Kisah Asal Usul Kabupaten Probolinggo

 

 



Alkisah, di pesisir utara Jawa bagian timur, terhampar sebuah daratan subur yang diapit oleh birunya lautan dan hijaunya pegunungan Tengger yang megah. Wilayah ini telah menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban, dari masa kerajaan-kerajaan kuno hingga terbentuknya sebuah kabupaten yang kita kenal sekarang. Inilah kisah tentang asal-usul nama Probolinggo, sebuah nama yang menyimpan jejak sejarah, legenda, dan harapan.

Jauh sebelum nama Probolinggo menggema, wilayah ini dikenal dengan sebutan Banger. Nama ini tercatat dalam berbagai sumber sejarah kuno, termasuk kemungkinan disebut dalam catatan perjalanan masa lalu. Wilayah Banger diperkirakan merupakan bagian dari mandala kekuasaan Kerajaan Majapahit yang agung, mungkin sebagai sebuah daerah lungguh atau pelabuhan kecil yang turut menyumbang denyut nadi kehidupan imperium besar tersebut. Letaknya yang strategis di tepi Selat Madura menjadikannya tempat persinggahan dan lalu lintas perdagangan.

Nama "Banger" sendiri seringkali menimbulkan berbagai tafsir. Ada yang mengartikannya secara harfiah sebagai bau yang kurang sedap atau anyir, mungkin merujuk pada kondisi rawa-rawa atau aktivitas perikanan di pesisir. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa nama tersebut bisa berasal dari jenis tumbuhan atau nama tokoh lokal pada masa itu. Terlepas dari makna pastinya, nama Banger melekat pada wilayah ini selama berabad-abad, menjadi identitas bagi masyarakat yang mendiaminya.

Kehidupan di Banger pada masa lalu kemungkinan besar diwarnai oleh kegiatan agraris di pedalaman dan aktivitas maritim di pesisir. Masyarakatnya hidup dalam tatanan sosial yang dipengaruhi oleh struktur kekuasaan Majapahit, memeluk kepercayaan Hindu-Buddha yang sinkretis, sebagaimana lazimnya pada era itu. Sungai-sungai yang mengalir dari pegunungan menjadi sumber kehidupan, mengairi sawah-sawah dan menjadi jalur transportasi vital yang menghubungkan pedalaman dengan pantai.

Sebagai bagian dari wilayah Majapahit, Banger tentu merasakan pasang surut kejayaan kerajaan tersebut. Ketika pusat kekuasaan Majapahit mulai melemah pada abad ke-15 dan ke-16, wilayah-wilayah bawahannya, termasuk Banger, mulai merasakan perubahan. Pengaruh Majapahit memudar, membuka jalan bagi kekuatan-kekuatan baru untuk muncul dan menegaskan kehadirannya di panggung sejarah Jawa Timur.

Meski demikian, nama Banger tetap bertahan melewati gejolak zaman. Ia menjadi saksi bisu transisi kekuasaan, perubahan sosial, dan dinamika budaya yang terus bergerak. Keberadaannya sebagai sebuah entitas wilayah dengan nama yang khas menunjukkan bahwa Banger memiliki sejarah panjang dan akar yang dalam sebelum akhirnya bertransformasi menjadi Probolinggo.

 

Menariknya, meskipun wilayah ini dikenal luas sebagai Banger, jejak nama "Probolinggo" (atau varian ejaannya) ternyata sudah muncul dalam catatan sejarah yang lebih tua, yakni pada masa-masa senja Kerajaan Majapahit. Kitab Pararaton, salah satu sumber penting mengenai sejarah raja-raja Jawa kuno, menyebutkan adanya seorang tokoh bernama Bhre Probolinggo. Tokoh ini adalah seorang wanita, putri dari Wikramawardhana, raja Majapahit yang memerintah setelah Hayam Wuruk.

Bhre Probolinggo tercatat sebagai penguasa sebuah wilayah apanase atau daerah vasal Majapahit. Wilayah apanase biasanya diberikan kepada kerabat dekat raja sebagai daerah lungguh atau sumber penghidupan. Keberadaan Bhre Probolinggo menunjukkan bahwa nama "Probolinggo" sebagai nama suatu tempat atau wilayah kekuasaan kemungkinan sudah eksis pada abad ke-14 atau ke-15, setidaknya dalam lingkup administrasi Kerajaan Majapahit.

