Sejarah Asal Usul Kabupaten Nganjuk

 


Jauh di lembah peradaban Jawa Dwipa, di antara aliran sungai Brantas yang menghidupi, terhampar sebuah wilayah yang kini kita kenal sebagai Kabupaten Nganjuk. Namun, sebelum nama itu terukir, sebuah kisah panjang tentang keberanian, perubahan, dan warisan telah tertulis dalam relief waktu. Perjalanan ini akan membawa kita menelusuri lorong-lorong sejarah, dari gemuruh kemenangan masa lampau hingga denyut kehidupan Nganjuk di era modern. Mari kita simak bersama delapan babak kisah yang membentuk jiwa dan raga "Tanah Kemenangan" ini.

Pada suatu masa, ketika abad kesepuluh Masehi baru saja menapaki puncaknya, Kerajaan Medang di bawah pimpinan Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa, atau Empu Sindok yang agung, tengah menghadapi ujian berat. Setelah memindahkan pusat kerajaannya dari jantung Jawa Tengah ke wilayah timur pulau, sebuah ancaman datang dari tentara Malayu yang perkasa. Di tengah kegentingan itulah, sebuah komunitas pemberani di sebuah desa terpencil menunjukkan baktinya yang luar biasa, membantu sang raja memukul mundur musuh dan mengamankan takhtanya.

Sebagai ungkapan terima kasih dan penghargaan atas jasa besar mereka, pada tanggal 10 April tahun 937 Masehi (atau tahun 859 Saka), Empu Sindok menitahkan sebuah anugerah abadi. Desa tersebut, yang kemudian dikenal dengan nama Anjuk Ladang, dianugerahi status *sima*, sebuah tanah perdikan yang bebas dari pungutan pajak. Titah raja ini diabadikan dalam sebuah prasasti batu, yang kini kita kenal sebagai Prasasti Anjuk Ladang atau Prasasti Candi Lor, saksi bisu lahirnya sebuah legenda.

Tak hanya itu, sang raja juga memerintahkan pendirian sebuah *jayastambha*, sebuah tugu kemenangan yang megah, sebagai monumen pengingat atas kejayaan yang telah diraih. Tugu inilah yang diyakini para ahli sebagai Candi Lor, yang berdiri kokoh—meski sebagian telah dimakan usia—di Desa Candirejo, Kecamatan Loceret. Candi bata merah ini bukan sekadar bangunan, melainkan lambang keberanian, kesetiaan, dan tentu saja, kemenangan gemilang.

Prasasti Anjuk Ladang menjadi dokumen paling otentik, jendela kita untuk mengintip denyut kehidupan masa lampau. Dari pahatan aksara kuno di atas batu itulah kita mengetahui betapa strategisnya Anjuk Ladang, dan betapa gagah beraninya para leluhur masyarakat Nganjuk. Tanggal dikeluarkannya prasasti ini, 10 April, kini dirayakan dengan khidmat sebagai Hari Jadi Kabupaten Nganjuk, sebuah penghormatan atas akar sejarah yang menghujam dalam.

Kisah Empu Sindok dan Anjuk Ladang adalah babak pembuka yang penuh makna. Ia menceritakan tentang keberanian yang diganjar kemuliaan, tentang loyalitas yang melahirkan keabadian. Peristiwa ini tidak hanya menandai eksistensi awal sebuah komunitas, tetapi juga menanamkan benih semangat juang yang kelak akan terus tumbuh dan diwariskan dari generasi ke generasi di tanah yang diberkahi ini.

 

Sebuah nama bukanlah sekadar untaian kata, ia membawa jiwa, sejarah, dan harapan. Begitu pula dengan "Anjuk Ladang". Dalam bahasa Jawa Kuno yang sarat makna, kata "Anjuk" dapat diartikan sebagai kemenangan, kejayaan, atau sesuatu yang menjulang tinggi, merujuk pada tugu kemenangan yang didirikan oleh Empu Sindok. Sementara itu, "Ladang" berarti tanah lapang atau tempat. Maka, secara harfiah, "Anjuk Ladang" adalah "Tanah Kemenangan" atau "Tempat Kejayaan". Nama ini diberikan sebagai penghormatan atas keberhasilan penduduk setempat membantu Empu Sindok.

