar aliran air; ia adalah
sumber kehidupan, jalur transportasi alami, dan saksi bisu peradaban yang
tumbuh dan tenggelam di tepiannya. Kesuburan tanah aluvial yang dibawa oleh
luapannya menjadikan kawasan ini ideal untuk pemukiman dan pertanian sejak
zaman dahulu kala.
Memasuki era kerajaan-kerajaan
Hindu-Buddha, wilayah ini diyakini masuk dalam lingkaran pengaruh kekuasaan besar
seperti Majapahit. Meskipun mungkin bukan pusat utama kerajaan, lokasinya yang
strategis di sepanjang jalur Bengawan Solo menjadikannya penting sebagai
lumbung pangan dan jalur penghubung antara wilayah pedalaman dengan pesisir
utara. Komunitas-komunitas agraris berkembang, memanfaatkan berkah air Bengawan
Solo untuk mengairi sawah mereka, menanam padi, palawija, dan tanaman lainnya
yang menopang kehidupan. Jejak-jejak peradaban masa lalu ini terkadang masih
dapat ditemukan dalam bentuk peninggalan arkeologis atau nama-nama tempat kuno.
Ketika roda sejarah berputar dan
hegemoni Majapahit mulai memudar di abad ke-15, muncullah kekuatan-kekuatan
baru di pesisir utara Jawa, terutama Kesultanan Demak yang bercorak Islam.
Wilayah yang kelak menjadi Bojonegoro ini, dikenal pada masa itu sebagai Jipang
atau Jipang Panolan, berada dalam posisi geografis yang signifikan. Ia menjadi
semacam wilayah perbatasan atau penyangga antara kekuatan pesisir Demak dengan
sisa-sisa pengaruh Majapahit di pedalaman atau kerajaan-kerajaan kecil lainnya.
Posisi ini membuatnya menjadi arena potensial bagi dinamika politik dan
penyebaran pengaruh baru.
Secara bertahap, Jipang Panolan
berkembang menjadi sebuah Kadipaten atau wilayah setingkat kabupaten di bawah
pengaruh Kesultanan Demak. Kadipaten ini memiliki pusat pemerintahan dan
kekuatan militernya sendiri, dipimpin oleh seorang Adipati yang ditunjuk atau
mendapat legitimasi dari Sultan Demak. Para penguasa Jipang berasal dari garis
keturunan yang memiliki koneksi dengan elite Demak, memperkuat hubungan antara
pusat dan daerah. Jipang mulai diperhitungkan sebagai salah satu kekuatan
regional di Jawa bagian timur pada masa itu.
Kehidupan di Jipang Panolan
sangat bergantung pada irama Bengawan Solo. Sungai ini menyediakan air untuk pertanian,
jalur untuk perdagangan (meskipun mungkin tidak seramai pelabuhan pesisir), dan
sumber protein berupa ikan. Namun, Bengawan Solo juga membawa ancaman laten
berupa banjir besar saat musim penghujan. Ketergantungan dan kewaspadaan
terhadap sungai besar ini membentuk sebagian karakter masyarakat dan menjadi
faktor penting dalam sejarah wilayah ini. Jipang Panolan, dengan segala potensi
dan tantangannya, menjadi benih awal bagi entitas yang kini kita kenal sebagai
Bojonegoro.
Panggung sejarah Jipang Panolan
mencapai salah satu puncaknya ketika tampuk kepemimpinan dipegang oleh seorang
tokoh yang penuh warna dan kontroversial: Arya Penangsang. Ia adalah putra dari
Pangeran Surowiyoto atau dikenal juga sebagai Raden Kikin atau Pangeran Sekar
Seda Lepen (Pangeran Bunga yang Gugur di Sungai). Ayahnya adalah salah satu
putra Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak. Tragedi menimpa Pangeran
Surowiyoto yang tewas dibunuh di tepi sungai, konon oleh suruhan Sunan Prawoto,
putra Sultan Trenggana yang kelak naik tahta Demak. Peristiwa ini menanamkan
benih dendam dan ambisi dalam diri Arya Penangsang.
