Kisah Misteri Rumah Sakit Jiwa Lawang Sewu
Nama saya Rizky, seorang
mahasiswa tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi di Semarang, yang juga
memiliki ketertarikan besar pada hal-hal berbau misteri dan sejarah kelam kota
kelahiran saya. Lawang Sewu, dengan kemegahan arsitekturnya yang menyimpan
ribuan pintu dan jendela, serta sejarah panjangnya yang penuh tragedi, selalu
menjadi magnet bagi para pemburu cerita mistis. Kisah tentang hantu noni
Belanda, tentara Jepang tanpa kepala, atau suara-suara dari ruang bawah tanah
sudah menjadi santapan sehari-hari bagi warga Semarang. Namun, ada satu bisikan
legenda yang jauh lebih samar, yang jarang terdengar, namun justru paling
menggelitik rasa penasaran saya.
Legenda itu menyebutkan bahwa
pada suatu masa yang tidak tercatat dengan jelas, entah itu di akhir era
kolonial yang penuh kekacauan atau pada masa-masa awal kemerdekaan yang sulit,
sebuah sayap atau bagian terpencil dari kompleks Lawang Sewu yang luas pernah
difungsikan secara darurat. Bukan sebagai kantor atau barak militer, melainkan
sebagai tempat penampungan bagi orang-orang yang dianggap mengalami gangguan
jiwa. Informasi ini begitu minim, seolah sengaja ditutupi atau memang
terlupakan oleh waktu. Tidak ada catatan resmi, hanya cerita dari mulut ke
mulut di kalangan tertentu, itupun dengan nada berbisik seolah takut
membangkitkan sesuatu.
Saya pertama kali mendengar
cerita ini dari seorang kakek tua, penjual wedang jahe di sekitar Tugu Muda,
yang mengaku ayahnya dulu pernah menjadi pekerja serabutan di sekitar Lawang
Sewu. Menurutnya, ada area yang dijauhi bahkan oleh para pekerja masa itu,
tempat di mana jeritan dan tawa aneh sering terdengar di malam hari. Tempat
itu, katanya, adalah "rumah sakit gila sementara" yang menampung
mereka yang jiwanya tergoncang akibat kerasnya zaman atau mungkin karena
hal-hal lain yang tak terkatakan.
Bayangan tentang penderitaan jiwa
yang terkurung di antara dinding-dinding kuno Lawang Sewu, ditambah dengan
reputasi angkernya yang sudah ada, menciptakan sebuah kombinasi horor yang luar
biasa di benak saya. Berbeda dengan cerita hantu noni yang romantis atau
tentara Jepang yang penuh amarah, kisah tentang jiwa-jiwa yang tersesat dalam
kegelapan pikirannya sendiri terasa lebih personal dan menyedihkan. Keinginan
untuk menggali lebih dalam tentang "Rumah Sakit Jiwa Lawang Sewu"
yang terlupakan ini pun semakin membara.
Saya mencoba mencari referensi di
perpustakaan daerah, bertanya kepada beberapa sejarawan lokal, namun hasilnya
nihil. Mereka hanya tahu sejarah umum Lawang Sewu. Legenda ini seolah menjadi
rahasia terpendam kota Semarang. Justru ketiadaan informasi inilah yang membuat
saya semakin tertantang. Saya merasa ada potongan puzzle sejarah yang hilang,
sebuah sisi gelap Lawang Sewu yang belum pernah terungkap sepenuhnya. Dan saya,
dengan jiwa muda yang penuh keingintahuan, bertekad untuk menjadi orang yang
mencoba menyibaknya.
Tahun 2018 menjadi titik di mana
rasa penasaran saya mencapai puncaknya. Setelah berbulan-bulan hanya
mengumpulkan serpihan cerita dan desas-desus, saya memutuskan bahwa
satu-satunya cara untuk memuaskan keingintahuan ini adalah dengan datang
langsung dan mencoba mencari bukti, atau setidaknya merasakan sendiri aura dari
area yang dikabarkan tersebut. Tentu saja, niat ini tidak saya utarakan kepada
keluarga, karena pasti akan dilarang keras. Lawang Sewu di malam hari bukanlah
tempat untuk uji nyali sembarangan, apalagi dengan tujuan mencari "rumah
sakit jiwa" tersembunyi.
Saya mulai menyusun rencana.
