Kisah Putri Kangkung, Cerita Dongeng

 

 


Di sebuah lekuk bumi yang diberkahi kesuburan, terhampar sebuah desa damai di tepi sungai besar yang mengalir tenang. Sungai ini adalah urat nadi kehidupan, memberikan air untuk sawah dan ladang, serta menjadi rumah bagi ikan-ikan yang menghidupi penduduknya. Di antara penduduk desa itu, hiduplah seorang gadis bernama Laras. Sejak kecil, ia telah kehilangan kedua orang tuanya dan kini tinggal bersama bibinya yang baik hati di sebuah gubuk sederhana yang menghadap langsung ke aliran sungai. Laras dikenal bukan karena kecantikannya semata, meskipun wajahnya memancarkan kelembutan yang menawan, melainkan karena kebun kangkung miliknya.

Tak ada yang bisa menandingi kangkung Laras. Batangnya hijau segar, daunnya lebar dan ranum, tumbuh subur di petak-petak kecil yang ia rawat dengan penuh kasih sayang di tepi sungai. Kangkung hasil panennya selalu menjadi rebutan di pasar desa, terkenal karena rasa dan kesegarannya. Karena itulah, orang-orang di desa memberinya julukan sayang, "Si Gadis Kangkung". Laras menerima julukan itu dengan senyum tulus, tak pernah merasa rendah diri karenanya. Baginya, merawat kangkung adalah caranya menyatu dengan alam dan sungai yang ia cintai.

Meskipun hidup dalam kesederhanaan, ada sesuatu yang berbeda pada diri Laras. Gerak-geriknya memiliki keanggunan alami yang tak biasa dimiliki gadis desa sebayanya. Tutur katanya lembut dan penuh pemikiran. Matanya memancarkan kedalaman yang tenang, seolah menyimpan rahasia atau kenangan dari masa lalu yang tak ia ingat. Ia sering termangu menatap aliran sungai yang tak berujung, merasa ada bagian dari dirinya yang terhubung dengan air itu dalam cara yang tak bisa ia jelaskan.

Bibinya sering berkata bahwa Laras ditemukan terdampar di tepi sungai saat masih bayi mungil, terbungkus selimut tipis, tanpa petunjuk siapa orang tuanya. Kehidupannya adalah sebuah misteri yang ia terima dengan lapang dada, mengisi hari-harinya dengan kerja keras, kebaikan kepada sesama, dan merawat tanaman kangkungnya. Ia adalah bunga sederhana yang tumbuh di tepi sungai, memancarkan keindahan dalam diam, belum menyadari takdir besar yang menunggunya di hilir sana.

Kehidupan Laras mengalir seperti sungai di dekat rumahnya – tenang di permukaan, namun menyimpan arus dan kedalaman di bawahnya. Ia bahagia dengan kesederhanaannya, dicintai oleh bibi dan para tetangganya. Namun, terkadang, saat bulan purnama menggantung di atas permukaan sungai, sebuah kerinduan aneh menyelinap ke dalam hatinya, kerinduan akan sesuatu yang hilang, sesuatu yang tak bernama, seperti bisikan samar yang dibawa angin dari arah hilir.

 

Suatu pagi, kabut tipis masih menyelimuti permukaan sungai, menciptakan suasana magis dan senyap. Embun berkilauan di setiap helai daun kangkung Laras bagaikan permata kecil. Seperti biasa, Laras sudah berada di petak kebunnya sejak fajar baru merekah. Ia sedang membersihkan gulma dan memeriksa akar-akar kangkungnya, memastikan mereka mendapatkan cukup air dan ruang untuk tumbuh. Tangannya yang ramping cekatan bergerak di antara lumpur dan air dangkal.

Tiba-tiba, jari-jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin di bawah permukaan air, tersembunyi di antara jalinan akar kangkung yang lebat. Bukan batu biasa, rasanya seperti logam. Rasa ingin tahu mendorongnya untuk menggali lebih dalam dengan hati-hati. Perlahan, ia menarik keluar sebuah benda kecil yang tertutup lumpur. Setelah membersihkannya dengan air sungai yang jernih, tampaklah sebuah liontin tua.