Setelah dewasa, Arya Penangsang
mewarisi Kadipaten Jipang Panolan. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah
berani, ahli dalam olah keprajuritan, dan memiliki kesaktian serta
pusaka-pusaka andalan, termasuk keris Kyai Setan Kober dan kuda tunggangan
Gagak Rimang yang legendaris. Karakter Arya Penangsang digambarkan sebagai
sosok yang pemberani, teguh pendirian, namun juga mudah panas hati, pendendam,
dan sangat ambisius untuk meraih kekuasaan tertinggi di Demak, yang ia anggap
sebagai hak warisnya mengingat ayahnya adalah putra Raden Patah.
Selama masa pemerintahan Sultan
Trenggana di Demak, Arya Penangsang menunjukkan loyalitas dan menjadi salah
satu senopati andalan. Ia turut serta dalam berbagai ekspedisi militer Demak,
termasuk penaklukan wilayah-wilayah di Jawa Timur dan upaya membendung pengaruh
Portugis. Keberanian dan kemampuannya di medan perang membuatnya disegani, baik
oleh kawan maupun lawan. Namun, di balik loyalitasnya, bara ambisi untuk
merebut tahta Demak terus menyala, menunggu saat yang tepat untuk berkobar.
Momen itu tiba ketika Sultan
Trenggana gugur dalam ekspedisi militer menyerang Panarukan di tahun 1546.
Wafatnya Sultan memicu krisis suksesi di Demak. Sunan Prawoto, putra Sultan
Trenggana, naik tahta, namun pemerintahannya lemah dan dibayangi oleh klaim
dari Arya Penangsang. Arya Penangsang merasa lebih berhak atas tahta Demak
karena ayahnya adalah saudara Sultan Trenggana dan ia menganggap Sunan Prawoto
terlibat dalam pembunuhan ayahnya. Kekacauan politik pun mulai melanda jantung
Kesultanan Demak.
Di bawah kepemimpinan Arya
Penangsang, Jipang Panolan menjelma menjadi basis kekuatan militer yang
tangguh. Ia mengumpulkan para pengikut setia, melatih prajurit, dan
mempersiapkan diri untuk merebut kekuasaan. Jipang tidak lagi sekadar kadipaten
bawahan, tetapi menjadi pusat kekuatan oposisi yang secara terbuka menantang
legitimasi penguasa Demak saat itu. Ambisi Arya Penangsang membawa Jipang ke
puncak pengaruh politiknya, namun sekaligus menyeretnya ke dalam konflik
berdarah yang akan menentukan nasibnya dan nasib tanah Jawa.
Kekacauan pasca wafatnya Sultan
Trenggana semakin memanas. Arya Penangsang, didorong oleh dendam dan ambisi,
melihat kesempatan emas untuk merebut tahta Demak. Langkah pertamanya adalah
menyingkirkan rival utamanya, Sultan Prawoto. Menurut catatan Babad Tanah Jawi,
Arya Penangsang mengutus seorang suruhannya yang bernama Rangkud untuk membunuh
Sunan Prawoto. Pembunuhan ini berhasil dilakukan, semakin memperdalam krisis
politik dan menebar ketakutan di kalangan elite Demak lainnya.
Tindakan Arya Penangsang tidak
berhenti sampai di situ. Ia juga dianggap bertanggung jawab atas kematian
Pangeran Hadiri, suami dari Ratu Kalinyamat (putri Sultan Trenggana dan
penguasa Jepara). Ratu Kalinyamat kemudian bersumpah akan bertapa telanjang
(hanya mengenakan pakaian tapa) hingga Arya Penangsang tewas. Dendam Ratu
Kalinyamat menambah panasnya suhu politik dan memperkuat aliansi
anti-Penangsang. Jipang kini dipandang sebagai ancaman serius bagi stabilitas
dan ketertiban di tanah Jawa pasca-Demak.
Di tengah kekacauan ini, muncullah
figur kuat lainnya: Jaka Tingkir. Ia adalah menantu Sultan Trenggana dan
Adipati Pajang, sebuah wilayah di pedalaman Jawa Tengah. Jaka Tingkir, yang
kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya, tampil sebagai pemimpin yang mampu
mengkonsolidasikan kekuatan-kekuatan yang menentang Arya Penangsang. Dengan
dukungan para bangsawan Demak yang tersisa, para Wali (terutama Sunan Kalijaga
yang berperan sebagai penasihat), dan Ratu Kalinyamat, Sultan Hadiwijaya
memindahkan pusat kekuasaan efektif dari Demak yang porak poranda ke Pajang.
Pajang pun menjadi pusat kekuatan baru yang berhadapan langsung dengan Jipang.
