Kisah Legenda Ronggolawe (Tuban)
Di tanah Jawa yang bergejolak,
muncullah seorang pemuda perkasa bernama Ronggolawe. Asal-usulnya sering
dikaitkan erat dengan Arya Wiraraja, seorang tokoh besar yang berasal dari
Sumenep, Madura. Arya Wiraraja, yang nama mudanya adalah Banyak Wide, adalah
seorang ahli strategi ulung dan negarawan bijaksana yang kelak memegang peranan
penting sebagai Adipati di Lumajang, wilayah yang memiliki pengaruh luas hingga
ke pesisir utara Jawa, termasuk Tuban. Ronggolawe tumbuh dalam lingkungan yang
menempa jiwa keprajuritan dan kepemimpinannya.
Meskipun detail mengenai hubungan
darah langsung antara Ronggolawe dan Arya Wiraraja terkadang memiliki beberapa
versi dalam cerita tutur, yang pasti adalah Ronggolawe merupakan salah satu andalan
utama dan orang kepercayaan Arya Wiraraja. Ia dididik dan dibimbing untuk
menjadi ksatria tangguh. Sejak muda, Ronggolawe telah menunjukkan bakat luar
biasa dalam olah kanuragan, kecerdasan dalam siasat, dan keberanian yang
mengagumkan. Fisiknya tegap bak benteng, dan sorot matanya memancarkan
keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Nama Ronggolawe sendiri sarat
akan makna. Berasal dari kata Rongo yang berarti wadah atau ruang, dan Lawe
yang berarti benang, panji, atau bahkan jaring. Nama ini dapat dimaknai sebagai
sang pembawa panji-panji kebesaran, atau ia yang menjadi tempat berlindung dan
pemersatu, laksana jaring yang kuat. Kelak, nama ini akan terukir dalam sejarah
sebagai lambang keberanian yang pantang menyerah dan kesetiaan yang tragis. Ia
dipersiapkan untuk mengemban tugas-tugas besar.
Melalui gemblengan dan pengaruh
Arya Wiraraja, Ronggolawe tumbuh menjadi sosok pemuda yang tidak hanya ahli
dalam berperang, tetapi juga memiliki pemahaman mendalam tentang tata
pemerintahan. Ia sering terlibat dalam urusan-urusan penting yang diemban oleh
Arya Wiraraja, belajar langsung bagaimana mengelola wilayah dan menghadapi
berbagai persoalan. Kedekatannya dengan rakyat pesisir utara, khususnya di
sekitar Tuban, membuatnya memahami denyut nadi kehidupan mereka.
Takdir kemudian mengantarkannya
ke pusaran sejarah yang lebih besar ketika ia turut serta dalam perjuangan
Raden Wijaya, menantu Prabu Kertanagara dari Singasari. Keterlibatannya ini,
yang juga didukung penuh oleh Arya Wiraraja, menjadi babak awal dari pengabdiannya
yang kelak turut serta dalam mendirikan Kerajaan Majapahit. Ronggolawe, dengan
segala potensi dan keberaniannya, siap mengukir namanya dalam lembaran sejarah
Jawa Dwipa.
Ketika Singasari dilanda prahara
akibat serbuan Jayakatwang dari Kediri, Raden Wijaya terpaksa menyelamatkan
diri. Dalam pelariannya yang penuh ketidakpastian, ia mencari suaka dan
kekuatan baru. Adalah Arya Wiraraja, yang cerdik dan berpengaruh itu, yang
dengan tangan terbuka memberikan perlindungan dan bantuan strategis kepada
Raden Wijaya. Di sinilah peran Ronggolawe mulai menonjol sebagai salah satu
komandan muda yang paling diandalkan oleh Arya Wiraraja untuk mendukung Raden
Wijaya.
Ronggolawe, memimpin laskar yang
setia, menunjukkan loyalitas dan kegagahan yang luar biasa. Ia menjadi salah
satu ujung tombak dalam barisan pasukan yang dibentuk untuk menggempur kekuatan
Jayakatwang. Semangatnya yang membara dan kemampuannya dalam memimpin pasukan
di medan laga menjadi inspirasi bagi prajurit lainnya. Ia tidak pernah gentar menghadapi
musuh, sebesar apapun kekuatannya, karena keyakinannya pada perjuangan untuk
menegakkan kembali kehormatan Singasari.