Nama ini, yang pertama kali terukir dalam prasasti Empu Sindok, tentu menjadi kebanggaan bagi masyarakatnya. Ia menjadi penanda identitas, pengingat akan jasa para pendahulu yang telah berjuang demi kehormatan dan keamanan wilayah mereka. Gema "Anjuk Ladang" terus terdengar, diwariskan dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjadi bagian tak terpisahkan dari memori kolektif, menyimpan spirit kemenangan dan keberanian.

Namun, roda waktu terus berputar, dan bahasa pun mengalami evolusi. Bagai air sungai yang mengikis bebatuan, pelafalan kata-kata pun perlahan berubah, menyesuaikan diri dengan lidah penuturnya dari zaman ke zaman. "Anjuk Ladang," yang mungkin terasa sedikit kaku bagi generasi selanjutnya, mulai mengalami penyederhanaan dan penyesuaian bunyi dalam percakapan sehari-hari dan juga dalam pencatatan administratif di masa-masa berikutnya.

Para ahli bahasa dan sejarawan meyakini bahwa dari "Anjuk Ladang" inilah kemudian lahir nama "Nganjuk". Proses perubahannya mungkin terjadi secara bertahap. Kata "Anjuk" kemungkinan besar mengalami pergeseran fonetik, mungkin ada penambahan atau peleburan suku kata yang lazim dalam dinamika bahasa Jawa, hingga akhirnya mengerucut menjadi "Nganjuk" yang lebih ringkas dan mudah diucapkan oleh masyarakat.

Meskipun wujud namanya telah bertransformasi, esensi dan spirit "Tanah Kemenangan" tidak pernah luntur. Nama "Nganjuk" yang kita kenal sekarang tetap membawa warisan makna dari "Anjuk Ladang". Ia adalah pengingat abadi akan keberanian, kejayaan, dan akar sejarah yang kokoh, menjadi identitas yang mempersatukan masyarakat Kabupaten Nganjuk hingga hari ini, dengan makna dasar sebagai tempat yang diberkahi kemenangan.

 

Sebelum sang fajar Nganjuk sebagai kota administratif menyingsing terang seperti sekarang, ada satu wilayah lain yang terlebih dahulu memegang peranan sebagai jantung peradaban dan pusat pemerintahan di kawasan ini. Wilayah itu adalah Berbek. Kini sebuah kecamatan yang tenang, Berbek menyimpan catatan sejarah gemilang sebagai sebuah kadipaten yang disegani, terutama pada masa keemasan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.

Pada era Kesultanan Mataram Islam yang perkasa, Berbek tercatat sebagai salah satu daerah *mancanegara brang wetan*, sebuah wilayah penting di luar inti kerajaan yang terletak di sisi timur. Kadipaten Berbek memiliki otonomi yang cukup luas, dipimpin oleh seorang adipati yang setia kepada Sultan Mataram. Cakupan wilayahnya kala itu bahkan lebih luas, mencakup sebagian besar dari apa yang kini menjadi Kabupaten Nganjuk dan daerah sekitarnya.

Keagungan Berbek sebagai pusat pemerintahan tempo dulu masih bisa kita rasakan jejaknya. Kompleks pemakaman kuno para adipati Berbek menjadi saksi bisu kejayaan masa lampau. Sisa-sisa bangunan administratif tua, pasar yang pernah ramai, dan pusat-pusat kegiatan masyarakat lainnya membuktikan bahwa Berbek pernah menjadi simpul vital dalam jaringan sosial, ekonomi, dan politik di wilayah barat Jawa Timur.

Namun, tak ada yang abadi di bawah matahari. Roda zaman terus berputar, membawa perubahan kebijakan dan konstelasi kekuasaan. Ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda mulai menancapkan pengaruhnya lebih dalam, terjadi pergeseran fokus. Pembangunan infrastruktur modern seperti jalur kereta api dan jalan raya Daendels yang strategis lebih mengarah ke lokasi yang kini menjadi kota Nganjuk. Perlahan tapi pasti, peran Berbek sebagai pusat utama mulai meredup.

Meskipun demikian, sejarah tak pernah melupakan kontribusi Berbek. Ia tetaplah ibu tua yang bijaksana, yang telah melahirkan dan merawat cikal bakal pemerintahan di wilayah Nganjuk. Warisan Berbek menjadi fondasi penting, sebuah babak sejarah yang tak terpisahkan sebelum akhirnya Nganjuk (kota) dipilih untuk mengemban amanah sebagai ibu kota kabupaten yang baru.