Konflik antara Jipang (Arya
Penangsang) dan Pajang (Sultan Hadiwijaya) pun tak terhindarkan. Ini bukan lagi
sekadar perebutan tahta Demak yang mulai kehilangan pamor, melainkan
pertarungan antara dua kekuatan regional dominan untuk menentukan siapa yang
akan menjadi pewaris hegemoni politik di Jawa. Kedua belah pihak mempersiapkan
pasukan, mencari sekutu, dan menyusun strategi. Intrik politik, adu kesaktian,
dan persiapan perang mewarnai periode ini.
Pertarungan ini menjadi ujian
bagi kesetiaan para penguasa daerah lainnya. Sebagian memihak Jipang karena
kekuatan militer Arya Penangsang yang ditakuti, sementara sebagian lain
berpihak pada Pajang yang dianggap lebih mewakili legitimasi dan ketertiban.
Sungai Bengawan Solo yang membelah wilayah Jipang seringkali menjadi garis
depan atau lokasi pertempuran kecil sebelum konfrontasi puncak terjadi.
Pertarungan antara Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya menjadi salah satu
episode paling dramatis dalam sejarah transisi kekuasaan di Jawa abad ke-16.
Menghadapi kekuatan Arya
Penangsang yang terkenal sakti dan sulit dikalahkan, Sultan Hadiwijaya dari
Pajang merasa perlu strategi khusus. Ia mengadakan sayembara: barangsiapa yang
mampu mengalahkan Arya Penangsang akan dihadiahi tanah perdikan di wilayah
Mentaok (Mataram) dan Pati. Sayembara ini disambut oleh dua tokoh kepercayaan
Sultan Hadiwijaya, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Mereka berdua
adalah tokoh yang berjasa namun mungkin merasa kurang mendapat penghargaan yang
layak dari Sultan.
Tantangan terbesar adalah
bagaimana menghadapi kesaktian Arya Penangsang dan kuda Gagak Rimang yang
lincah. Sunan Kalijaga, sebagai penasihat spiritual dan politik Sultan
Hadiwijaya, menyarankan agar putra Ki Ageng Pemanahan, yaitu Danang Sutawijaya
(yang juga merupakan anak angkat Sultan Hadiwijaya), yang maju ke medan laga.
Sutawijaya, meskipun masih muda, dikenal pemberani dan memiliki bekal ilmu
kanuragan serta pusaka andalan Pajang, Tombak Kyai Plered.
Strategi pun disusun untuk
memancing Arya Penangsang keluar dari benteng pertahanannya di Jipang dan
bertarung di medan terbuka. Salah satu versi cerita menyebutkan siasat licik
dengan mengirim surat tantangan yang dibawa oleh seorang kusir atau gembala
kuda (adalagi versi menyebut suruhan bernama Soreng Rangkud) yang telinganya
sengaja dipotong, seolah-olah dilakukan oleh Penangsang. Tujuannya adalah
memancing amarah Arya Penangsang agar ia segera menyerang Pajang tanpa
perhitungan matang. Versi lain menyebutkan taktik adu domba atau provokasi
lainnya.
Terpancing oleh provokasi
tersebut, Arya Penangsang yang panas hati segera mengerahkan pasukannya
menyeberangi Bengawan Solo untuk menyerbu Pajang. Di tepi Bengawan Solo inilah
pertempuran klimaks terjadi. Arya Penangsang dengan gagah berani menerjang
barisan pasukan Pajang di atas kuda Gagak Rimang. Dalam pertempuran sengit,
Sutawijaya berhasil menusukkan Tombak Kyai Plered ke lambung Arya Penangsang.
Meskipun terluka parah, Arya
Penangsang tidak langsung tewas. Dalam keadaan ususnya terburai, ia
menyampirkannya pada pangkal keris Kyai Setan Kober yang terselip di
pinggangnya dan terus melanjutkan pertarungan. Namun, ketika ia mencabut keris
saktinya untuk menyerang Sutawijaya, ia justru tanpa sadar memotong ususnya
sendiri. Arya Penangsang pun gugur secara tragis di medan laga. Gugurnya sang
Adipati Jipang yang sakti mandraguna ini mengakhiri perlawanan Jipang terhadap
Pajang dan membuka jalan bagi Sutawijaya untuk kelak mendirikan Kesultanan
Mataram Islam.