Dalam setiap pertempuran melawan
balatentara Kediri, Ronggolawe selalu berada di garis terdepan. Keberaniannya
laksana singa lapar, memorak-porandakan formasi lawan dan menebar ketakutan di
hati musuh. Ia bukan hanya piawai memainkan senjata, tetapi juga cerdik dalam
menerapkan siasat perang yang diajarkan Arya Wiraraja dan dikembangkannya
sendiri. Kemenangan demi kemenangan kecil yang diraihnya turut memperkuat moral
pasukan Raden Wijaya secara keseluruhan.
Selain sebagai seorang panglima
perang yang handal, Ronggolawe juga kerap memberikan masukan-masukan berharga
kepada Raden Wijaya dan Arya Wiraraja. Meskipun usianya relatif muda
dibandingkan para penasihat senior lainnya, pandangannya yang tajam dan logis
seringkali menjadi pertimbangan penting dalam menyusun langkah-langkah
strategis. Ia adalah perpaduan antara keberanian otot dan ketajaman otak,
sebuah aset yang tak ternilai harganya.
Perjuangan panjang dan melelahkan
itu akhirnya membuahkan hasil. Berkat strategi jitu Arya Wiraraja, keberanian
Raden Wijaya, dan kegigihan para ksatria seperti Ronggolawe, Jayakatwang
berhasil dikalahkan. Runtuhnya Kediri menjadi tonggak penting yang membuka
jalan bagi lahirnya sebuah era baru. Jasa dan pengorbanan Ronggolawe dalam
perang ini sangatlah signifikan, menempatkannya sebagai salah satu pahlawan
muda yang bersinar terang.
Usai menaklukkan Jayakatwang,
tugas besar berikutnya menanti Raden Wijaya dan para pendukung setianya,
termasuk Ronggolawe yang gagah berani. Mereka memerlukan sebuah pusat
pemerintahan yang baru dan aman. Pilihan pun jatuh pada sebuah kawasan hutan
belantara yang dikenal dengan nama Hutan Tarik. Membuka hutan tersebut bukanlah
perkara enteng; wilayah itu dikenal liar, lebat, dan konon dihuni berbagai
kekuatan alam yang tak kasat mata.
Ronggolawe, dengan semangat juang
yang masih menyala-nyala pasca kemenangan, mengambil peran penting dalam
ekspedisi pembukaan Hutan Tarik. Di bawah arahan Raden Wijaya dan dengan
dukungan logistik dari Arya Wiraraja, ia memimpin sekelompok prajurit dan
pekerja untuk membabat alas, meratakan tanah, dan membangun pondasi awal
pemukiman. Kehadirannya yang penuh wibawa dan tak kenal lelah menjadi motor
penggerak bagi semua yang terlibat dalam pekerjaan berat tersebut.
Berbagai rintangan menghadang
selama proses pembukaan hutan. Serangan binatang buas, sulitnya medan, hingga
merebaknya penyakit menjadi ujian kesabaran dan ketahanan. Namun, dengan tekad
baja dan doa yang senantiasa dipanjatkan kepada Allah Yang Maha Pelindung,
Ronggolawe dan rombongannya berhasil mengatasi setiap kesulitan. Dalam proses
inilah, sebuah peristiwa penting terjadi: ditemukannya buah maja yang memiliki
rasa pahit oleh salah seorang pekerja. Peristiwa inilah yang kemudian
menginspirasi nama kerajaan agung yang akan segera berdiri: Majapahit.
Kegigihan Ronggolawe dalam
memimpin proyek raksasa ini menunjukkan sisi lain dari dirinya. Ia bukan hanya
seorang ksatria yang piawai di medan perang, tetapi juga seorang organisator
dan pembangun yang cakap. Ia memahami bahwa fondasi sebuah kerajaan besar tidak
hanya terletak pada kekuatan militer, tetapi juga pada kemampuan membangun
peradaban. Setiap tebangan pohon dan setiap jengkal tanah yang dibuka adalah
langkah menuju masa depan yang lebih gemilang.
Akhirnya, Hutan Tarik yang semula
angker dan tak terjamah berhasil disulap menjadi sebuah area yang siap menjadi
jantung pemerintahan. Berdirilah Kerajaan Majapahit, dengan Raden Wijaya
dinobatkan sebagai raja pertama bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardhana.