 

Memasuki abad ke-19, angin perubahan berhembus kencang di tanah Jawa. Pemerintah kolonial Hindia Belanda, dengan ambisinya untuk memperkuat cengkeraman dan menata administrasi yang lebih efisien, melakukan serangkaian reorganisasi besar-besaran. Kabupaten-kabupaten baru dibentuk, wilayah-wilayah lama digabungkan, dan batas-batas administratif ditata ulang demi kepentingan kolonial.

Pada tahun 1880 Masehi, sebuah lembaran baru dalam sejarah Nganjuk dimulai. Pemerintah Hindia Belanda secara resmi memutuskan untuk menggabungkan beberapa *afdeeling* (wilayah setingkat kabupaten) yang ada di sekitarnya. Afdeeling Berbek yang bersejarah, Afdeeling Kertosono yang strategis, dan beberapa wilayah lainnya dilebur menjadi satu kesatuan administratif baru yang diberi nama: Kabupaten Nganjuk.

Pemilihan Nganjuk (sebagai lokasi pusat kota baru) sebagai ibu kota kabupaten bukanlah tanpa alasan. Lokasinya yang sangat strategis, dilintasi oleh jalur utama kereta api yang menghubungkan kota-kota besar dan Jalan Raya Pos Daendels, dianggap jauh lebih menguntungkan dari segi ekonomi, transportasi, dan pengawasan dibandingkan Berbek. Dengan segera, infrastruktur perkotaan pun dibangun: kantor-kantor pemerintahan megah, alun-alun sebagai pusat kegiatan publik, dan pasar yang ramai mulai menggeliat di Nganjuk.

Proses pembentukan kabupaten baru ini tentu saja melibatkan penunjukan para pemimpin lokal yang akan menjalankan roda pemerintahan di bawah arahan residen Belanda. Salah satu nama yang paling dikenang dari periode awal ini adalah Raden Tumenggung Sosrokoesoemo I, yang kemudian lebih dikenal dengan gelar kehormatan Kanjeng Jimat. Beliau dianggap sebagai bupati pertama Nganjuk (dalam konteks kabupaten baru bentukan Belanda) dan dikenang atas jasanya dalam menata administrasi dan meletakkan dasar-dasar pembangunan.

Maka, lahirlah Kabupaten Nganjuk dalam format modernnya, sebuah entitas yang terbentuk dari perpaduan wilayah-wilayah dengan sejarahnya masing-masing, disatukan di bawah bendera administratif kolonial. Namun, di balik struktur baru ini, denyut sejarah Anjuk Ladang dan kemuliaan Berbek tetap menjadi jiwa yang tak lekang oleh waktu, memberikan identitas yang unik bagi kabupaten yang baru lahir ini.

 

Sejarah tak pernah ditulis oleh satu tangan, ia adalah mozaik dari peran banyak individu. Selain Empu Sindok sang pendiri Anjuk Ladang, dan Kanjeng Jimat sang penata awal Kabupaten Nganjuk, banyak tokoh lain yang turut mengukir jejak langkah penting dalam perjalanan panjang wilayah ini. Mereka adalah para pemimpin, ulama, dan pejuang yang dengan caranya masing-masing menjaga api semangat dan peradaban di Tanah Kemenangan.

Pada masa Kadipaten Berbek, para adipati yang silih berganti memimpin memegang peranan sentral. Mereka bukan hanya administrator pemerintahan, tetapi juga seringkali menjadi pelindung seni budaya dan penyokong syiar agama. Nama-nama seperti Adipati Sindurejo, atau tokoh-tokoh lain yang bersemayam dengan tenang di kompleks pemakaman bupati Berbek, adalah pengingat akan kepemimpinan dan dedikasi mereka pada masanya.

Memasuki era modern, terutama setelah Nganjuk resmi menjadi sebuah kabupaten, figur Kanjeng Jimat (Raden Tumenggung Sosrokoesoemo I) bersinar terang. Kharisma dan kebijaksanaannya dalam memimpin di masa transisi meninggalkan kesan mendalam. Tak heran jika makam beliau di Desa Sukomoro hingga kini tak pernah sepi dari para peziarah yang datang untuk mengenang jasa dan mengharapkan berkah atas Rido Allah.