Berbekal sebuah kamera DSLR untuk dokumentasi, senter dengan baterai penuh, dan
sedikit uang untuk "uang rokok" jika bertemu penjaga, saya berniat
melakukan penelusuran ini seorang diri. Saya merasa, jika pergi beramai-ramai,
esensi dari penemuan pribadi akan hilang, dan mungkin saja "mereka"
tidak akan mau menunjukkan keberadaannya. Sebuah pikiran naif, khas anak muda
yang merasa tak kenal takut, padahal sejujurnya ada getar khawatir yang merayap
di hati.
Beberapa teman dekat yang saya
ajak diskusi mengenai rencana ini memberikan reaksi beragam. Ada yang
menganggap saya gila, mencari penyakit. Ada juga yang antusias dan ingin ikut,
namun saya tolak halus dengan alasan ingin fokus. Seorang teman, sebut saja
namanya Adit, yang juga memiliki minat serupa namun lebih penakut, memberikan
kontak seorang juru kunci tidak resmi Lawang Sewu yang mungkin bisa memberikan
akses atau setidaknya informasi lebih lanjut. Kontak ini menjadi harapan baru
bagi saya.
Setelah beberapa kali mencoba
menghubungi, akhirnya saya berhasil berbicara dengan Pak Slamet (nama samaran),
juru kunci tersebut. Awalnya beliau enggan berbicara banyak ketika saya
menyinggung tentang "area rumah sakit jiwa". Namun setelah saya
sedikit merayu dan menjelaskan bahwa saya hanya seorang mahasiswa yang melakukan
riset untuk tugas kuliah (sebuah kebohongan kecil), beliau akhirnya sedikit
melunak. Beliau tidak mengiyakan secara gamblang, namun juga tidak menampik.
"Ada bagian yang memang jarang orang masuk, Mas. Gelap dan auranya beda.
Kalau mau lihat, ya risiko sendiri," begitu pesannya, yang justru semakin
membakar semangat saya.
Malam yang telah saya tentukan
pun tiba. Langit Semarang sedikit mendung, seolah turut mendukung suasana
mistis yang akan saya hadapi. Jantung saya berdegup lebih kencang dari
biasanya. Saya memarkir motor agak jauh dari gerbang utama Lawang Sewu, lalu
berjalan kaki mendekati titik pertemuan yang telah disepakati dengan Pak
Slamet. Di tangan saya, kamera terasa dingin, sama dinginnya dengan keringat
yang mulai membasahi telapak tangan saya. Saya tidak tahu apa yang akan saya
temukan, namun satu hal yang pasti, malam itu akan menjadi pengalaman yang tak
akan pernah saya lupakan.
Pak Slamet, seorang pria paruh
baya dengan wajah yang terukir oleh waktu dan sorot mata yang tajam, menemui
saya di sebuah sudut yang remang-remang di luar kompleks utama Lawang Sewu.
Tanpa banyak basa-basi, setelah menerima "uang rokok" yang saya
berikan, beliau hanya mengangguk dan memberi isyarat agar saya mengikutinya.
Kami tidak melewati pintu masuk utama yang biasa dilalui wisatawan. Sebaliknya,
kami menyusuri sisi bangunan yang lebih gelap, menuju sebuah pintu kayu reyot
yang tampak seolah tidak pernah dibuka selama puluhan tahun.
Dengan sedikit usaha, Pak Slamet
berhasil membuka pintu itu. Suara deritnya yang melengking seolah jeritan dari
masa lalu, memecah kesunyian malam. Hembusan udara dingin dan lembap langsung
menerpa wajah saya, membawa aroma apek, debu tebal, dan sesuatu yang lain,
sesuatu yang samar namun membuat bulu kuduk meremang – seperti bau obat-obatan kuno
yang bercampur dengan aroma tanah basah. "Ini bagian gudang lama, Mas.
Dulu katanya pernah dipakai macam-macam. Saya tunggu di luar saja, jangan
lama-lama," ujar Pak Slamet dengan suara pelan, lalu berbalik dan
menghilang di kegelapan.