Kontribusi besar Ronggolawe dalam proses ini, mulai dari perjuangan bersenjata
hingga pembukaan lahan, sangatlah diakui. Ia pun mendapatkan tempat terhormat,
diangkat menjadi Adipati Tuban, sebuah wilayah pesisir penting yang strategis.
Setelah Kerajaan Majapahit tegak
berdiri dan Prabu Kertarajasa Jayawardhana bertahta, tiba saatnya bagi sang
raja untuk menganugerahkan jabatan dan gelar kepada para tokoh yang telah
berjuang bahu-membahu. Ronggolawe, yang telah mempertaruhkan segalanya sejak
awal, mulai dari perang melawan Jayakatwang hingga pembukaan Hutan Tarik, tentu
memiliki harapan besar akan penghargaan yang setimpal dengan jasa-jasanya yang
tak terbilang. Ia merasa layak mendapatkan posisi kunci dalam struktur
pemerintahan yang baru.
Namun, apa yang terjadi kemudian
jauh dari bayangannya. Keputusan Prabu Kertarajasa Jayawardhana mengenai
pembagian kekuasaan menimbulkan riak kekecewaan di hati Ronggolawe. Jabatan
tertinggi kedua setelah raja, yaitu Patih Amangkubhumi, yang sangat
diidamkannya atau setidaknya dianggapnya pantas untuk tokoh sekaliber dirinya,
justru dianugerahkan kepada Nambi. Ronggolawe sendiri dikukuhkan sebagai
Adipati Tuban. Meskipun jabatan ini adalah posisi yang sangat terhormat dan
strategis, bagi Ronggolawe hal ini terasa kurang adil.
Rasa kecewa itu membekas dalam.
Ronggolawe merasa pengorbanan dan peran sentralnya seolah tidak mendapatkan
apresiasi tertinggi. Ia membandingkan perjuangannya di garis depan, berlumuran
darah dan keringat, dengan kontribusi Nambi yang menurut pandangannya lebih
banyak berada di ranah diplomasi dan strategi di balik layar. Ketidakpuasan ini
mulai mengusik ketenangan batinnya, merasa bahwa pertimbangan sang prabu
mungkin lebih dipengaruhi oleh faktor kedekatan atau perpolitikan istana
ketimbang meritokrasi murni.
Ronggolawe adalah pribadi yang
dikenal memiliki watak keras, lugas, dan menjunjung tinggi apa yang diyakininya
sebagai kebenaran dan keadilan. Ia sulit menerima kenyataan bahwa Nambi, yang
dalam pandangannya tidak memiliki rekam jejak perjuangan seberat dirinya, dapat
menduduki posisi sepenting Patih Amangkubhumi. Ia berpendapat bahwa banyak
tokoh lain, termasuk dirinya atau Lembu Sora yang juga merupakan pejuang tangguh,
lebih pantas untuk jabatan tersebut. Kekecewaan ini menjadi bara dalam sekam.
Meskipun diliputi perasaan tidak
puas, Ronggolawe tetap berusaha menjaga sikap sebagai seorang ksatria. Ia tidak
serta-merta menunjukkan pembangkangan secara terbuka pada awalnya. Namun,
benih-benih perselisihan telah tertanam. Ia kembali ke Tuban untuk menjalankan
tugasnya sebagai adipati, tetapi hatinya membawa segumpal ganjalan yang kelak
akan menentukan jalan hidupnya yang tragis.
Perasaan kecewa yang mengganjal
di hati Ronggolawe, Adipati Tuban, atas keputusan Prabu Kertarajasa
Jayawardhana terkait jabatan Patih Amangkubhumi akhirnya tak terbendung lagi.
Sebagai seorang ksatria yang dikenal tak gentar dan selalu berterus terang, ia
merasa wajib untuk menyuarakan apa yang dianggapnya sebagai ketidakadilan.
Dengan tekad bulat, ia memutuskan untuk menghadap langsung sang prabu di ibu
kota Majapahit, guna mempertanyakan kebijakan tersebut dan menuntut pengakuan
yang lebih pantas atas jasa-jasanya.
