Kisah Setan Takut dan Lari Jika Berpapasan dengan Umar
Setelah memeluk Islam, Umar bin
Khattab menjadi salah satu sahabat yang paling dekat dan setia kepada
Rosulullah. Ia senantiasa berusaha berada di samping Nabi Muhammad, menyerap
ilmu, meneladani akhlak, dan memberikan dukungan penuh dalam setiap perjuangan
dakwah. Kecintaannya kepada Rosulullah begitu mendalam, melebihi cintanya
kepada dirinya sendiri dan keluarganya. Ia siap mengorbankan apa saja demi
melindungi dan membela Nabi Muhammad.
Kedekatan ini bukan hanya
hubungan antara pemimpin dan pengikut, tetapi juga persahabatan yang tulus.
Umar seringkali terlibat dalam musyawarah dengan Rosulullah, memberikan
pandangan dan usulan berdasarkan pemahamannya yang tajam dan imannya yang kuat.
Menariknya, dalam beberapa peristiwa penting, pendapat Umar ternyata sejalan
atau bahkan mendahului turunnya wahyu Allah. Misalnya, usulannya mengenai
penetapan Maqam Ibrahim sebagai tempat salat, anjuran mengenai hijab bagi
istri-istri Nabi, dan sikap tegasnya terhadap tawanan Perang Badar.
Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan
betapa jernihnya pandangan spiritual Umar (firasah) dan betapa Allah memberikan
ilham kepadanya. Meskipun demikian, Umar tetaplah seorang murid yang patuh.
Ketika pendapatnya berbeda dengan keputusan Rosulullah, seperti dalam
Perjanjian Hudaibiyah yang awalnya ia anggap merugikan kaum Muslimin, Umar pada
akhirnya tunduk dan patuh pada keputusan Nabi Muhammad, menunjukkan kedalaman
iman dan adabnya kepada sang utusan Allah.
Rosulullah pun sangat menghargai
dan mencintai Umar. Beliau sering memuji kecerdasan, kekuatan iman, dan
ketegasan Umar dalam kebenaran. Kedekatan inilah yang turut membentuk karakter
kepemimpinan Umar di kemudian hari. Ia belajar langsung dari sumber terbaik,
meneladani kebijaksanaan, kesabaran, dan keadilan Rosulullah, yang menjadi bekal
utamanya saat memikul amanah sebagai Khalifah setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Salah satu bukti nyata tingginya
kedudukan Umar bin Khattab di sisi Allah dan Rosulullah Nya terekam dalam
sebuah hadis masyhur yang diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqas. Hadis ini
mengisahkan sebuah momen unik yang menunjukkan betapa disegani nya Umar, bahkan
oleh makhluk gaib seperti setan. Peristiwa ini terjadi di Madinah, di kediaman
Nabi Muhammad.
Pada suatu hari, Umar bin Khattab
datang meminta izin untuk bertemu Rosulullah. Saat itu, di dalam rumah Nabi
Muhammad sedang ada beberapa wanita dari kaum Quraisy yang sedang berbincang
dengan beliau. Suara mereka terdengar cukup keras, dan mereka tampak cukup
leluasa bertanya dan mungkin meminta sesuatu kepada Nabi Muhammad. Suasana
terasa akrab dan tidak formal, menunjukkan kedekatan mereka dengan Rosulullah.
Namun, seketika suasana berubah
drastis begitu Umar bin Khattab meminta izin untuk masuk. Mendengar suara Umar
yang khas dengan ketegasannya, para wanita tersebut seketika terdiam. Mereka
buru-buru merapikan diri, bahkan ada yang disebutkan segera mengenakan hijabnya
dengan lebih sempurna atau mencari tempat untuk sedikit menepi, seolah-olah
muncul rasa segan dan hormat yang luar biasa terhadap Umar. Keberanian dan
kelantangan mereka saat berbicara dengan Nabi Muhammad seakan sirna seketika.