Liontin itu berbentuk bulat pipih, terbuat dari logam yang tampak seperti perak atau emas putih, kini kusam dan sedikit penyok di salah satu sisinya, menunjukkan usianya yang sudah tua dan mungkin perjalanan yang keras. Namun, ukiran di permukaannya masih terlihat jelas: sebuah simbol bunga teratai air yang sedang mekar dengan indah, dikelilingi oleh pola gelombang air yang halus. Ukiran itu dibuat dengan keahlian tinggi, memancarkan aura keanggunan yang tak lekang oleh waktu, meskipun kondisinya sudah usang. Liontin itu terasa berat di tangannya, menyimpan beban sejarah yang tak ia ketahui.

Laras memandangi liontin itu dengan perasaan campur aduk. Ia belum pernah melihat benda seperti ini sebelumnya di desanya. Siapa pemiliknya? Bagaimana bisa benda berharga ini terdampar di antara akar kangkungnya? Ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya saat menyentuh ukiran teratai itu – sebuah getaran samar, seolah liontin itu mengenalinya. Entah mengapa, ia merasa harus menyimpan benda ini, menjaganya sebagai rahasia kecilnya.

Dengan hati-hati, ia menyelipkan liontin itu ke dalam lipatan bajunya, dekat dengan jantungnya. Ia melanjutkan pekerjaannya membersihkan kangkung, namun pikirannya terus kembali pada penemuan misterius itu. Kabut pagi perlahan sirna disinari matahari, namun kabut pertanyaan kini menyelimuti benak Laras. Ia merasa bahwa liontin ini bukan sekadar benda hilang biasa; ia adalah kunci, sebuah petunjuk yang baru saja muncul dari kedalaman sungai kehidupannya.

 

Sejak hari penemuan liontin itu, tidur Laras tidak lagi sama. Malam-malamnya kini dihiasi oleh mimpi-mimpi yang aneh namun terasa begitu nyata. Ia bermimpi berjalan di koridor-koridor sebuah istana megah yang dindingnya terbuat dari batu pualam putih, terletak persis di tepi sungai besar yang airnya berkilauan jernih. Dalam mimpinya, ia mendengar suara gemericik air dari pancuran di taman istana dan merasakan angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga-bunga eksotis yang tak pernah ia lihat di desanya.

Yang paling sering muncul dalam mimpinya adalah sosok seorang wanita berwajah sangat lembut dan penuh kasih sayang. Wanita itu duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke sungai, menyanyikan sebuah lagu nina bobo dengan melodi yang indah dan menenangkan. Laras tidak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas, selalu tertutup bayangan atau cahaya lembut, namun ia merasakan kehangatan dan cinta yang memancar darinya. Melodi nina bobo itu terus terngiang di telinganya bahkan setelah ia terbangun, meninggalkan perasaan rindu yang mendalam.

Suatu hari, saat sedang berganti pakaian setelah bekerja di kebun kangkungnya, Laras tak sengaja melihat pantulan bahu kirinya di permukaan air dalam tempayan. Ia memperhatikan tanda lahir kecil yang ada di sana, sesuatu yang sudah ia miliki sejak ia ingat. Biasanya ia tak terlalu memikirkannya, hanya sebuah noktah kecoklatan biasa. Namun kali ini, saat ia mengamatinya lebih dekat, jantungnya berdegup kencang. Bentuk tanda lahir itu… ia buru-buru mengeluarkan liontin dari tempat persembunyiannya. Dengan tangan gemetar, ia membandingkan tanda lahirnya dengan ukiran simbol di liontin. Sama persis! Bentuknya adalah bunga teratai air yang sedang mekar.

Sebuah kesadaran mulai merayap dalam benaknya. Mungkinkah ada hubungan antara dirinya, liontin ini, mimpi-mimpi aneh itu, dan asal-usulnya yang misterius? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, membuatnya gelisah. Liontin itu sendiri seolah memiliki kehidupannya sendiri. Kadang, saat ia pegang erat atau saat ia berada sangat dekat dengan tepi sungai, ia merasakan liontin itu menghangat sedikit, seolah merespons sesuatu.