Di balairung istana, di hadapan
Prabu Kertarajasa dan para pembesar kerajaan lainnya, Ronggolawe tanpa ragu
menyampaikan protesnya dengan suara lantang dan sikap tegas. Ia mengkritik
keras pengangkatan Nambi sebagai Patih Amangkubhumi, sebuah jabatan yang menurutnya
tidak sepadan dengan kontribusi Nambi jika dibandingkan dengan para pejuang
lain yang telah mempertaruhkan nyawa. Kata-katanya yang tajam dan tanpa
basa-basi itu mengejutkan banyak pihak, menunjukkan betapa dalamnya luka dan
rasa ketidakadilan yang ia rasakan.
Tindakan Ronggolawe yang dinilai
terlalu berani dan menantang keputusan raja ini sontak menciptakan ketegangan
di lingkungan istana. Para pejabat yang mendukung Nambi, atau mereka yang
merasa bahwa Ronggolawe telah melanggar tata krama kerajaan, memandangnya
dengan sinis. Prabu Kertarajasa sendiri, meskipun dalam hati mungkin mengakui
sebagian jasa Ronggolawe, merasa bahwa wibawanya sebagai penguasa tertinggi
telah diusik. Sang prabu berusaha memberikan penjelasan dan menenangkan Adipati
Tuban itu, namun usahanya sia-sia.
Sayangnya, segala penjelasan dan
argumen yang disampaikan oleh pihak kerajaan tidak mampu meluluhkan kekerasan
hati Ronggolawe. Ia tetap teguh pada pendiriannya bahwa telah terjadi sebuah
kekeliruan besar dalam penempatan jabatan. Nasihat dari beberapa sahabat
seperjuangannya, seperti Lembu Sora yang mencoba menjembatani, juga tidak
dihiraukannya. Hatinya telah tertutup oleh amarah dan keyakinan bahwa ia telah
diperlakukan tidak adil oleh kerajaan yang turut ia bangun dengan susah payah.
Kegagalan dalam upaya mencari
keadilan melalui jalur dialog ini semakin membulatkan tekad Ronggolawe untuk
menempuh jalan perlawanan. Ia kembali ke Kadipaten Tuban dengan membawa bara
api ketidakpuasan yang semakin membesar. Di sana, ia mulai mengkonsolidasikan
kekuatannya, mempersiapkan para prajuritnya, dan secara diam-diam mencari
dukungan dari wilayah-wilayah lain yang mungkin juga menyimpan ketidakpuasan
terhadap pemerintahan pusat Majapahit. Benih-benih pemberontakan mulai
bertunas.
Situasi yang semakin tegang
antara Ronggolawe dan Kerajaan Majapahit menjadi lahan subur bagi mereka yang
memiliki agenda tersembunyi. Di antara para pejabat kerajaan, terdapat seorang
tokoh licik bernama Mahapati. Ia adalah sosok yang ambisius, pendendam, dan
sangat piawai dalam memainkan intrik politik. Mahapati melihat perseteruan
antara Ronggolawe dan Nambi, serta ketegangan dengan Prabu Kertarajasa, sebagai
kesempatan emas untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya dan meraih posisi
yang lebih tinggi.
Dengan kelihaiannya, Mahapati
mulai menjalankan siasat adu domba. Kepada Prabu Kertarajasa dan Patih Nambi,
ia terus-menerus membisikkan kabar-kabar yang memburuk-burukkan Ronggolawe. Ia
melukiskan Adipati Tuban itu sebagai seorang yang haus kekuasaan, berniat
memberontak, dan mengancam keutuhan Majapahit. Setiap gerakan kecil Ronggolawe
di Tuban dibesar-besarkan dan ditafsirkan sebagai persiapan untuk makar. Fitnah
keji ini perlahan tapi pasti berhasil meracuni pikiran para petinggi kerajaan.
Tidak hanya itu, Mahapati juga
bermain di dua sisi. Kepada Ronggolawe, ia mengirimkan utusan-utusan atau
menyebarkan desas-desus yang semakin menyulut amarah dan kebencian Adipati
Tuban itu terhadap Nambi dan kebijakan raja. Ia meyakinkan Ronggolawe bahwa
pihak istana memang berniat buruk padanya dan tidak pernah menghargai
jasa-jasanya. Dengan demikian, Mahapati berhasil membuat Ronggolawe semakin
yakin bahwa jalan konfrontasi adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.