Saya menelan ludah, memberanikan
diri melangkah masuk. Senter di tangan saya langsung menyorot ke dalam,
memperlihatkan sebuah koridor panjang yang gelap gulita. Dinding-dindingnya
kusam, catnya mengelupas di banyak tempat, dan sarang laba-laba menggantung
seperti tirai kematian. Lantainya berdebu tebal, menunjukkan bahwa memang
jarang sekali ada kaki manusia yang melangkah di sini. Suasana seketika berubah
drastis dari area luar yang masih terawat. Di sini, aura kuno dan terabaikan
begitu kental terasa.
Setiap langkah saya terasa berat,
diiringi gema sepatu saya sendiri yang memantul di koridor sepi. Kesunyian
begitu pekat, hanya terganggu oleh suara napas saya yang mulai memburu dan
detak jantung yang terasa hingga ke telinga. Saya merasa seperti masuk ke dalam
sebuah kapsul waktu, terlempar ke masa di mana penderitaan mungkin pernah
menjadi pemandangan sehari-hari di lorong ini. Saya terus berjalan, lebih dalam
lagi, mengikuti intuisi dan secercah harapan untuk menemukan bukti dari legenda
yang saya kejar.
Semakin jauh saya melangkah,
semakin kuat pula perasaan diawasi. Bukan oleh Pak Slamet, saya yakin beliau
sudah jauh. Ini adalah perasaan lain, sesuatu yang dingin dan menusuk. Saya
mencoba mengabaikannya, fokus pada tujuan saya. Di kiri dan kanan koridor,
terdapat beberapa pintu kayu yang tertutup rapat, beberapa bahkan sudah rusak
engselnya. Saya bertanya-tanya, ruangan apa yang ada di baliknya? Apakah di
sanalah jiwa-jiwa yang hilang itu pernah meringkuk dalam kesendirian dan
keputusasaan?
Dengan tangan sedikit gemetar,
saya memberanikan diri membuka salah satu pintu kayu yang tampak paling rapuh.
Pintu itu terbuka dengan derit yang lebih keras dari sebelumnya, seolah
memprotes gangguan saya. Sinar senter saya langsung menyapu isi ruangan yang
tidak terlalu besar. Debu tebal menyelimuti segalanya. Di tengah ruangan,
samar-samar terlihat sebuah dipan besi tua yang sudah berkarat parah, tanpa
kasur, hanya menyisakan kerangka dingin yang bisu.
Namun, bukan dipan itu yang
menarik perhatian saya. Di salah satu sudut dinding yang lembap, saya melihat
sesuatu yang membuat darah saya berdesir. Ada beberapa pengait besi yang
tertanam kuat di dinding, posisinya setinggi pinggang dan pergelangan kaki
orang dewasa. Untuk apa pengait ini? Imajinasi saya langsung liar. Apakah ini
digunakan untuk merantai mereka yang dianggap berbahaya atau sulit
dikendalikan? Gambaran pasien-pasien yang meronta dalam kungkungan rantai besi
langsung terlintas di benak saya, mengirimkan rasa ngilu yang aneh.
Saya beralih ke ruangan lain.
Ruangan ini lebih kecil, lebih mirip sel isolasi. Tidak ada perabotan sama
sekali, hanya dinding-dinding kosong yang dingin. Namun, ketika saya
menyorotkan senter ke permukaan dinding, saya menemukan sesuatu yang lain. Ada
banyak sekali coretan-coretan samar, sebagian besar sudah pudar dimakan waktu
dan kelembapan. Ada goresan-goresan garis tak beraturan, lingkaran-lingkaran
yang tumpang tindih, dan beberapa kata yang sulit terbaca dalam ejaan lama.
Satu kata yang cukup jelas terbaca adalah "LILA...", diikuti coretan
yang tidak jelas, seolah nama yang tak selesai ditulis atau sengaja dirusak.
Di ruangan lain, saya menemukan
tumpukan kain-kain butut yang sudah lapuk, mungkin sisa-sisa pakaian atau
selimut. Ada juga pecahan-pecahan beling dari botol-botol kecil berwarna gelap,
yang saya duga adalah botol obat-obatan zaman dulu. Setiap penemuan kecil ini
seolah menjadi kepingan puzzle yang menyusun gambaran suram tentang apa yang
pernah terjadi di tempat ini. Penderitaan, keputusasaan, dan kesepian terasa
begitu kental menguar dari setiap sudut, dari setiap benda mati yang menjadi
saksi bisu.