Laras menyimpan semua ini rapat-rapat dalam hatinya. Ia takut jika menceritakannya pada bibinya atau orang lain, mereka akan menganggapnya aneh atau berkhayal. Namun, penemuan liontin dan kesamaan tanda lahirnya telah menanamkan benih keraguan dan harapan di dalam dirinya. Ia mulai lebih sering memperhatikan aliran sungai, bertanya-tanya rahasia apa lagi yang disimpannya, dan ke mana arus takdir akan membawanya pergi dari tepi kebun kangkungnya yang sederhana.

 

Mentari bersinar cerah, memantulkan kilaunya di permukaan sungai yang mengalir tenang. Laras sedang sibuk memanen kangkung, mengikatnya menjadi ikatan-ikatan rapi untuk dibawa ke pasar keesokan harinya. Tiba-tiba, perhatiannya teralihkan oleh suara percikan air yang tak biasa dan seruan tertahan dari arah hilir, tak jauh dari petak kebunnya. Ia melihat sebuah perahu lesung kecil yang indah, jenis yang biasa digunakan oleh para bangsawan, tersangkut cukup parah di antara rumpun tanaman liar yang tumbuh lebat di tepi sungai. Seorang pemuda berpakaian bagus tampak berusaha melepaskan perahunya, namun usahanya sia-sia.

Tanpa ragu, Laras mendekat dengan perahu kecilnya yang biasa ia gunakan untuk menjangkau petak kangkung terjauh. "Apakah Anda butuh bantuan, Tuan?" tanyanya lembut. Pemuda itu mendongak, sedikit terkejut melihat seorang gadis muncul dari balik rimbunnya tanaman kangkung. Dia adalah Pangeran Arya, putra mahkota dari kerajaan besar yang terletak di hilir sungai. Ia gemar menjelajah sendiri, mencari ketenangan dari hiruk pikuk istana, dan hari ini ia telah mendayung lebih jauh ke hulu daripada biasanya.

"Ah, ya, terima kasih. Perahu saya tersangkut," jawab Pangeran Arya, sedikit malu. Ia terpesona sesaat oleh pemandangan di depannya. Bukan hanya kecantikan alami Laras yang menarik perhatiannya, tetapi juga ketenangan dan kecekatan gadis itu saat ia dengan ahli mengarahkan perahunya mendekat dan menunjukkan cara melepaskan perahu sang pangeran dari jeratan tanaman liar. Ada semacam keanggunan dalam setiap gerakannya, bahkan saat ia melakukan pekerjaan sederhana itu.

Setelah perahu berhasil dibebaskan, Pangeran Arya memperkenalkan dirinya, meskipun ia tidak secara eksplisit menyebut statusnya sebagai pangeran. Ia bertanya tentang kebun kangkung yang subur itu, dan Laras dengan senang hati menjelaskan cara ia merawatnya. Mereka berbincang sejenak. Pangeran Arya terkesan dengan cara Laras berbicara, kecerdasannya yang terpancar di balik kesederhanaannya, dan matanya yang jernih memancarkan kebaikan hati. Ia belum pernah bertemu gadis seperti Laras di lingkungan istananya yang penuh kepura-puraan.

Di sisi lain, Laras merasakan getaran aneh saat bertatapan dengan pemuda itu. Ada kebaikan dan ketulusan dalam senyumnya, namun Laras juga menyadari perbedaan besar di antara mereka dari pakaian dan cara bicara sang pemuda. Sebuah ketertarikan halus mulai tumbuh di antara keduanya dalam pertemuan singkat itu, sebuah percikan yang tak terduga di tepi sungai. Namun, kesadaran akan dunia mereka yang berbeda menjadi dinding tak terlihat. Akhirnya, Pangeran Arya berpamitan, mengucapkan terima kasih sekali lagi, dan berjanji akan lebih berhati-hati. Saat perahunya menjauh menyusuri sungai, ia tak bisa berhenti memikirkan "Si Gadis Kangkung" yang memesona itu, sementara Laras kembali ke pekerjaannya, hatinya sedikit terusik oleh pertemuan tak terduga tersebut.