Jaring-jaring fitnah yang ditebar
Mahapati terbukti sangat efektif. Komunikasi antara Ronggolawe dan pusat
kekuasaan Majapahit menjadi semakin buntu. Setiap upaya untuk mencari solusi
damai selalu digagalkan oleh informasi palsu dan provokasi yang diciptakan oleh
Mahapati dan para kaki tangannya. Ronggolawe, yang pada dasarnya adalah seorang
ksatria yang lurus hati dan pemberani, tidak menyadari bahwa ia tengah
diperalat dan dijebak dalam sebuah permainan politik yang kotor dan berbahaya.
Akibat dari hasutan dan fitnah
yang tak henti-hentinya ini, Prabu Kertarajasa Jayawardhana akhirnya sampai
pada kesimpulan bahwa Ronggolawe benar-benar berniat memberontak dan harus
segera ditindak tegas. Keputusan ini diambil dengan berat hati, mengingat
kontribusi besar Ronggolawe di masa lalu. Namun, demi menjaga stabilitas dan
keutuhan kerajaan yang baru saja berdiri, sang prabu merasa tidak memiliki
pilihan lain. Perang saudara antara Majapahit dan Tuban pun menjadi tak
terelakkan.
Keputusan Prabu Kertarajasa untuk
mengirim pasukan guna menumpas Ronggolawe di Tuban disambut dengan sikap
pantang menyerah oleh Adipati Tuban tersebut. Ronggolawe, yang merasa harga
dirinya telah diinjak-injak dan kehormatannya tercoreng oleh fitnah, telah
mempersiapkan laskarnya dengan segenap jiwa raga. Ia bertekad untuk
mempertahankan kehormatannya hingga titik darah penghabisan, meskipun harus
melawan kerajaan yang turut ia dirikan. Genderang perang pun ditabuh, menandai
dimulainya babak tragis dalam sejarah awal Majapahit.
Medan laga yang menjadi saksi
bisu pertempuran dahsyat ini adalah di sekitar bantaran Sungai Tambak Beras.
Pasukan ekspedisi Majapahit, yang terdiri dari para senopati ulung seperti
Nambi, Kebo Anabrang, dan Lembu Sora (yang meskipun bersimpati pada Ronggolawe,
terikat oleh sumpah prajurit kepada raja), bergerak maju dengan kekuatan penuh.
Ronggolawe, dengan gagah perkasa, memimpin pasukannya dari depan, membakar
semangat mereka dengan pekik perjuangan.
Bentrokan antara kedua pasukan
berlangsung dengan amat sengit dan brutal. Suara gemerincing senjata beradu,
teriakan para prajurit yang terluka dan yang menyerang, serta hiruk pikuk
pertempuran menggema di sepanjang aliran sungai. Ronggolawe, dengan tombak
pusaka andalannya, bertempur laksana banteng ketaton, merobohkan banyak
prajurit Majapahit yang mencoba menghadangnya. Keperkasaannya di medan laga
seolah menjadi legenda tersendiri, membuat gentar lawan-lawannya.
Namun, jumlah pasukan Majapahit
yang lebih besar dan lebih terorganisir perlahan mulai mendesak barisan
pertahanan Tuban. Dalam satu momen krusial, Ronggolawe terlibat duel maut satu
lawan satu dengan Kebo Anabrang, seorang panglima Majapahit yang juga dikenal
memiliki kesaktian tinggi dan postur tubuh raksasa. Pertarungan keduanya
berlangsung sangat hebat, saling mengeluarkan Aji pamungkas. Akhirnya, dalam
pergulatan sengit di tengah arus sungai, Kebo Anabrang berhasil mengatasi
perlawanan Ronggolawe. Sang Adipati Tuban itu pun gugur sebagai pahlawan.
Melihat pemimpin mereka tewas,
semangat juang pasukan Tuban seketika runtuh. Meskipun beberapa pengikut
setianya masih mencoba memberikan perlawanan, namun kekuatan mereka tak lagi
sebanding. Pemberontakan Ronggolawe berhasil dipadamkan dengan harga yang
sangat mahal: hilangnya salah satu putra terbaik bangsa. Gugurnya Ronggolawe di
Sungai Tambak Beras menyisakan duka dan penyesalan, terutama ketika di kemudian
hari kebenaran di balik fitnah Mahapati mulai terungkap.