Saya terus merekam semua yang
saya lihat dengan kamera, meskipun tangan saya mulai sedikit bergetar. Rasa
takut mulai bercampur dengan rasa iba yang mendalam. Jika legenda ini benar,
maka tempat ini adalah penjara bagi jiwa-jiwa yang sakit, yang mungkin tidak
mendapatkan perawatan yang layak, melainkan hanya diisolasi dan dilupakan. Saya
mulai ragu, apakah pencarian saya ini benar? Apakah saya hanya mengusik
ketenangan mereka yang sudah lama menderita? Namun, rasa penasaran seorang
Rizky masih lebih dominan, mendorong saya untuk terus melangkah, mencari lebih
banyak jawaban.
Seiring dengan semakin dalamnya
saya menjelajahi area terlarang ini, indera pendengaran saya mulai menangkap
hal-hal yang tidak biasa. Awalnya hanya suara gemerisik halus, yang saya pikir
tikus atau serangga. Namun lama-kelamaan, suara itu menjadi lebih jelas, lebih
spesifik, dan jelas bukan berasal dari hewan. Saya mulai mendengar suara
rintihan pelan, sangat pelan, seolah datang dari balik dinding atau dari ujung
koridor yang gelap. Suara itu begitu menyayat, penuh kepedihan.
Saya berhenti sejenak, mematikan
senter untuk mempertajam pendengaran. Dalam kegelapan total, suara-suara itu
menjadi lebih intens. Ada suara seperti orang menangis tertahan, sesenggukan
yang putus-putus. Lalu, ada bisikan-bisikan samar, seperti beberapa orang
sedang bercakap-cakap dengan suara sangat rendah, namun saya tidak bisa
menangkap satu katapun dengan jelas. Bahasa apa yang mereka gunakan? Atau itu
hanya imajinasi saya yang mulai bermain-main karena suasana yang mencekam?
Kamera DSLR yang saya pegang
tiba-tiba mulai bertingkah aneh. Layar LCD-nya berkedip-kedip beberapa kali,
lalu mati total, padahal indikator baterai masih menunjukkan daya yang cukup.
Saya mencoba menyalakannya kembali, namun gagal. Kepanikan mulai menjalar.
Kamera ini adalah satu-satunya alat dokumentasi saya, dan kini ia tak
berfungsi. Apakah ini hanya kebetulan teknis, atau ada "sesuatu" yang
tidak ingin direkam?
Saya mengandalkan senter dan
telinga saya. Suara rintihan itu kini terdengar lebih dekat, seolah berasal
dari salah satu ruangan di sebelah saya. Saya memberanikan diri mendekati pintu
ruangan tersebut, menempelkan telinga saya ke kayu lapuknya. Benar saja, suara
tangisan wanita terdengar lebih jelas dari sana, diselingi kata-kata yang tidak
saya mengerti. Jantung saya berdegup kencang. Apakah ada orang lain di sini?
Tapi itu tidak mungkin, Pak Slamet ada di luar, dan area ini terasa begitu
terisolasi.
Tiba-tiba, dari arah belakang
saya, terdengar suara langkah kaki yang diseret. Deg! Saya langsung membalikkan
badan, menyorotkan senter ke koridor yang tadi saya lewati. Kosong. Tidak ada
siapa-siapa. Namun saya yakin sekali mendengar suara itu. Bulu kuduk saya
meremang hebat. Perasaan diawasi yang tadi hanya samar, kini menjadi begitu
nyata dan menekan. Saya merasa tidak sendirian lagi, dan "mereka"
mulai menunjukkan keberadaannya.
Ketegangan mencapai puncaknya.
Udara di sekitar saya terasa semakin dingin, menusuk hingga ke tulang. Aroma
apek yang tadi tercium kini bercampur dengan bau anyir yang samar, membuat
perut saya mual. Saya memutuskan untuk tidak lagi mencoba membuka pintu-pintu
ruangan. Cukup sudah. Saya harus segera keluar dari sini. Namun, ketika saya
baru saja berbalik untuk kembali ke jalan keluar, dari ujung koridor yang gelap
di depan saya, sesuatu menarik perhatian.