Namun, perlu dicatat bahwa lokasi persis wilayah kekuasaan Bhre Probolinggo ini tidak dapat dipastikan secara mutlak sama dengan wilayah Kabupaten Probolinggo saat ini. Bisa jadi wilayahnya berbeda, atau namanya kemudian diadopsi atau dihidupkan kembali di kemudian hari untuk wilayah Banger. Namun, keberadaan nama ini dalam catatan sejarah Majapahit memberikan dimensi lain pada asal-usul nama Probolinggo.

Fakta ini menunjukkan bahwa nama "Probolinggo" bukanlah ciptaan yang sepenuhnya baru pada abad ke-18. Ia memiliki akar sejarah yang lebih lampau, terkait dengan struktur kekuasaan Majapahit. Mungkin saja nama ini terlupakan seiring runtuhnya Majapahit dan pudarnya sistem apanase, lalu kemudian diingat kembali atau ditemukan kembali ketika ada kebutuhan untuk mengganti nama Banger.

Jejak Bhre Probolinggo ini menjadi benang merah yang menghubungkan masa lalu Majapahit dengan masa depan wilayah Banger. Meskipun terpisah oleh waktu dan mungkin konteks geografis yang sedikit berbeda, keberadaan nama "Probolinggo" di era Majapahit menjadi salah satu faktor yang mungkin menginspirasi pemilihan nama baru untuk Banger kelak.

 

Seiring meredupnya pamor Majapahit, peta kekuasaan di tanah Jawa berubah drastis. Kerajaan-kerajaan Islam mulai bangkit di pesisir utara, seperti Demak dan kemudian Pajang. Puncaknya adalah kemunculan Kesultanan Mataram Islam di pedalaman Jawa Tengah, yang di bawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma, melancarkan ekspansi besar-besaran, termasuk ke arah timur.

Wilayah ujung timur Jawa, termasuk daerah yang dikenal sebagai Banger, menjadi target ekspansi Mataram. Penaklukan wilayah ini tidak selalu berjalan mulus, seringkali diwarnai perlawanan dari penguasa-penguasa lokal. Namun, kekuatan Mataram yang besar perlahan tapi pasti berhasil menancapkan pengaruhnya. Banger dan wilayah sekitarnya akhirnya berada di bawah kedaulatan Mataram Islam pada abad ke-17.

Masuknya pengaruh Mataram membawa perubahan signifikan bagi Banger. Sistem pemerintahan lokal disesuaikan dengan struktur administrasi Mataram. Penguasa lokal diangkat atau disetujui oleh Sultan Mataram dan menyandang gelar seperti Tumenggung atau Adipati, yang bertanggung jawab langsung kepada pusat kekuasaan di Karta, Plered, atau kemudian Kartasura. Pajak dan upeti harus disetorkan secara teratur ke keraton Mataram.

Selain perubahan politik dan administrasi, pengaruh Mataram juga membawa perubahan budaya dan agama. Islam, yang sebelumnya mungkin sudah mulai menyebar melalui jalur perdagangan, semakin menguat di bawah naungan kekuasaan Mataram. Tatanan sosial dan adat istiadat masyarakat Banger pun sedikit banyak mulai terpengaruh oleh budaya Jawa Tengah yang dibawa oleh para pejabat dan prajurit Mataram.

Periode ini merupakan masa transisi yang penting bagi Banger. Wilayah ini tidak lagi menjadi bagian dari sisa-sisa kekuasaan Hindu-Buddha Majapahit, tetapi telah terintegrasi ke dalam jaringan kekuasaan Kesultanan Mataram Islam yang sedang mencapai puncak kejayaannya. Fondasi baru bagi identitas dan tata kelola wilayah ini mulai diletakkan di bawah naungan panji-panji Mataram.

 

Untuk mengelola wilayah Banger yang kini berada di bawah kekuasaannya, Kesultanan Mataram menunjuk atau mengakui pemimpin-pemimpin lokal yang dianggap loyal dan mampu menjaga ketertiban serta memastikan kelancaran setoran upeti. Salah satu tokoh penting yang tercatat dalam sejarah lisan dan beberapa catatan lokal pada masa ini adalah Kyai Djojolelono. Beliau diyakini sebagai Tumenggung atau Adipati pertama yang memerintah Banger di bawah panji Mataram.