Kepergian Ronggolawe dalam
pertempuran tragis di Sungai Tambak Beras meninggalkan jejak kesedihan yang
mendalam, tidak hanya bagi rakyat Tuban yang kehilangan pemimpinnya, tetapi
juga bagi banyak tokoh di Majapahit yang diam-diam mengakui jasa besar dan
kelurusan hati sang ksatria. Meskipun ia gugur dengan cap sebagai seorang
pembangkang, sejarah mencatat bahwa tindakannya lebih didorong oleh rasa
keadilan yang terusik dan kekecewaan atas perlakuan yang diterimanya,
diperparah oleh fitnah keji. Nama Ronggolawe tetap harum sebagai simbol
keberanian tanpa tanding, ketegasan dalam prinsip, dan seorang pejuang yang tak
pernah takut menyuarakan apa yang ia yakini sebagai kebenaran.
Kisah kepahlawanan, perjuangan,
dan akhir tragis Ronggolawe terpatri abadi dalam ingatan kolektif masyarakat
Jawa. Kisahnya diabadikan dalam berbagai bentuk karya sastra, seperti Kidung
Ronggolawe, yang menceritakan detail perjalanan hidupnya, konflik batinnya,
hingga pertempurannya yang terakhir. Melalui kidung dan cerita tutur inilah,
generasi-generasi selanjutnya dapat memetik pelajaran berharga tentang
kompleksitas kekuasaan, intrik politik, dan nasib seorang pahlawan yang tak
selalu berujung pada kemenangan.
Warisan paling berharga dari
Ronggolawe bukanlah status pemberontaknya, melainkan semangatnya yang membara
dalam memperjuangkan keadilan dan kehormatan. Ia menjadi pengingat bahwa
jabatan dan kekuasaan seringkali dapat membutakan, dan bahwa penghargaan sejati
seharusnya diberikan berdasarkan jasa dan kapabilitas, bukan karena kedekatan
atau perkoncoan. Keberaniannya untuk berdiri tegak melawan arus, meskipun harus
menghadapi risiko terbesar, menginspirasi banyak orang akan pentingnya
integritas diri dan keteguhan dalam memegang prinsip.
Di kemudian hari, ketika kedok
licik Mahapati sebagai biang keladi perpecahan akhirnya terbongkar, penyesalan
atas kematian Ronggolawe semakin terasa. Banyak yang menyadari bahwa Majapahit
telah kehilangan salah satu tiang penyangganya yang paling kokoh akibat fitnah
dan adu domba. Hingga kini, nama Ronggolawe dikenang sebagai ksatria gagah
berani dari Tuban, seorang pahlawan yang, meskipun bernasib tragis, telah
memberikan pelajaran penting tentang arti loyalitas, keberanian, dan harga
sebuah keadilan. Patung-patung dan nama-nama jalan yang menggunakan namanya
menjadi bukti bahwa perjuangannya, dalam versi tertentu, tetap dihargai.
Kisah Legenda Ronggolawe
mengajarkan kita tentang pentingnya komunikasi yang jernih, bahaya fitnah, dan
sulitnya menjaga keadilan dalam lingkaran kekuasaan. Keberanian menyuarakan
kebenaran adalah sifat ksatria, namun pengendalian diri dan kebijaksanaan dalam
bertindak juga tak kalah penting agar tidak terjerumus dalam kehancuran akibat
amarah dan kesalahpahaman. Kesetiaan dan jasa besar sekalipun bisa ternoda jika
tidak diiringi dengan kepala dingin dan kewaspadaan terhadap intrik pihak
ketiga yang ingin memecah belah demi kepentingan pribadi. Penghargaan terhadap
jasa pahlawan dan penempatan seseorang sesuai kemampuannya adalah kunci
keharmonisan dan kekuatan sebuah bangsa. Dan yang terpenting, janganlah mudah
termakan hasutan, sebab keputusan yang didasari oleh informasi yang salah atau
emosi sesaat seringkali berujung pada penyesalan. Hendaklah kita selalu mencari
Rido Allah dalam setiap langkah.
Demikianlah kisah ini
diceritakan, segala kebenaran detailnya kita kembalikan kepada Allah, tuhan
pemilik kisah kehidupan.
.png)
Komentar
Posting Komentar