Dengan gugurnya Arya Penangsang,
Kadipaten Jipang Panolan kehilangan pemimpinnya yang paling karismatik sekaligus
paling ambisius. Perlawanan Jipang terhadap Pajang praktis berakhir. Sultan
Hadiwijaya sebagai pemenang konflik mengukuhkan kekuasaannya atas wilayah
Jipang. Status Jipang pun berubah drastis. Dari kadipaten yang kuat dan berani
menantang pusat kekuasaan, ia kembali menjadi wilayah bawahan yang tunduk
sepenuhnya pada otoritas Kesultanan Pajang.
Sultan Hadiwijaya kemudian
menepati janjinya kepada Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Penjawi
dihadiahi wilayah Pati, sementara Ki Ageng Pemanahan mendapatkan tanah perdikan
di Alas Mentaok, yang kelak menjadi cikal bakal Kesultanan Mataram Islam di
bawah pimpinan putranya, Sutawijaya (Panembahan Senopati). Untuk Jipang
sendiri, Sultan Hadiwijaya kemungkinan menempatkan seorang Adipati baru yang
loyal kepada Pajang, mungkin dari kalangan kerabat jauh atau pejabat yang
dipercaya, untuk memastikan wilayah strategis ini tetap terkendali.
Seiring berjalannya waktu,
konstelasi politik Jawa kembali berubah. Kesultanan Pajang mengalami kemunduran
setelah wafatnya Sultan Hadiwijaya, dan pusat kekuasaan baru muncul di Mataram
di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati (Sutawijaya). Sebagai wilayah yang
sebelumnya ditaklukkan Pajang dengan peran kunci Sutawijaya, Jipang secara
alami masuk ke dalam lingkaran kekuasaan Mataram yang semakin meluas. Jipang
menjadi salah satu dari banyak kadipaten atau wilayah mancanegara (wilayah di
luar pusat kerajaan) yang berada di bawah kedaulatan Mataram.
Di bawah kekuasaan Mataram,
Jipang tidak lagi memainkan peran politik yang signifikan seperti pada masa
Arya Penangsang. Ia menjadi sebuah unit administrasi regional yang bertugas
menyetor upeti, menyediakan sumber daya alam (terutama hasil pertanian), dan
mengirimkan prajurit jika dibutuhkan oleh pusat kekuasaan Mataram di Kotagede (kemudian
Karta, Plered, dan Kartasura). Fokus pemerintahan lokal bergeser dari ambisi
politik ke pengelolaan administrasi dan pemeliharaan ketertiban sesuai arahan
dari Mataram.
Meskipun demikian, wilayah Jipang
tetap memiliki arti penting karena lokasinya di tepi Bengawan Solo dan potensi
agrarisnya. Para Adipati yang memerintah Jipang di bawah Mataram bertugas
menjaga stabilitas wilayah, mengelola sumber daya, dan memastikan loyalitas
kepada Sultan Mataram. Periode ini merupakan masa konsolidasi Jipang ke dalam
struktur kekuasaan Mataram yang lebih besar, sebuah status baru yang akan
bertahan selama beberapa abad ke depan, meskipun nama dan pusat pemerintahannya
kelak akan mengalami perubahan.
Kehidupan masyarakat di wilayah
Jipang, seperti halnya wilayah lain di sepanjang aliran Bengawan Solo, selalu
diwarnai oleh hubungan simbiosis sekaligus antagonisme dengan sungai besar
tersebut. Bengawan Solo adalah sumber kesuburan tanah melalui endapan
lumpurnya, sumber air irigasi untuk persawahan yang luas, jalur transportasi
tradisional, dan tempat mencari ikan. Kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat
sangat bergantung pada keberadaan sungai ini, membentuk pola pemukiman yang
cenderung mendekati alirannya.
Namun, berkah Bengawan Solo
selalu datang bersama ancaman. Sungai ini terkenal dengan sifatnya yang mudah
meluap saat musim penghujan tiba. Curah hujan tinggi di hulu dapat dengan cepat
menaikkan debit air sungai, menyebabkan banjir besar yang mampu merendam area
persawahan, pemukiman, dan bahkan pusat pemerintahan kadipaten. Banjir Bengawan
Solo bukan fenomena baru, melainkan siklus alam yang harus dihadapi oleh masyarakat
yang hidup di tepiannya dari generasi ke generasi.