Perubahan suasana yang begitu
cepat dan kontras ini tidak luput dari perhatian Nabi Muhammad. Beliau yang
menyaksikan bagaimana para wanita itu seketika menjadi pendiam dan malu-malu
karena kedatangan Umar, tersenyum. Senyuman Rosulullah ini bukanlah senyum
biasa, melainkan senyum yang mengandung makna dan hikmah, yang kemudian akan
beliau jelaskan kepada Umar, sang penyebab perubahan suasana tersebut.
Melihat Nabi Muhammad tersenyum
setelah para wanita itu terdiam karena kedatangannya, Umar bin Khattab merasa
penasaran. Dengan adab yang baik, ia bertanya kepada Rosulullah, "Semoga Allah
senantiasa membuatmu gembira, wahai Rosulullah, apa yang membuatmu
tersenyum?" Umar ingin mengetahui alasan di balik senyuman Nabi, terutama
karena senyuman itu muncul tepat setelah momen kedatangannya yang mengubah
perilaku para wanita tersebut.
Nabi Muhammad kemudian
menjelaskan penyebab senyumannya. Beliau berkata (maknanya), "Aku heran
dengan para wanita ini. Tadi mereka bersamaku dan berbicara dengan cukup keras.
Namun, begitu mendengar suaramu, mereka segera bergegas merapikan hijabnya (atau
menjadi pendiam)." Penjelasan ini menunjukkan kontras sikap para wanita
itu terhadap Nabi Muhammad yang penuh kelembutan dan terhadap Umar yang dikenal
tegas.
Setelah memberikan penjelasan
awal tersebut, Nabi Muhammad kemudian menyampaikan sabda beliau yang sangat
terkenal mengenai Umar bin Khattab. Beliau bersabda kepada Umar (maknanya):
"Demi Zat yang jiwaku berada di tangan Nya (Demi Allah), sungguh tidaklah
setan menemuimu sedang berjalan di suatu jalan (atau lembah), melainkan ia akan
mencari jalan lain selain jalan yang engkau lalui." Sabda ini diucapkan
langsung oleh lisan mulia Rosulullah sebagai sebuah penegasan akan kedudukan
istimewa Umar.
Pernyataan ini bukan sekadar
pujian biasa. Ini adalah sebuah kesaksian dari Nabi Muhammad tentang tingkat
kekuatan iman dan ketakwaan Umar bin Khattab yang begitu tinggi. Sabda ini
mengisyaratkan bahwa aura kebenaran, ketakwaan, dan ketegasan Umar dalam
memegang syariat Allah begitu kuat sehingga bahkan setan pun, musuh nyata
manusia, merasa gentar dan memilih untuk menghindarinya. Ini adalah pengakuan
atas benteng iman yang kokoh yang ada pada diri Umar.
Sabda Nabi Muhammad bahwa setan
akan lari dan mencari jalan lain jika berpapasan dengan Umar bin Khattab
bukanlah berarti setan takut pada kekuatan fisik Umar semata. Makna yang
terkandung jauh lebih dalam dari itu. Ketakutan setan terhadap Umar bersumber
dari kekuatan iman, ketakwaan, kejernihan hati, dan ketegasan Umar dalam
memegang teguh kebenaran serta kebenciannya yang luar biasa terhadap segala
bentuk kebatilan dan kemungkaran.
Setan adalah representasi
kegelapan, keraguan, godaan, dan kebohongan. Ia berkembang biak dalam hati yang
lalai, jiwa yang lemah, dan lingkungan yang penuh maksiat. Sebaliknya, Umar bin
Khattab adalah perwujudan cahaya iman yang terang benderang, keyakinan yang
kokoh, dan sikap yang tanpa kompromi terhadap kebatilan. Di mana ada Umar
dengan ketegasannya membela Al-Haq (kebenaran), di situ tidak ada tempat bagi
setan untuk menyebarkan was-was dan tipu dayanya. Kehadiran Umar seolah menjadi
penangkal otomatis bagi pengaruh jahat setan.