Di sisi lain, para ulama dan kiai memegang peranan tak kalah penting sebagai penjaga suluh spiritual dan moral masyarakat. Pesantren-pesantren tua yang tersebar di berbagai penjuru Nganjuk menjadi kawah candradimuka, mencetak generasi penerus yang tidak hanya mumpuni dalam ilmu agama tetapi juga memiliki komitmen kebangsaan. Ajaran dan teladan mereka meresap kuat dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Nganjuk, membentuk karakter yang religius dan berbudi luhur, selalu bersandar pada petunjuk Allah.

Ketika panggilan perjuangan kemerdekaan menggema, putra-putri Nganjuk pun tak tinggal diam. Mereka bangkit, menyumbangkan tenaga, pikiran, bahkan nyawa, demi terbebasnya ibu pertiwi dari belenggu penjajahan. Semangat "Anjuk Ladang" seolah menemukan wujud barunya dalam diri para pejuang ini, mengobarkan keberanian untuk meraih kemenangan sejati: kemerdekaan.

 

Bumi Nganjuk adalah hamparan yang kaya akan bisikan masa lalu, terwujud dalam berbagai peninggalan sejarah dan situs arkeologi yang menakjubkan. Yang paling utama, tentu saja, adalah Candi Lor. Berdiri dengan sisa-sisa kemegahannya di Desa Candirejo, candi bata merah ini diyakini sebagai *jayastambha*, monumen kemenangan yang didirikan atas titah Empu Sindok lebih dari seribu tahun silam. Setiap batanya seolah bercerita tentang kejayaan dan semangat para leluhur.

Namun, pesona sejarah Nganjuk tak berhenti di Candi Lor. Di berbagai sudut wilayahnya, para arkeolog dan peneliti telah menemukan serpihan-serpihan peradaban masa lalu lainnya. Arca-arca dewa-dewi, yoni dan lingga sebagai simbol kesuburan, serta sisa-sisa struktur bangunan kuno menjadi bukti bahwa Nganjuk telah menjadi denyut nadi kehidupan dan pusat kebudayaan sejak zaman yang sangat lampau, bahkan mungkin sebelum era Empu Sindok menorehkan prasastinya.

Menjelajah lebih jauh, kita akan menemukan Goa Margotresno di Kecamatan Ngluyu, sebuah tempat yang diselimuti aura mistis dan legenda. Goa ini tak hanya menawarkan keindahan stalaktit dan stalagmit, tetapi juga menyimpan kisah-kisah rakyat dan dipercaya sebagai petilasan tokoh-tokoh sakti. Perpaduan antara keindahan alam dan nilai sejarah menjadikannya destinasi spiritual dan budaya yang menarik.

Tak hanya warisan dari era Hindu-Buddha, jejak langkah zaman kolonial pun masih dapat kita saksikan. Bangunan-bangunan tua dengan arsitektur Eropa yang khas menghiasi beberapa sudut kota Nganjuk, mengingatkan pada masa ketika para *meneer* Belanda mengatur pemerintahan. Stasiun kereta api yang gagah dan sisa-sisa pabrik gula menjadi saksi bisu periode perkembangan ekonomi dan eksploitasi di bawah kuasa kolonial.

Upaya untuk menjaga dan merawat harta karun sejarah ini terus digalakkan. Pemerintah, bersama para ahli dan masyarakat, bahu-membahu melakukan pelestarian dan penelitian. Sebab, setiap artefak dan situs adalah jendela menuju masa lalu, sumber ilmu pengetahuan, dan fondasi kebanggaan bagi generasi Nganjuk masa kini dan mendatang.

 

Kisah Nganjuk bukanlah sebuah cerita yang berdiri sendiri, terisolasi dari riak gelombang sejarah Nusantara yang lebih besar. Sejak zaman kuno, wilayah ini telah menjadi bagian integral dari dinamika peradaban bangsa. Kemenangan gemilang di Anjuk Ladang melawan serbuan tentara Malayu pada masa Empu Sindok adalah bukti nyata betapa strategisnya Nganjuk dalam menjaga stabilitas Kerajaan Medang di fajar baru kekuasaannya di Jawa Timur.