Menurut catatan sejarah dan
tradisi lisan, pada suatu masa ketika Jipang berada di bawah kekuasaan Mataram
(kemungkinan pada abad ke-17), terjadi sebuah peristiwa banjir Bengawan Solo
yang luar biasa dahsyat. Luapan air sungai tidak hanya merendam wilayah
sekitarnya, tetapi juga menghancurkan pusat pemerintahan Kadipaten Jipang yang
saat itu diyakini masih berada di lokasi yang relatif dekat dengan pusat
kekuasaan lama era Arya Penangsang atau lokasi lain yang rawan banjir.
Kerusakan yang ditimbulkan sangat parah, melumpuhkan roda pemerintahan dan
menyebabkan penderitaan bagi rakyat.
Bencana besar ini menjadi titik
balik penting. Adipati Jipang yang memerintah saat itu, setelah berkoordinasi
dan mungkin mendapat persetujuan dari Sultan Mataram, menyadari bahwa pusat
pemerintahan tidak dapat lagi dipertahankan di lokasi yang rawan terendam
banjir bandang. Diperlukan sebuah lokasi baru yang lebih aman, berada di
dataran yang lebih tinggi, dan terlindung dari amukan Bengawan Solo di masa
mendatang. Keputusan untuk memindahkan ibu kota kadipaten pun diambil.
Proses pencarian lokasi baru
dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keamanan dari banjir, aksesibilitas,
dan potensi pengembangan di masa depan. Perpindahan pusat pemerintahan ini
bukan sekadar pemindahan fisik bangunan, tetapi juga pemindahan pusat
administrasi, ekonomi, dan sosial kadipaten. Peristiwa ini menunjukkan
bagaimana faktor alam, dalam hal ini bencana banjir Bengawan Solo, dapat secara
langsung mempengaruhi dan mengubah arah sejarah serta tata ruang sebuah
wilayah.
Sebagai konsekuensi dari
keputusan memindahkan pusat pemerintahan akibat bencana banjir Bengawan Solo,
sebuah lokasi baru dipilih untuk menjadi ibu kota Kadipaten Jipang. Lokasi baru
ini diharapkan lebih aman dari ancaman luapan sungai dan mampu menopang
fungsi-fungsi pemerintahan serta kehidupan masyarakat dengan lebih baik.
Bersamaan dengan pemindahan fisik pusat pemerintahan ini, muncul pula kebutuhan
akan nama baru untuk menandai era baru dan lokasi baru tersebut.
Nama yang kemudian dipilih untuk
pusat pemerintahan yang baru ini adalah Rajekwesi. Secara etimologis, nama ini
berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa: "Rajek" (atau Rajeg) yang
berarti pagar, tiang, atau bisa juga diartikan sebagai sesuatu yang besar atau
agung seperti Raja, dan "Wesi" yang berarti besi. Gabungan kata ini
melahirkan beberapa interpretasi makna. Bisa berarti "Pagar Besi"
yang menyimbolkan kekuatan, pertahanan, dan ketahanan terhadap bencana atau
serangan. Bisa juga diartikan sebagai "Tiang Besi" yang melambangkan
kekokohan pemerintahan baru. Ada pula yang mengartikannya sebagai "Raja
Besi" atau "Kekuatan Raja", merujuk pada kekuasaan Adipati atau
Sultan Mataram yang kuat seperti besi.
Penggunaan nama Rajekwesi untuk
ibu kota yang baru ini secara efektif menggantikan nama Jipang sebagai sebutan
untuk pusat pemerintahan kadipaten. Nama Jipang mungkin masih merujuk pada
wilayah keseluruhan atau wilayah historisnya, namun pusat administrasi kini
dikenal sebagai Rajekwesi. Nama ini mencerminkan harapan akan sebuah pusat
pemerintahan yang lebih kuat, aman, dan stabil setelah pengalaman traumatik
bencana banjir sebelumnya.
Tanggal yang sering dikaitkan
dengan peristiwa perpindahan ibu kota dan penggunaan nama baru ini, yang
kemudian dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Bojonegoro, adalah 20 Oktober
1677. Pada tanggal inilah, Adipati yang memerintah saat itu (di bawah kekuasaan
Mataram era Amangkurat II) secara resmi memindahkan pusat pemerintahan dan
menggunakan nama baru. Rajekwesi pun mulai berfungsi sebagai ibu kota, dengan
pembangunan infrastruktur pemerintahan seperti pendopo kadipaten, alun-alun,
dan fasilitas lainnya sesuai standar masa itu.