Ketegasan Umar dalam menjalankan
syariat Allah, keadilannya yang tanpa pandang bulu, dan keberaniannya dalam
amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran)
menciptakan sebuah aura spiritual yang membuat setan tidak nyaman dan memilih
menghindar. Setan tahu bahwa menggoda Umar adalah usaha yang sia-sia, bahkan
berisiko. Umar memiliki firasah (pandangan batin) yang tajam dan selalu waspada
terhadap tipu daya setan, serta senantiasa berlindung kepada Allah.
Oleh karena itu, sabda Nabi ini
merupakan pelajaran berharga bahwa kekuatan sejati seorang mukmin terletak pada
kualitas imannya. Semakin kuat iman seseorang, semakin teguh ia di atas
kebenaran, semakin benci ia pada kebatilan, maka semakin lemah pula pengaruh
setan terhadap dirinya. Umar bin Khattab adalah teladan puncak dalam hal ini,
di mana benteng imannya begitu kokoh sehingga mampu membuat musuh abadi manusia
itu lari ketakutan.
Kisah ketegasan Umar bin Khattab
yang bahkan membuat setan takut dan lari bukanlah sekadar cerita masa lalu.
Warisan keteladanan Umar terus relevan sepanjang zaman. Setelah wafatnya Nabi
Muhammad dan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar memimpin umat Islam sebagai Khalifah
kedua. Masa pemerintahannya dikenal sebagai era keemasan Islam, diwarnai dengan
penegakan keadilan yang luar biasa, perluasan wilayah dakwah yang pesat, serta
penataan administrasi negara yang cemerlang. Semua itu dijalankan dengan
semangat Al-Faruq, membedakan yang hak dan batil, serta rasa takut hanya kepada
Allah.
Kehidupan Umar bin Khattab, dari
masa Jahiliyah hingga menjadi Amirul Mukminin, memberikan banyak pelajaran
berharga. Keberaniannya dalam menyatakan kebenaran setelah mendapat hidayah,
ketegasannya dalam menjalankan syariat, keadilannya yang menjadi dambaan,
kesederhanaan hidupnya meskipun menjadi pemimpin imperium besar, dan tentu
saja, kekuatan imannya yang menggentarkan setan, semuanya adalah inspirasi bagi
umat Islam. Ia menunjukkan bahwa kekuatan fisik dan kecerdasan akan menjadi
berkah jika disalurkan untuk membela agama Allah.
Kisah Umar bin Khattab dan sabda
Nabi ini mengajarkan kita pelajaran berharga tentang kekuatan iman yang sejati.
Keteguhan hati Umar dalam memegang kebenaran, keberaniannya dalam menegakkan
keadilan, dan ketakwaannya yang mendalam kepada Allah adalah perisai yang
bahkan membuat setan gentar dan menghindar. Ini menunjukkan bahwa ketika
seorang hamba benar-benar tulus dan kokoh dalam keyakinannya, serta membenci
kebatilan dengan sepenuh hati, Allah akan memberikan perlindungan dan kekuatan
spiritual yang luar biasa. Pelajaran bagi kita adalah untuk terus berusaha
memperkuat iman, berani menyuarakan kebenaran, bersikap adil dalam segala hal,
dan menjauhi segala bentuk kemungkaran, sehingga kita pun dapat terlindungi
dari godaan setan dan meraih keridoan Allah.
Umar bin Khattab adalah bukti
bahwa transformasi sejati mungkin terjadi melalui hidayah Allah, dan bahwa
seorang manusia biasa dapat mencapai derajat spiritual yang begitu tinggi
melalui ketakwaan, keberanian, dan keteguhan dalam memegang prinsip kebenaran.
Semoga kita dapat meneladani semangat Al-Faruq dalam kehidupan kita
sehari-hari, menjadi pribadi yang kuat imannya, tegas dalam kebenaran, adil
dalam bersikap, dan senantiasa berada dalam lindungan Allah dari segala tipu
daya setan.
Demikianlah kisah ini
diceritakan, segala kebenaran detailnya kita kembalikan kepada Allah, tuhan
pemilik kisah kehidupan.
.png)
Komentar
Posting Komentar