Sinar senter saya yang sedikit
bergetar menangkap pergerakan. Awalnya hanya bayangan hitam yang melintas
cepat. Saya terpaku, menahan napas. Lalu, perlahan-lahan, dari kegelapan itu,
muncul sebuah sosok. Sosok wanita dengan rambut panjang yang acak-acakan
menutupi sebagian wajahnya. Pakaiannya tampak seperti gaun rumah sakit kuno
yang sudah compang-camping dan kotor. Ia berdiri diam di sana, di batas cahaya
senter saya, hanya sekitar sepuluh meter di depan.
Saya tidak bisa melihat wajahnya
dengan jelas, namun saya bisa merasakan tatapan kosong yang seolah menembus
kegelapan, tertuju lurus ke arah saya. Tubuhnya sedikit membungkuk, dan
tangannya terkulai lemas di sisi tubuh. Tidak ada suara, hanya keheningan yang
mencekam di antara kami. Waktu seolah berhenti. Saya ingin berteriak, tapi
suara saya tercekat di tenggorokan. Kaki saya terasa seperti terpaku di lantai,
tak bisa digerakkan.
Sosok itu kemudian bergerak
perlahan, sangat perlahan, maju satu langkah ke arah saya. Gerakannya kaku,
seperti boneka yang rusak. Saat itulah saya melihat pergelangan tangannya yang
kurus, ada bekas seperti lilitan atau ikatan yang menghitam. Sekelebat bayangan
tentang pengait besi di dinding ruangan tadi melintas di benak saya. Apakah ini
salah satu dari mereka? Salah satu jiwa yang pernah terkurung dan menderita di
sini?
Tiba-tiba, ia mengangkat
kepalanya sedikit, memperlihatkan sepasang mata yang kosong namun memancarkan
kesedihan yang tak terperi. Lalu, dengan sangat cepat, ia menghilang, seolah
ditelan kembali oleh kegelapan pekat di ujung koridor. Hanya meninggalkan saya
yang berdiri mematung, dengan jantung yang serasa mau copot dan napas yang
tersengal-sengal. Saya tahu, itu bukan ilusi. Itu adalah penampakan. Dan
"mereka" tidak senang dengan kehadiran saya yang mengusik ketenangan
mereka.
Penampakan sosok wanita itu
menjadi batas akhir keberanian saya. Saya tidak peduli lagi dengan riset atau
pembuktian legenda. Yang ada di pikiran saya hanyalah bagaimana caranya keluar
dari tempat terkutuk ini secepat mungkin. Tanpa berpikir panjang, saya
membalikkan badan dan berlari sekuat tenaga menyusuri koridor gelap tempat saya
datang tadi. Suara sepatu saya menggema keras, memecah kesunyian yang kini
terasa semakin mengancam.
Saya merasa ada sesuatu yang
mengikuti di belakang. Bukan suara langkah kaki, tapi lebih seperti hawa dingin
yang terus mengejar, dan bisikan-bisikan yang kini terdengar lebih jelas di
telinga saya, memanggil-manggil nama yang bukan nama saya, atau mungkin nama
saya tapi dengan lafal yang aneh. Saya tidak berani menoleh. Saya hanya terus
berlari, dengan senter yang bergoyang-goyang liar, menciptakan
bayangan-bayangan menakutkan di dinding-dinding kusam.
Beberapa kali saya hampir
tersandung benda-benda yang tak terlihat di lantai yang gelap. Napas saya
terengah-engah, dada terasa sesak. Pintu keluar yang tadi dibuka Pak Slamet
terasa begitu jauh. Setiap belokan koridor terasa seperti labirin tanpa ujung.
Saya berdoa dalam hati, memohon perlindungan Allah dari apa pun yang mengejar
saya. Rasa panik sudah menguasai seluruh diri saya.
Akhirnya, setelah perjuangan yang
terasa seperti selamanya, saya melihat secercah cahaya remang dari pintu
keluar. Dengan sisa tenaga yang ada, saya menerobos pintu itu dan terhempas
keluar, kembali ke udara malam yang, meskipun dingin, terasa jauh lebih segar
dan aman dibandingkan di dalam tadi. Pak Slamet yang masih menunggu dengan
setia, tampak kaget melihat kondisi saya yang pucat pasi dan berkeringat deras.
"Sudah saya bilang, Mas. Jangan macam-macam di dalam," ujarnya pelan,
dengan nada prihatin.