Era Rajekwesi menandai babak baru
dalam sejarah wilayah ini. Ia menjadi jembatan antara masa lalu Jipang Panolan
yang penuh gejolak dan masa depan yang akan mengarah pada pembentukan Kabupaten
Bojonegoro. Nama Rajekwesi, meskipun mungkin tidak sepopuler Jipang atau
Bojonegoro dalam narasi besar sejarah Jawa, memegang peranan penting sebagai
penanda fase reorganisasi dan adaptasi pemerintahan lokal terhadap kondisi
geografis dan dinamika politik di bawah kekuasaan Mataram.
Meskipun Rajekwesi telah menjadi
nama pusat pemerintahan yang baru, perjalanan menuju nama Bojonegoro masih
berlanjut. Dinamika politik di Kesultanan Mataram, termasuk perpecahan internal
dan intervensi kekuatan kolonial Belanda (VOC) yang semakin intensif pada abad
ke-18 dan ke-19, membawa perubahan administratif lebih lanjut di berbagai
wilayah kekuasaannya, termasuk di kadipaten yang berpusat di Rajekwesi.
Reorganisasi wilayah seringkali dilakukan untuk efisiensi pemerintahan, kontrol
politik, atau kepentingan ekonomi kolonial.
Dalam konteks inilah nama
Bojonegoro mulai muncul dan akhirnya ditetapkan sebagai nama resmi untuk
kadipaten ini. Proses perubahan nama dari Rajekwesi menjadi Bojonegoro tidak
terjadi secara mendadak, namun merupakan bagian dari penataan administratif
yang lebih luas. Ada beberapa versi mengenai asal usul nama Bojonegoro. Salah
satunya mengaitkan "Bojo" dengan kata Bhujangga yang berarti kaum
terpelajar, pujangga, atau resi, dan "Negoro" yang berarti negara
atau wilayah. Sehingga Bojonegoro bisa diartikan sebagai "Negeri Kaum
Terpelajar" atau "Negeri Para Pujangga". Interpretasi lain
mengaitkan "Bojo" dengan arti permukiman atau tempat tinggal yang
makmur.
Tanggal 20 Oktober 1677, yang
awalnya menandai perpindahan ibu kota ke Rajekwesi, kemudian secara resmi
ditetapkan oleh pemerintah daerah sebagai hari jadi Kabupaten Bojonegoro.
Penetapan ini mengikat peristiwa perpindahan ibu kota dan perubahan nama
(meskipun perubahan ke Bojonegoro mungkin terjadi sedikit lebih kemudian atau
bertahap) sebagai tonggak awal berdirinya entitas administratif yang kini
dikenal sebagai Kabupaten Bojonegoro. Nama Bojonegoro secara bertahap
menggantikan Rajekwesi dalam dokumen-dokumen resmi dan penggunaan sehari-hari.
Di bawah pemerintahan kolonial
Hindia Belanda, struktur kadipaten diubah menjadi regentschap (kabupaten)
dengan batas-batas wilayah yang lebih jelas dan sistem administrasi yang lebih
terstruktur mengikuti model Eropa. Bojonegoro ditetapkan sebagai salah satu
regentschap di bawah Karesidenan Rembang (kemudian dipindah ke Karesidenan lain
seiring perubahan kebijakan). Nama Bojonegoro pun semakin kokoh sebagai
identitas administratif wilayah ini, meliputi area yang membentang di sepanjang
bagian tengah aliran Bengawan Solo.
Kini, Kabupaten Bojonegoro
berdiri sebagai sebuah wilayah yang kaya akan sejarah. Ia mewarisi jejak
kepahlawanan dan tragedi Arya Penangsang dari era Jipang, ketahanan menghadapi
bencana alam Bengawan Solo yang melahirkan Rajekwesi, hingga dinamika politik
Mataram dan kolonialisme yang membentuknya menjadi Bojonegoro. Nama Bojonegoro
menjadi penanda akhir dari sebuah perjalanan panjang pembentukan identitas
wilayah di tepi sungai terbesar di Jawa, sebuah negeri yang terus hidup dan
berkembang dengan latar belakang sejarahnya yang unik.
Demikianlah kisah ini
diceritakan, segala kebenaran detailnya kita kembalikan kepada Awloh, tuhan
pemilik kisah kehidupan.
Komentar
Posting Komentar