Kyai Djojolelono digambarkan sebagai sosok pemimpin yang bijaksana dan dihormati oleh rakyatnya. Tugasnya tidak ringan. Ia harus mampu menjaga stabilitas di wilayahnya, mengelola sumber daya alam dan manusia untuk kepentingan rakyat dan setoran ke Mataram, serta menjalin hubungan baik dengan keraton Mataram yang jaraknya cukup jauh. Ia menjadi perpanjangan tangan Sultan Mataram di ujung timur kekuasaannya.

Pemerintahan Kyai Djojolelono menjadi tonggak awal administrasi yang lebih terstruktur di Banger setelah periode kekosongan atau ketidakpastian pasca-Majapahit. Ia membangun pusat pemerintahan sederhana, mengatur sistem pengumpulan pajak, dan menegakkan hukum sesuai dengan aturan yang berlaku dari Mataram, yang mungkin dikombinasikan dengan hukum adat setempat yang tidak bertentangan.

Di bawah kepemimpinannya, Banger mulai menata diri sebagai bagian dari entitas politik yang lebih besar. Meskipun masih menggunakan nama Banger, fondasi untuk perubahan besar di masa depan mulai diletakkan. Peran Kyai Djojolelono tidak hanya sebagai administrator, tetapi juga sebagai figur yang mempersiapkan wilayahnya memasuki babak baru dalam sejarahnya.

Keberadaan tokoh seperti Kyai Djojolelono menunjukkan bahwa meskipun berada di bawah kekuasaan Mataram, pemerintahan lokal tetap berjalan dengan pemimpin dari kalangan masyarakat setempat yang dipercaya. Ini adalah pola umum dalam sistem pemerintahan Mataram di daerah-daerah bawahannya, yang mengandalkan elite lokal untuk menjaga stabilitas dan loyalitas.

 

Menurut salah satu versi cerita tutur yang paling populer mengenai asal-usul nama Probolinggo, perubahan nama dari Banger dipicu oleh sebuah peristiwa luar biasa. Konon, pada suatu malam di masa pemerintahan Kyai Djojolelono, masyarakat Banger dikejutkan oleh penampakan cahaya terang yang jatuh dari langit. Cahaya tersebut meluncur deras dan menghunjam ke bumi, menyerupai sebuah tugu atau tiang yang bersinar (probo berarti sinar, linggo berarti tugu atau bentuk menyerupai tiang/lingga).

Peristiwa jatuhnya benda langit yang bercahaya ini, yang kemungkinan adalah sebuah meteor, menimbulkan kehebohan sekaligus kekaguman di kalangan masyarakat Banger. Fenomena alam yang tidak biasa ini dianggap sebagai sebuah pertanda atau isyarat gaib dari Yang Maha Kuasa. Orang-orang mulai membicarakan kejadian tersebut, menganggapnya sebagai tanda akan datangnya perubahan atau era baru bagi wilayah mereka.

Kyai Djojolelono, sebagai pemimpin yang bijaksana, tentu mendengar kabar mengenai peristiwa ini. Ia mungkin merenungkan makna di balik tanda alam tersebut. Apakah ini pertanda baik atau buruk? Apakah ini isyarat bahwa nama Banger yang mungkin berkonotasi kurang baik sudah saatnya diganti dengan nama yang lebih mengandung harapan dan kemuliaan, sesuai dengan cahaya yang turun dari langit itu?

Legenda mengenai meteor jatuh ini, meskipun sulit dibuktikan kebenarannya secara historis, menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi asal-usul Probolinggo. Cerita ini memberikan dimensi mistis dan makna simbolis pada perubahan nama tersebut. Cahaya yang jatuh dianggap sebagai berkah atau wahyu yang menginspirasi lahirnya nama baru yang lebih agung.

Terlepas dari apakah peristiwa meteor itu benar-benar terjadi atau hanya sebuah kiasan, gagasan tentang sebuah "tanda yang bersinar" menjadi inti dari inspirasi nama Probolinggo. Peristiwa ini, atau setidaknya cerita mengenainya, menjadi momentum psikologis bagi masyarakat dan pemimpin Banger untuk mempertimbangkan identitas baru bagi wilayah mereka.