Ketika panji-panji Islam mulai berkibar dan kerajaan-kerajaan Islam seperti Mataram mencapai puncak kejayaannya, Nganjuk, melalui Kadipaten Berbek, menjadi salah satu pilar penting di wilayah *mancanegara brang wetan*. Ia turut merasakan pasang surut kekuasaan, terlibat dalam intrik politik, dan menjadi saksi berbagai perjanjian serta peperangan yang membentuk peta politik Jawa kala itu, termasuk interaksinya dengan kekuatan dagang VOC.

Benih-benih nasionalisme yang mulai tersemai di awal abad ke-20 juga menemukan tanah subur di Nganjuk. Semangat untuk merdeka dari belenggu penjajahan membara di dada para pemuda dan tokoh masyarakat. Mereka aktif terlibat dalam berbagai organisasi pergerakan, menyuarakan aspirasi kemerdekaan, dan mempersiapkan diri untuk sebuah perubahan besar yang akan datang.

Puncaknya adalah ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan. Namun, perjuangan belum usai. Agresi militer Belanda yang ingin kembali berkuasa memaksa rakyat Nganjuk untuk kembali mengangkat senjata. Bukit-bukit dan lembah-lembah di Nganjuk menjadi saksi bisu pertempuran heroik. Semangat "Tanah Kemenangan" yang diwariskan Empu Sindok kembali menggelora, membakar jiwa para pejuang dalam mempertahankan setiap jengkal kedaulatan republik yang baru lahir.

Setelah melewati badai revolusi, Nganjuk terus melangkah, bergandengan tangan dengan daerah-daerah lain di Indonesia untuk mengisi kemerdekaan. Sebagai bagian tak terpisahkan dari Provinsi Jawa Timur dan Republik Indonesia, Nganjuk terus mengukir kontribusinya dalam pembangunan nasional, seraya tak pernah melupakan akar sejarahnya yang agung dan penuh perjuangan.

 

Benang merah sejarah yang terentang dari masa Empu Sindok hingga era modern telah merajut sebuah identitas yang unik dan warisan budaya yang kaya bagi Kabupaten Nganjuk. Spirit "Anjuk Ladang," semangat "Tanah Kemenangan," bukan lagi sekadar catatan dalam prasasti kuno, melainkan telah menjelma menjadi denyut nadi, karakter, dan kebanggaan masyarakatnya yang dikenal gigih, religius, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur.

Alunan gamelan yang mengiringi tari Jaranan, lenggak-lenggok penari Tayub, hingga bayang-bayang magis Wayang Kulit masih menghiasi panggung-panggung budaya di Nganjuk. Kesenian-kesenian adiluhung ini bukan hanya hiburan, tetapi juga penjaga tradisi, pembawa pesan moral, dan cermin kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia adalah suara masa lalu yang terus bergema di masa kini.

Tradisi-tradisi adat seperti upacara bersih desa atau sedekah bumi masih dilaksanakan dengan khidmat di berbagai pelosok. Ini adalah wujud rasa syukur kepada Allah atas limpahan rezeki, sekaligus menjadi perekat tali persaudaraan dan gotong royong antarwarga. Dalam ritual-ritual ini, kearifan lokal berpadu harmonis dengan nilai-nilai religius, menciptakan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat.

Tak lengkap rasanya berbicara tentang Nganjuk tanpa menyebut kekayaan kulinernya. Nasi becek yang gurih, sate kenul yang khas, hingga beragam jajanan pasar tradisional siap memanjakan lidah. Setiap hidangan menyimpan cerita, resep warisan, dan cita rasa otentik yang menjadi bagian dari identitas budaya Nganjuk, memperkaya khazanah gastronomi Jawa Timur.

Pemerintah Kabupaten Nganjuk, bersama seluruh elemen masyarakat, terus bersemangat untuk menjaga api warisan ini agar tak pernah padam. Pengenalan sejarah kepada generasi muda, revitalisasi situs-situs bersejarah, dan promosi potensi budaya menjadi komitmen bersama. Sebab, dengan memahami dan menghargai masa lalu, Nganjuk akan melangkah lebih mantap menatap masa depan, sebagai "Tanah Kemenangan" yang terus bersinar.

Demikianlah kisah ini diceritakan, segala kebenaran detailnya kita kembalikan kepada Allah, tuhan pemilik kisah kehidupan.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Legenda Putri Gunung Ledang, Cerita Rakyat Malaka

Kisah Asal-Usul Padi, Legenda Dewi Sri

KISAH ASAL USUL SUKU TOLAKI (SULAWESI)