 

Beberapa waktu setelah pertemuan Laras dengan Pangeran Arya, awan kelabu mulai menggantung di atas kerajaan hilir. Bukan awan hujan yang dinanti, melainkan awan kecemasan. Sungai besar yang menjadi sumber kehidupan utama kerajaan mulai menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Alirannya melambat, debit airnya menyusut hari demi hari tanpa alasan yang jelas. Sumur-sumur di desa mulai mengering, sawah-sawah retak kekurangan air, dan panen terancam gagal total. Ikan-ikan mati terapung di sungai yang semakin dangkal.

Kegelisahan merayap di seluruh negeri. Rakyat mulai berbisik tentang kutukan atau kemarahan Yang Kuasa. Di istana, Raja dan para penasihatnya dilanda kebingungan dan keputusasaan. Berbagai upaya ritual dan doa telah dilakukan, namun sungai terus menyusut. Tabib dan ahli pengairan terbaik dipanggil, tetapi tak ada yang bisa menjelaskan fenomena aneh ini atau menghentikannya. Kerajaan yang biasanya makmur dan hidup kini terancam bencana kelaparan dan kekacauan.

Di tengah keputusasaan itu, seorang penasihat tua yang telah mengabdi pada keluarga kerajaan selama beberapa generasi teringat pada sebuah naskah kuno yang tersimpan di perpustakaan istana. Naskah itu berisi ramalan yang telah lama dilupakan, berbicara tentang masa sulit ketika aliran kehidupan sungai akan terancam karena hilangnya keseimbangan spiritual kerajaan. Ramalan itu menyebutkan bahwa harapan satu-satunya terletak pada kembalinya "Putri Sungai yang Hilang".

Menurut ramalan, sang putri adalah keturunan langsung dari garis pelindung sungai, yang ditandai dengan simbol suci teratai air mekar di tubuhnya. Konon, ia hilang saat masih bayi dalam sebuah tragedi di sungai bertahun-tahun silam. Kembalinya sang putri, yang akan membawa serta artefak kuno berbentuk teratai air, akan memulihkan hubungan spiritual kerajaan dengan sungai dan mengembalikan alirannya seperti sedia kala. Kabar tentang ramalan ini dengan cepat menyebar, membangkitkan secercah harapan sekaligus skeptisisme di kalangan rakyat dan pejabat istana.

Di desa hulu, Laras juga merasakan dampak surutnya sungai, meskipun tidak separah di hilir. Petak kangkungnya mulai sulit mendapatkan air yang cukup. Ia mendengar kabar tentang bencana kekeringan di kerajaan hilir dan ramalan tentang Putri Sungai yang Hilang dengan simbol teratai air. Jantungnya berdebar kencang. Liontin di lehernya terasa semakin hangat, dan mimpi-mimpinya tentang istana di tepi sungai menjadi semakin jelas. Ia menatap tanda lahir di bahunya, lalu ke liontinnya. Mungkinkah ini semua bukan kebetulan? Mungkinkah ia adalah jawaban atas bencana yang melanda?

 

Perasaan bahwa dirinya terhubung dengan bencana kekeringan dan ramalan kuno itu semakin kuat dalam diri Laras. Liontin teratai air di lehernya seolah berdenyut pelan, memanggilnya. Mimpi-mimpinya kini sering diakhiri dengan gambaran gerbang istana yang megah dan aliran sungai yang menyedihkan. Setelah berhari-hari merenung dan berdoa memohon petunjuk kepada Sang Pencipta, Laras membulatkan tekadnya. Ia harus pergi ke kerajaan hilir, membawa liontin itu, meskipun ia tidak tahu apa yang menantinya di sana.

Dengan hanya membawa bekal seadanya dan mengenakan pakaian terbaiknya yang sederhana, Laras berpamitan pada bibinya, mengatakan ia ingin mencoba mencari peruntungan di kota hilir. Ia menaiki perahu kecilnya dan mulai mendayung mengikuti aliran sungai yang lesu. Perjalanan itu tidak mudah. Arus yang lemah membuatnya harus bekerja keras mendayung. Beberapa kali ia harus menyeret perahunya melewati bagian sungai yang dangkal dan berbatu. Namun, setiap kali ia merasa lelah atau putus asa, sentuhan pada liontin di lehernya seolah memberinya kekuatan baru.