 

Berangkat dari pertimbangan atas nama "Banger" yang mungkin dirasa kurang pas atau berkonotasi negatif, ditambah dengan adanya peristiwa alam (meteor) atau sekadar keinginan untuk menandai era baru di bawah Mataram, Kyai Djojolelono sebagai Tumenggung Banger mulai memikirkan nama pengganti yang lebih baik dan bermakna. Beliau merasa perlu memberikan identitas baru yang membawa semangat kemajuan dan keberkahan bagi wilayah yang dipimpinnya.

Dengan mempertimbangkan peristiwa cahaya jatuh yang menyerupai tugu (probo dan linggo) dan mungkin juga mengingat kembali jejak nama "Probolinggo" dari era Majapahit akhir yang tercatat dalam Pararaton, Kyai Djojolelono mendapatkan inspirasi. Nama "Probolinggo" terdengar agung dan memiliki makna yang positif: "Sinar yang Berbentuk Tugu" atau "Tanda yang Bercahaya". Nama ini seolah merangkum harapan akan masa depan yang cerah dan petunjuk dari langit.

Kyai Djojolelono kemudian merumuskan usulan penggantian nama ini. Sebagai seorang bawahan yang loyal kepada Kesultanan Mataram, ia tidak bisa serta-merta mengubah nama wilayahnya tanpa persetujuan dari Sultan. Oleh karena itu, ia mempersiapkan argumen dan alasan yang kuat untuk mendukung usulan nama "Probolinggo" sebagai pengganti "Banger".

Usulan ini kemungkinan disampaikan melalui utusan khusus atau dilaporkan langsung saat Kyai Djojolelono melakukan pisowanan (menghadap raja) ke keraton Mataram di Kartasura. Ia menjelaskan latar belakang usulannya, mungkin menceritakan peristiwa cahaya jatuh atau sekadar menekankan makna filosofis dari nama Probolinggo yang dianggap lebih membawa wibawa dan harapan positif dibandingkan nama Banger.

Inisiatif Kyai Djojolelono ini menunjukkan visi kepemimpinannya. Ia tidak hanya menjalankan roda pemerintahan sehari-hari, tetapi juga memikirkan identitas jangka panjang dan citra wilayahnya. Usulan penggantian nama ini adalah langkah strategis untuk membangun kebanggaan masyarakat dan mendapatkan pengakuan yang lebih baik dari pusat kekuasaan Mataram.

 

Usulan penggantian nama dari Banger menjadi Probolinggo yang diajukan oleh Kyai Djojolelono (atau penerusnya) akhirnya sampai ke telinga Susuhunan Pakubuwono II, Raja Mataram yang bertahta di Kartasura saat itu. Pakubuwono II, yang memerintah dari tahun 1726 hingga 1749, mempertimbangkan usulan tersebut. Kemungkinan besar, nama "Probolinggo" yang bermakna "Sinar Berbentuk Tugu/Tanda" dianggap sebagai nama yang baik, mengandung harapan, dan sesuai dengan wibawa sebuah wilayah di bawah naungan Mataram.

Setelah melalui pertimbangan, Susuhunan Pakubuwono II memberikan Rido dan persetujuannya. Secara resmi, melalui sebuah piagam atau surat keputusan kerajaan, nama wilayah Banger diganti menjadi Probolinggo. Peristiwa bersejarah ini tercatat terjadi pada hari Kamis Kliwon, tanggal 10 Muharram tahun 1159 Hijriah, yang bertepatan dengan tanggal 4 September 1746 Masehi. Tanggal inilah yang kemudian sering diperingati sebagai hari jadi Kota Probolinggo (meskipun penetapan nama ini berlaku untuk wilayah yang lebih luas pada awalnya).

Dalam beberapa catatan sejarah lokal, disebutkan pula peran Kyai Djojodigdo. Ada versi yang menyebutkan Kyai Djojodigdo adalah penerus Kyai Djojolelono, dan beliaulah yang menerima piagam penetapan nama Probolinggo dari Pakubuwono II. Ada pula versi yang menyebut keduanya adalah tokoh yang sama atau berkolaborasi dalam proses ini. Terlepas dari detail peran masing-masing, yang pasti adalah penetapan nama Probolinggo merupakan keputusan resmi dari Raja Mataram, Pakubuwono II, pada tahun 1746.