Saya tidak bisa berkata apa-apa,
hanya mengangguk lemah. Malam itu, saya pulang dengan perasaan campur aduk
antara lega, takut, dan trauma. Kamera saya tetap tidak bisa menyala, seolah
semua bukti visual sengaja dihapus. Pengalaman di sayap terlupakan Lawang Sewu
itu meninggalkan bekas yang mendalam. Saya tidak lagi memandang Lawang Sewu
hanya sebagai bangunan bersejarah yang megah, tapi juga sebagai tempat
peristirahatan jiwa-jiwa yang mungkin belum menemukan kedamaian. Pertanyaan
tentang kebenaran "Rumah Sakit Jiwa Lawang Sewu" itu mungkin tidak
pernah terjawab tuntas, namun saya mendapatkan sesuatu yang lebih: pelajaran
tentang batas keberanian dan rasa hormat terhadap dunia lain.
Dalam perspektif ajaran Islam,
keberadaan jin sebagai makhluk ciptaan Allah adalah sebuah keniscayaan,
sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran. Jin hidup di alamnya sendiri, namun
dapat berinteraksi dan bahkan mengganggu kehidupan manusia. Penampakan atau
gangguan gaib seperti yang dialami Rizky bisa jadi merupakan ulah dari jin-jin
jahat atau arwah penasaran (dalam konteks jin yang menyerupai) yang mendiami
tempat-tempat sepi dan memiliki sejarah kelam seperti Lawang Sewu. Gangguan jin
juga diyakini dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, bahkan hingga
menyebabkan apa yang tampak seperti gangguan jiwa, meskipun tentu saja gangguan
jiwa juga memiliki penjelasan medisnya sendiri. Islam mengajarkan untuk
senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan dan jin dengan
memperbanyak zikir, membaca ayat-ayat suci Al-Quran, serta menjaga kebersihan
lahir dan batin.
Kisah yang dialami Rizky ini
mengandung banyak hikmah dan pelajaran moral. Pertama, ia mengingatkan kita
akan pentingnya menghormati setiap tempat, terutama yang memiliki sejarah
panjang dan mungkin menyimpan kisah-kisah penderitaan. Mengusik ketenangan
"penunggu" atau aura negatif yang tersisa di tempat tersebut tanpa
persiapan iman dan mental yang kuat dapat berakibat fatal. Kedua, rasa penasaran
yang berlebihan tanpa dibarengi dengan kehati-hatian dan pengetahuan yang cukup
bisa menjerumuskan kita ke dalam bahaya. Keberanian sejati bukanlah tentang
menantang hal-hal gaib, melainkan tentang mengendalikan diri dan hawa nafsu.
Ketiga, kisah ini secara tidak langsung
menyentuh sisi kemanusiaan kita. Jika memang benar ada jiwa-jiwa yang pernah
menderita di tempat itu, baik karena penyakit kejiwaan maupun perlakuan tidak
manusiawi, maka sudah selayaknya kita mendoakan mereka agar mendapatkan
ketenangan, bukan malah mengeksploitasi kisah mereka untuk sensasi semata.
Keempat, pengalaman Rizky menjadi pengingat bahwa ada batasan antara dunia kita
dan dunia gaib yang sebaiknya tidak dilanggar sembarangan. Perlindungan utama
kita adalah iman dan ketakwaan kepada Allah, serta adab yang baik di manapun
kita berada.
Pelajaran moral yang bisa kita
ambil adalah untuk selalu menjaga sikap, tidak sombong, dan tidak meremehkan
hal-hal yang berada di luar jangkauan pemahaman kita. Pentingnya untuk selalu
berdoa memohon perlindungan Allah sebelum memasuki tempat baru atau melakukan
sesuatu yang berisiko. Selain itu, kisah ini juga menyadarkan kita bahwa di
balik kemegahan sebuah bangunan atau cerita sejarah, ada lapisan-lapisan kisah
manusia, termasuk penderitaan dan kesedihan, yang patut kita renungkan dan
hormati. Kewarasan adalah nikmat besar dari Allah yang harus dijaga, dan empati
terhadap mereka yang mungkin kehilangan nikmat tersebut juga merupakan bagian
dari kemanusiaan kita.
Demikianlah kisah ini
diceritakan, semoga dapat menghibur dan menambah wawasan, segala kebenaran
detailnya, kita kembalikan kepada Allah, Tuhan pemilik kisah kehidupan.
.png)
Komentar
Posting Komentar