Setelah berhari-hari perjalanan yang melelahkan, akhirnya tembok tinggi istana kerajaan hilir mulai terlihat di kejauhan. Kemegahannya membuat Laras merasa kecil dan gentar. Saat ia mendekati dermaga khusus di dekat gerbang utama istana, perahu kecilnya dan penampilannya yang sederhana segera menarik perhatian para penjaga. Mereka memandangnya dengan curiga, siap mengusirnya. Laras mencoba menjelaskan tujuannya, tetapi suaranya bergetar karena gugup dan kelelahan.

Tepat pada saat itu, Pangeran Arya sedang berjalan di dekat gerbang, mengawasi kondisi sungai yang memprihatinkan. Matanya menangkap sosok gadis yang tampak familier di dermaga. Ia segera mengenali Laras, "Si Gadis Kangkung" yang telah menolongnya beberapa waktu lalu. Ia terkejut melihat Laras berada di sini, apalagi dalam kondisi seperti ini. Namun, saat Laras tanpa sadar menyentuh liontin di lehernya, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin itu memancarkan cahaya keperakan yang redup namun nyata, dan pada saat yang bersamaan, lambang kerajaan yang terukir di gerbang istana – sebuah teratai air mekar yang sama persis – tampak seolah ikut berpendar sesaat.

Para penjaga terkesiap melihat fenomena itu. Pangeran Arya pun tertegun. Ia segera memerintahkan penjaga untuk membiarkan Laras masuk dan mendekatinya. "Gadis Kangkung? Apa yang membawamu kemari? Dan liontin itu..." tanyanya, matanya tertuju pada liontin yang kini kembali normal. Laras, dengan keberanian yang tersisa, menunjukkan liontin dan tanda lahir di bahunya. Pengungkapan awal ini, disaksikan oleh Pangeran dan para penjaga, menjadi langkah pertama menuju terkuaknya sebuah rahasia besar kerajaan.

 

Kabar tentang kedatangan Laras, liontin teratai air, tanda lahirnya, dan cahaya aneh di gerbang istana dengan cepat sampai ke telinga Raja dan dewan penasihat. Laras segera dibawa menghadap ke balairung utama istana yang megah namun kini terasa suram karena bencana yang melanda. Di sana, di hadapan Raja yang tampak lelah dan para pejabat istana yang memasang wajah penuh selidik, Laras berdiri dengan jantung berdebar kencang.

Keraguan segera memenuhi udara. Banyak bangsawan dan penasihat yang skeptis. "Bagaimana mungkin seorang gadis desa biasa, seorang penjual kangkung, menjadi Putri Sungai yang hilang?" bisik salah satu dari mereka dengan nada mencemooh. Seorang menteri yang berpengaruh bahkan secara terbuka menuduh Laras sebagai penipu yang memanfaatkan situasi untuk mencari ketenaran atau keuntungan. Julukan "Putri Kangkung" pun dilontarkan dengan nada mengejek oleh beberapa orang. Laras hanya bisa menunduk, menggenggam erat liontinnya.

Namun, Pangeran Arya maju ke depan. Ia menceritakan pertemuannya dengan Laras sebelumnya, menekankan kebaikan hati dan ketulusan gadis itu. Ia juga bersaksi tentang cahaya aneh yang ia lihat sendiri di gerbang istana saat liontin itu berdekatan dengan lambang kerajaan. "Ayahanda, di saat seperti ini, kita tidak boleh menutup mata pada harapan sekecil apa pun. Ramalan itu menyebutkan tanda dan artefak. Gadis ini memilikinya. Kita harus memberinya kesempatan untuk membuktikannya," ujar Pangeran Arya dengan tegas.

Setelah perdebatan singkat, Raja akhirnya setuju untuk melakukan ujian terakhir sesuai dengan legenda yang menyertai ramalan. Di tengah balairung, terdapat sebuah altar kuno tempat Batu Pusaka Sungai diletakkan. Batu itu konon adalah jantung spiritual sungai, sebuah kristal besar yang dulunya memancarkan cahaya biru lembut, namun telah redup dan kehilangan sinarnya sejak sang putri hilang. Laras diminta untuk maju dan menyentuhkan liontinnya pada Batu Pusaka tersebut.