Makna nama "Probolinggo" sendiri, seperti diurai sebelumnya, berasal dari kata Probo (sinar, cahaya, terang) dan Linggo (tugu, tanda, patok, bentuk seperti tiang). Secara harfiah bisa diartikan "Sinar yang Berbentuk Tugu". Secara simbolis, nama ini mengandung harapan akan masa depan yang cerah, petunjuk atau pedoman yang jelas, serta kemakmuran dan kewibawaan bagi wilayah tersebut dan para pemimpin serta rakyatnya. Penetapan nama ini menjadi tonggak penting dalam sejarah identitas Probolinggo.

Sejak saat itu, nama Banger perlahan mulai ditinggalkan dalam administrasi resmi dan percakapan sehari-hari, digantikan oleh nama Probolinggo yang baru dan penuh makna. Nama ini membawa semangat baru dan menjadi identitas yang melekat pada wilayah tersebut hingga kini. Keputusan Pakubuwono II pada tahun 1746 menjadi momen definitif lahirnya nama Probolinggo.

 

Setelah nama Probolinggo ditetapkan pada tahun 1746, wilayah ini terus berkembang di bawah pengaruh Mataram. Namun, kekuasaan Mataram sendiri mulai goyah akibat konflik internal dan tekanan dari kekuatan baru yang semakin dominan di Nusantara, yaitu Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda atau VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Melalui serangkaian perjanjian dan intervensi militer, VOC berhasil memperluas pengaruhnya di pesisir utara Jawa, termasuk Probolinggo.

Pada pertengahan abad ke-18 dan awal abad ke-19, Probolinggo secara bertahap jatuh ke dalam kendali VOC dan kemudian pemerintah Hindia Belanda setelah VOC dibubarkan. Di bawah pemerintahan kolonial, sistem administrasi wilayah dirombak. Pemerintah Hindia Belanda membentuk sistem Regentschap (Kabupaten) sebagai unit pemerintahan utama di Jawa. Probolinggo pun ditetapkan sebagai sebuah Regentschap dengan batas-batas wilayah yang lebih jelas, dipimpin oleh seorang Bupati (Regent) yang biasanya berasal dari kalangan elite pribumi namun bertanggung jawab kepada pejabat Belanda.

Pembentukan Kabupaten Probolinggo di bawah pemerintahan kolonial ini semakin memantapkan status Probolinggo sebagai sebuah unit administrasi yang terdefinisi. Infrastruktur seperti jalan raya (termasuk Jalan Raya Pos Daendels yang melintasinya), pelabuhan, dan jaringan irigasi mulai dibangun atau ditingkatkan untuk mendukung eksploitasi ekonomi kolonial, terutama perkebunan tebu, tembakau, dan komoditas lainnya. Kota Probolinggo berkembang menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan aktivitas ekonomi di wilayah kabupaten.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Kabupaten Probolinggo menjadi bagian dari Provinsi Jawa Timur. Seiring perkembangan zaman dan pertumbuhan populasi serta ekonomi, pusat pemerintahan di Kota Probolinggo semakin berkembang hingga kemudian pada tahun 1982, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1982, status Kota Probolinggo ditingkatkan menjadi Kota Administratif, dan selanjutnya menjadi Kota Otonom (Kotamadya, kini Kota) yang terpisah dari Kabupaten Probolinggo.

Kini, Kabupaten Probolinggo dan Kota Probolinggo berdiri sebagai dua entitas pemerintahan yang berbeda, namun berbagi sejarah, nama, dan akar budaya yang sama. Nama Probolinggo, yang lahir dari perpaduan legenda, sejarah, dan keputusan raja Mataram lebih dari dua setengah abad yang lalu, terus menjadi identitas kebanggaan bagi masyarakat di kedua wilayah tersebut, membawa warisan masa lalu menuju masa depan.

Demikianlah kisah ini diceritakan, segala kebenaran detailnya kita kembalikan kepada Allah, tuhan pemilik kisah kehidupan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Legenda Putri Gunung Ledang, Cerita Rakyat Malaka

Kisah Asal-Usul Padi, Legenda Dewi Sri

KISAH ASAL USUL SUKU TOLAKI (SULAWESI)