Dengan langkah gemetar, diiringi tatapan mata penuh harap sekaligus keraguan dari seisi balairung, Laras mendekati altar. Saat tangannya yang membawa liontin terulur untuk menyentuh permukaan Batu Pusaka yang dingin, melodi nina bobo dari mimpinya tiba-tiba mengalun tanpa sadar dari bibirnya. Suaranya lembut namun jernih, memenuhi keheningan balairung. Begitu liontin bersentuhan dengan Batu Pusaka, keajaiban terjadi. Keduanya bersinar bersamaan dengan cahaya biru keperakan yang menyilaukan, menerangi seluruh ruangan. Pada saat yang sama, terdengar suara gemuruh samar dari luar istana, suara air yang mengalir deras! Laporan segera datang dari para pengawas sungai: air sungai besar mulai naik dan mengalir deras kembali! Tanda lahir di bahu Laras, yang kini terlihat jelas dalam cahaya batu pusaka, menjadi segel terakhir pembuktian identitasnya. Putri yang hilang telah kembali.

 

Cahaya dari liontin dan Batu Pusaka perlahan meredup, meninggalkan keheningan penuh takjub di balairung. Tak ada lagi keraguan. Gadis sederhana yang datang dari hulu sungai itu adalah Putri Anjani, putri Raja yang hilang bertahun-tahun lalu saat perahunya terbalik dalam badai mendadak di sungai. Ia rupanya hanyut jauh ke hulu dan ditemukan oleh seorang nelayan baik hati yang kemudian menitipkannya pada bibi Laras. Identitasnya yang tersembunyi kini terungkap, takdirnya terpenuhi.

Transformasi status Laras dari "Si Gadis Kangkung" menjadi Putri Anjani disambut dengan haru dan sukacita oleh Raja dan Pangeran Arya, serta sebagian besar rakyat yang mendengar kabar baik tentang kembalinya aliran sungai. Mereka yang tadi mencemooh kini terdiam malu. Julukan "Putri Kangkung" yang tadinya bernada ejekan, kini justru melekat padanya sebagai panggilan sayang. Itu menjadi simbol identitas gandanya: seorang putri berdarah biru yang memiliki hati rakyat jelata, yang memahami arti kerja keras dan kesederhanaan, sekuat dan setahan banting tanaman kangkung yang tumbuh subur di tepi air kehidupan.

Penghalang antara Putri Anjani dan Pangeran Arya kini sirna. Cinta yang mulai bersemi di antara mereka saat pertemuan pertama di tepi sungai kini dapat tumbuh dengan bebas, direstui oleh Raja dan didukung oleh harapan rakyat akan masa depan kerajaan yang cerah. Sang Putri tidak melupakan asal-usulnya. Ia membawa kebijaksanaan dan kepedulian yang ia pelajari selama hidup sederhana di desa ke dalam lingkungan istana. Ia sering mengunjungi daerah tepi sungai, berbicara dengan para petani dan nelayan, memastikan kebijakan kerajaan berpihak pada kesejahteraan mereka.

Di taman istana yang indah, atas permintaannya, dibuatkan sebuah kolam kecil tempat ia menanam kangkung – sebagai pengingat akan masa lalunya dan simbol kesuburan serta ketahanan. Kerajaan pun kembali makmur, sungai mengalirkan berkahnya tanpa henti, dijaga oleh seorang putri yang memahami bahwa keagungan sejati tidak terletak pada mahkota emas atau gaun sutra, melainkan pada hati yang terhubung dengan denyut nadi kehidupan rakyatnya dan alam semesta.

Kisah Putri Kangkung menjadi legenda abadi, mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh tempat ia dilahirkan atau pekerjaan yang ia lakukan. Keberanian untuk mengikuti kata hati, ketulusan dalam bertindak, dan kebaikan yang tulus adalah permata yang sesungguhnya. Seperti kangkung yang sederhana namun penuh gizi dan tumbuh subur di mana ada air, Putri Anjani membuktikan bahwa kekuatan sejati seringkali datang dari tempat yang paling tak terduga, membawa harapan dan pemulihan bagi semua, sesuai kehendak Yang Kuasa yang penuh misteri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Legenda Putri Gunung Ledang, Cerita Rakyat Malaka

KISAH ASAL USUL SUKU TOLAKI (SULAWESI)

Kisah Asal-Usul Padi, Legenda Dewi Sri